Minggu, 29 Maret 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Arsip 2021

Tidak Terlalu Cepat Untuk Lailatul Qadr

by Redaktur
21/04/2021
in Arsip 2021, Opini
Reading Time: 7 mins read
A A
Tidak Terlalu Cepat Untuk Lailatul Qadr - Arsip

Purnama di Masjid Raya Makassar Ramadan 1433H / Juli 2015 Masehi (+ filter cosmic)

Perupa di kota Makassar awal tahun 90an hingga satu dekade setelah milenium baru sudah biasa dengan perkubuan, kubu senior dan junior juga kubu musiman karena berbeda pilihan politik, kubu aliran seni rupa, yang kental kubu seniman jalur akademik dan jalur otodidak.

Kubu-kubu ini biasanya lebur secara alami ketika bersentuhan dengan kepentingan yang lebih besar. Ketika perupa Sulawesi Selatan diundang pameran bersama, maka yang ada hanya satu kubu, yaitu kesamaan letak geografis di mana mereka lahir, besar, belajar, atau berkarya.

Agama Islam sebagai ilmu pengetahuan pun tidak luput dari dikotomi jalur akademik (juga nasab) dan jalur otodidak. Batas antara jalur-jalur tersebut lebih cair ketimbang yang dialami oleh para perupa, karena ulama kitab maupun ulama hikmah tetap saling bertukar kebaikan, hikmah dan pelajaran dengan kesamaan perspektif, semua yang baik-baik asalnya dari Allah, bukan dari kitab-kitab bacaan, mubalig dan ulama panutan, yang sesekali menjadi jalan bagi ilmu dan hikmah dari Allah Ta’ala.

Lepas dari motivasi dan niat masing-masing mengapa mendalami agama Islam berikut jalan yang dipilih sendiri atau (sebenarnya) dipilihkan Tuhan, saat bertemu tujuan akhir mengapa beragama, menggapai ridha Tuhan melalui akhlakul kharimah yang membuat hidup dan diri seorang Muslim menjadi agen kasih sayang untuk alam semesta, tidak nampak lagi dulu belajar agama agar bisa meraih ridha Tuhan, dari jalur akademik atau jalur nonformal.

Meraih Lailatul Qadr atau malam yang setara 1000 bulan di tahapan ikhtiar, bisa sangat berbeda bentuknya antara yang mengenal cara meraihnya melalui jalur akademis dengan yang jalur otodidak. Kedua model ikhtiar meraih Lailatul Qadr sama baik dan sama efektif, minimal karena keduanya mendasarkan ikhtiar pada asal muasal dan tujuan mengapa ada satu malam di bulan Ramadan yang lebih baik dari seribu bulan.

Pada sebuah riwayat disebutkan baginda Nabi Muhammad Salallahualaihiwassalam mendadak berwajah murung ketika mengetahui ada umat Nabi Musa Alaihisalam dari Bani Israil yang selama 80 tahun sanggup tidak berbuat maksiat dan dosa, di malam hari ia sibuk beribadah formal, di siang hari ia berjihad dengan urusan-urusan duniawi dengan membuat aktivitasnya bernilai ibadah. Melihat kekasih-Nya berwajah murung, Allah lalu memberi tahu baginda Nabi Muhammad Salallahualaihiwassalam bahwa umatnya, umat muslim, juga mampu meraih apa yang telah diraih oleh seorang Bani Israil tersebut, dengan menghadiahkan malam Lailatul Qadr yang bernilai lebih baik dari beribadah selama seribu bulan, adanya di bulan Ramadan. Kapan tepatnya malam Lailatul Qadr sebenarnya tidak ingin Allah rahasiakan. Namun, ketika akan disampaikan kepada Baginda Nabi, beberapa sahabat tengah berdebat dan berselisih paham, petunjuk konkret pun urung diberikan. Tidak putus asa, agar umatnya yang kerap disebut sebagai umat akhir zaman mampu meraih apa yang telah diraih oleh seorang Bani Israil selama 80 tahun istikamah, dalam waktu hanya semalam, Beliau Salallahualaihiwassalam mendapat ‘kisi-kisi’ adanya di malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Lebih terperinci lagi, antara malam 25, 27, dan 29 Ramadan setelah Rasulullah bermimpi ketika malam penuh kemuliaan itu tiba, wajahnya dipenuhi lumpur. Benar saja, di salah satu malam tersebut hujan turun dengan deras, dan wajah Beliau Salallahualaihiwassalam dipenuhi lumpur tanah masjid tempat Beliau sujud.

