Wartakita.id, SUMATERA – Siklon Tropis Senyar menerjang Sumatera. Bencana ini memicu banjir bandang dan longsor parah. Akibatnya, 442 orang dilaporkan meninggal dunia. Ribuan lainnya masih hilang dan terdampak.
Peristiwa ini terjadi di tiga provinsi: Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Siklon Senyar berevolusi dari bibit siklon 95B. Fenomena ini bergerak menjauh ke arah Malaysia. Namun, dampaknya masih sangat terasa di daratan Sumatera.
Korban Jiwa dan Hilang Mencapai Ratusan
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data terbaru. Hingga siang ini, total korban jiwa mencapai 442 orang. Angka ini tersebar di tiga provinsi terdampak.
- Sumatera Utara mencatat 166 korban jiwa.
- Sumatera Barat melaporkan 132 korban jiwa.
- Aceh mencatat 47 korban jiwa.
Jumlah korban hilang juga signifikan. Data BNPB mencatat 402 orang belum ditemukan. Pencarian terus dilakukan oleh tim gabungan. Sebanyak 28 helikopter dikerahkan untuk operasi ini.
- Sumatera Utara: 143 orang hilang.
- Sumatera Barat: Lebih dari 200 orang hilang.
- Aceh: 51 orang hilang.
Ribuan Warga Mengungsi, Infrastruktur Rusak Parah
Lebih dari 200.000 jiwa terdampak langsung oleh siklon ini. Mereka mengalami kerugian materiil dan terpaksa mengungsi. Di Aceh saja, 119.998 warga terdampak.
Di Padang, Sumatera Barat, sekitar 31.845 warga terdampak. Total 20.759 orang kini mengungsi di 50 lebih posko darurat. Mereka membutuhkan bantuan segera.
Kerusakan infrastruktur juga meluas. Lebih dari 5.000 rumah dilaporkan rusak atau hanyut terbawa banjir. Sebanyak 50 lebih jembatan putus. Ini termasuk akses penting di Jalan Lintas Sumatera.
Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai Rp6,53 miliar di Sumatera Barat. Angka ini masih bisa bertambah seiring pendataan lebih lanjut.
Respons Cepat Pemerintah dan Peringatan BMKG
Pemerintah menetapkan status darurat bencana di tiga provinsi. Status ini berlaku hingga 11 Desember 2025. Tujuannya untuk mempercepat penanganan dan pemulihan.
Operasi modifikasi cuaca dilakukan untuk mengurangi intensitas hujan. Komunikasi di daerah terisolasi dipulihkan menggunakan teknologi Starlink. Evakuasi kelompok rentan menjadi prioritas utama.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan. Potensi hujan lebat masih ada hingga 3 Desember 2025. Ini disebabkan oleh sisa-sisa Siklon Senyar yang berpotensi menguat lagi.
Data ini dihimpun dari BNPB dan laporan lapangan per 1 Desember 2025. Situasi bencana bersifat dinamis. Masyarakat diimbau memantau informasi resmi dari pihak berwenang.