Secara rasa, wajar saja malamnya dirahasiakan, wong ahli ibadah dari Bani Israil butuh 80 tahun atau sekitar 960 bulan sebelum dibangga-banggakan Allah sebagai umat Musa yang saleh, kita yang diberi banyak kemudahan berkat kasih sayang Allah melalui kekasih-Nya Muhammad, sampai semua bisa masuk surga kecuali yang tidak mau, berburu semalam dari 30 malam tanpa kepastian kapan demi meraih keutamaan beribadah selama 1000 bulan, bukanlah sesuatu yang memberatkan. Harusnya.

Kami pernah mendengar penuturan dua orang yang kami yakini telah bertemu Lailatul Qadr, dan syukurnya keduanya menempuh jalan yang berbeda, satu mengikuti cara-cara akademis, dan satunya lagi dengan cara otodidak bermodalkan niat Wallahi, yang niat tersebut diakuinya juga datangnya dari Allah.

Kawan kami yang pertama, sebulan sebelum Ramadan tiba bahkan lebih lama lagi, sudah mulai melakukan sinkronisasi lahir dan batin. Menjaga asupan makanan dan minuman hanya yang baik sumber dan zatnya, begitu pula yang keluar dari tangan, lisan dan tulisannya, hanya yang baik dan bermanfaat. Infak, sedekah, puasa Rajab, Nisfu Sya’ban, salat lail dan tahajud semua ia laksanakan. Semakin intens saat memasuki bulan suci Ramadan. Di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, ia tak menyebut kapan tepatnya, seperti biasa usai salat Tarawih ia tidur sedikit sebelum bangun di sepertiga malam, melanjutkan amaliah Ramadan dengan salat tahajud. Alarm biologis membuatnya terbangun sekitar pukul satu malam.

Saat membuka mata, langit-langit dan atap rumahnya tidak ada, berganti langit malam penuh bintang bertaburan. Angin malam lembut dan sejuk membelai, membuatnya semakin bingung, apakah ia sedang bermimpi atau tidak. Sejurus kemudian dari langit ia melihat perlahan turun benang-benang cahaya, ratusan, ribuan, mungkin jutaan menjuntai dan membelai seluruh tubuhnya mengajak keluar dari selimut, bangkit dan menunaikan salat tahajud. Kawan kami yang mahir bertutur lisan dan tulisan dan memiliki kosa kata di atas rata-rata, menuturkan pengalaman bertemu malam 1000 bulan dengan indah, toh tetap menganggap keindahan pengalamannya malam itu tidak akan pernah mampu terangkum oleh kata. Wallahualam.

Kawan kami berikutnya, jika memakai kaca mata atau perspektif sebagian agamawan jalur akademik, sungguh tidak pantas meraih malam 1000 bulan. Syukurnya, cara Allah memandang manusia berbeda dengan cara kita pada umumnya, bersih dan lurusnya niat kerap kali lebih mampu mengantar menuju salat yang khusyuk ketimbang kesempurnaan bacaan dan gerakan.

Meski tidak menganggap pengalamannya tersebut sebagai pertemuan dengan malam 1000 bulan, kami beranggapan tidak demikian. Ia membantah, karena puasanya tidak sempurna, tarawihnya tidak lengkap, dan kejadian tersebut ia alami di siang hari. Kami menganggapnya bertemu malam 1000 bulan yang datang kesiangan untuknya dengan dua bukti. Pertama ia tidak sedang dalam keadaan berselisih paham atau bermusuhan dengan siapa pun, sebab petunjuk kapan tepatnya Lailatul Qadr itu turun urung disampaikan. Bukti kedua, peristiwa tersebut membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, belum sampai ke akhlakul karimah atau akhlak mulia, tetapi ada satu hal yang menjadi persamaan antara kawan kami yang pertama dengan dirinya, setiap kejadian sudah dengan sepengetahuan Allah Ta’ala, sekali pun berupa duka, derita, nestapa dan musibah, tidak menutup mata hatinya melihat sisi baik dari setiap ketetapan Allah. Cara pandang dan sikap yang rasa-rasanya hanya mampu dipahami dan diamalkan oleh para ahli ibadah yang puluhan tahun tidak lagi bermaksiat. Malamnya beribadah formal, siangnya jihad Fisabilillah bermuamalah, toh tetap mendapatkan ujian tanda perhatian dari Allah dan tetap mampu berbaik sangka.

Pada suatu siang yang terik di bulan Ramadan, sepulang dari tempat kerja, ban sepeda motornya bocor oleh paku. Qadarullah ia harus mendorong sepeda motor sembari berpuasa di bawah terik matahari tengah hari bolong. Setelah mendorong sekitar setengah jam, akhirnya bertemu bengkel tambal ban. Saat sedang menimbang-nimbang apakah akan ke warung sebelah membeli sebotol air mineral dingin atau melanjutkan puasa di bawah atap seng bengkel tambal ban yang membuat suhu udara semakin panas, tampak seorang bapak tua melintas di seberang jalan. Tanpa alas kaki menyusuri aspal panas, gelombang udara panas membuat fatamorgana berupa riak air di atasnya. Bergegas ia menyongsong si bapak, mengangsurkan sendal jepit berdebu sehabis mendorong sepeda motor, tetapi masih baru dan bagus.

“Berapa harganya? Kalau cuma sendal bekas saya mampu beli.” Jawabnya setelah melihat sepasang alas kaki yang diangsurkan kepadanya.

“Gratis.”

“Karena kasihan atau karena apa?”

“Lillahi Ta’ala, saya sedang berpuasa, bantu saya berbuat baik.”

Bapak itu tertawa terkekeh-kekeh berterima kasih lalu mengambil sepasang sendal yang kemudian ia pakai melangkah, kembali menyusuri aspal panas.

BACA JUGA:

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

Kementerian ESDM Pastikan Keandalan Pasokan Listrik Sulawesi Jelang Ramadan & Idul Fitri 1447 H

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

Esai Ramadan #27: Jelang Perpisahan dengan Tamu yang Memuliakan

Satu kebaikan mengundang seribu haru yang mungkin setara dengan seribu sujud dan munajat khusyuk. Ia tidak sanggup menahan serbuan haru yang membongkar dan memasang ulang cara pandang pikiran dan perasaannya terhadap materi, kebahagiaan dan sumber kebahagiaan. Wallahualam.

Kami sendiri saat ini sedang ‘berburu’ malam 1000 bulan sejak hari pertama, ketimbang membayangkan wajah murung Baginda Nabi Muhammad Salallahualaihiwassalam adakah umatnya yang sanggup 80 tahun tanpa maksiat yang semua aktivitasnya bernilai ibadah sementara usia umatnya rata-rata 60an tahun, mending 30 hari berusaha tidak menyia-nyiakan peluang.

Walau belum seistikamah kawan kami yang pertama dan mungkin saja mendapat kesempatan seperti kawan kami yang kedua. Dapat atau pun tidak, suka-suka Allah Ta’ala. Namun, ada satu hal yang bisa diusahakan sendiri dan pasti dihargai Allah andai belum berjodoh dengan malam 1000 bulan, yaitu buah dari beribadah dan jihad Fisabilillah selama 1000 bulan berupa akhlak mulia menebar manfaat dan kasih sayang pada alam semesta.

Tags: Lailatul QadrRamadanTepekur
Share5Tweet3Send
Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger

ARTIKEL TERKAIT

Tidak Terlalu Cepat Untuk Lailatul Qadr - Featured

Selamat Jalan, Pak Umar

23/03/2026
Tidak Terlalu Cepat Untuk Lailatul Qadr - Featured

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

19/03/2026
Tidak Terlalu Cepat Untuk Lailatul Qadr - Featured

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

18/03/2026
Tidak Terlalu Cepat Untuk Lailatul Qadr - Featured

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

17/03/2026
Tidak Terlalu Cepat Untuk Lailatul Qadr - Featured

Esai Ramadan #27: Jelang Perpisahan dengan Tamu yang Memuliakan

16/03/2026
Tidak Terlalu Cepat Untuk Lailatul Qadr - Featured

Esai Ramadan #26: Zakat yang Melampaui Angka

14/03/2026
Tidak Terlalu Cepat Untuk Lailatul Qadr - Featured

Esai Ramadan #25: Pulang ke Fitrah dan Laundry Pakaian Jiwa

14/03/2026
Tidak Terlalu Cepat Untuk Lailatul Qadr - Featured

Esai Ramadan #24: Oase di Tengah Gurun dan Rahasia Rasa Cukup

13/03/2026

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Tidak Terlalu Cepat Untuk Lailatul Qadr - Featured

    Selamat Jalan, Pak Umar

    27 shares
    Share 11 Tweet 7
  • Macet Parah GT Parungkuda Tol Bocimi H+3 Idulfitri 2026: Kendaraan Nyaris Tak Bergerak

    21 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Ikatek Business Forum 2026: Ratusan Pengusaha Alumni Teknik Unhas Berkumpul di Makassar untuk Sinergi Bisnis

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Hindari Puncak Arus Balik Lebaran 2026: Kemenhub Imbau Pemudik Pulang Lebih Awal atau Tunda

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • Mudik Lebaran 2026: 4,41 Juta Penumpang Terbang, Soekarno-Hatta Paling Sibuk

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • Mengapa Laptop Lawas, Macbook Pro 2014 13 inch Masih Banyak Dicari

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Veda Ega Pratama Ukir Sejarah: Pembalap Indonesia Pertama Podium Moto3 Brasil 2026

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

    26 shares
    Share 10 Tweet 7
  • Makassar dan Yokohama Berkolaborasi Menuju Kota Nol Karbon: Fokus pada Transportasi dan Energi

    21 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

    103 shares
    Share 41 Tweet 26
Tidak Terlalu Cepat Untuk Lailatul Qadr - Featured

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

Tidak Terlalu Cepat Untuk Lailatul Qadr - Featured
Fashion & Kecantikan

Bosan Jomblo atau Hubungan Terasa Hambar? Pikat dengan 4 Parfum “Date Night” Menggoda Ini

29/11/2025
Tidak Terlalu Cepat Untuk Lailatul Qadr - Featured
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kilau Rambut Jisoo Bukan Cuma Alat Mahal! 4 “Serum Ajaib” Wajib Punya untuk Lindungi Rambut dari Panas

29/11/2025
Tidak Terlalu Cepat Untuk Lailatul Qadr - Featured
Gadget

Jisoo BLACKPINK dan Dyson: Rahasia Rambut Sehat Berkilau

21/11/2025
Tidak Terlalu Cepat Untuk Lailatul Qadr - Featured
Gaya Hidup

Jeda di Tengah Badai: Tiga Kompas Batin untuk Mengarungi Gelombang Hidup

20/11/2025
Tidak Terlalu Cepat Untuk Lailatul Qadr - Featured
Gaya Hidup

Ancaman Senyap di Meja Kerja: Hindari 5 Kebiasaan Buruk WFH Ini Demi Kesehatan Anda

21/11/2025
Tidak Terlalu Cepat Untuk Lailatul Qadr - Featured
Otomotif

Ancaman Mogok Akibat Aki Lemah di Musim Hujan: Kenapa Perawatan Mandiri Mobil LCGC Jadi Krusial?

16/11/2025
Tidak Terlalu Cepat Untuk Lailatul Qadr - Featured
Gadget

Insta360 GO 3S Hadir dengan Video 4K dan Dukungan Apple Find My

25/07/2024
Tidak Terlalu Cepat Untuk Lailatul Qadr - Featured
Gaya Hidup

Aroma yang Tak Terlupakan: Rahasia Kepercayaan Diri Pria Modern

02/12/2025
Tidak Terlalu Cepat Untuk Lailatul Qadr - Featured
Gadget

Hacker Gunakan AI Claude Code untuk Serangan Otonomus

14/11/2025
Tidak Terlalu Cepat Untuk Lailatul Qadr - Featured
Fashion & Kecantikan

Kenapa Parfum Anda Tidak Meninggalkan Kesan? (Dan Cara Mengatasinya)

16/11/2025
Tidak Terlalu Cepat Untuk Lailatul Qadr - Featured
Fashion & Kecantikan

Parfum Mahal Tapi Cepat Hilang Kena Keringat? 4 Rekomendasi Parfum “Anti-Gerah” Tahan Lama di Cuaca Indonesia

30/11/2025
Tidak Terlalu Cepat Untuk Lailatul Qadr - Featured
Gaya Hidup

Cara agar Hidup Anak Kost Lebih Tenang di Dapur dan Rumah

22/11/2025
Tidak Terlalu Cepat Untuk Lailatul Qadr - Featured
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.