Nasib ribuan motor listrik program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terparkir di gudang Sentul mulai menemukan titik terang. Meskipun terindikasi korupsi, Kejaksaan Agung memilih pendekatan yang tidak mengorbankan pelayanan publik.
Kejaksaan Agung Putuskan Tak Seluruhnya Sita Motor Listrik MBG
Ribuan unit motor listrik yang seharusnya menjadi tulang punggung operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menjadi sorotan publik. Ditemukan menumpuk di sebuah gudang di kawasan Sentul, Kabupaten Bogor, kendaraan ini menjadi bagian dari proyek bernilai fantastis yang kini tengah diusut oleh Kejaksaan Agung atas dugaan korupsi.
Namun, penegakan hukum dalam kasus ini dipastikan tidak akan mengorbankan aspek pelayanan publik. Kejaksaan Agung menyatakan bahwa tidak semua unit motor listrik yang menjadi objek penyidikan akan disita sebagai barang bukti.
Fokus Penyidikan pada Proses, Bukan Jumlah Kendaraan
Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Syarief Sulaeman Nahdi, menegaskan bahwa fokus utama penyidikan adalah pada proses pengadaan yang diduga sarat penyimpangan, bukan pada jumlah kendaraan yang berhasil diadakan.
“Tidak harus semua menjadi barang bukti. Apalagi ini merupakan pelayanan ya, kami tidak akan melakukan penyitaan terhadap seluruh barang bukti sepeda motor,” ujar Syarief dalam konferensi pers di Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta, Jumat (12/6/2026).
Menurut Syarief, yang paling krusial bagi penyidik adalah dokumen, jejak administrasi, dan rangkaian proses pengadaan itu sendiri. Hal-hal tersebutlah yang akan mengungkap bagaimana dugaan penyimpangan terjadi.
“Kami hanya membutuhkan jejak-jejak langkah pengadaan ini, sehingga tidak perlu semua motor itu akan dilakukan penyitaan,” tambahnya.
Ribuan Motor Masih Baru di Gudang Sentul
Keberadaan motor-motor listrik tersebut menarik perhatian luas setelah terungkapnya penumpukan ribuan unit di sebuah gudang kawasan industri Sentul. Syarief membenarkan bahwa sebagian besar kendaraan yang menjadi objek penyidikan memang masih berada di lokasi tersebut.
Peninjauan langsung oleh tim Kompas.com pada awal Juni lalu menunjukkan ribuan motor listrik berwarna biru-hitam terparkir rapi di bawah naungan jaring terpal hitam. Kondisi kendaraan tampak baru, masih terbungkus plastik pelindung bodi, dan logo Badan Gizi Nasional masih terpasang jelas, mengindikasikan bahwa motor-motor tersebut belum sepenuhnya didistribusikan untuk operasional.
Proyek Rp 1 Triliun Diduga Sarat Penyimpangan
Motor listrik yang kini tersimpan di Sentul merupakan bagian dari proyek pengadaan 21.801 unit kendaraan listrik untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis. Proyek senilai sekitar Rp 1 triliun ini menjadi sorotan setelah Kejaksaan Agung menemukan indikasi penggelembungan harga (mark-up) dan berbagai dugaan pelanggaran dalam prosesnya.
Distribusi Akan Tetap Dilanjutkan untuk Mendukung Layanan
Kejaksaan Agung berkomitmen agar proses penyidikan tidak menghambat pelayanan kepada masyarakat. Untuk itu, penyidik akan berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) agar motor-motor yang masih menumpuk segera dimanfaatkan sesuai kebutuhan lapangan.
“Sehingga kami akan dorong juga bekerja sama dengan BGN untuk segera menuntaskan proses distribusi terhadap motor-motor tersebut,” kata Syarief.
Kondisi saat ini menunjukkan bahwa mayoritas kendaraan belum sampai ke lokasi tujuan yang menjadi sasaran awal pengadaan, kecuali sebagian kecil yang sudah terdistribusi ke masyarakat dan dapur-dapur MBG.
Vendor Menjadi Tersangka, Dugaan Mark-Up Diusut Tuntas
Dalam perkembangan kasus ini, Kejaksaan Agung telah menetapkan Komisaris PT YAT, Andri Mulyono, sebagai tersangka. Penyidik menduga tersangka terlibat dalam berbagai tindakan melawan hukum, mulai dari komunikasi sebelum proses resmi, pengondisian proyek, hingga praktik penggelembungan harga.
Lebih lanjut, Kejagung juga menduga pembayaran proyek dicairkan 100 persen berdasarkan dokumen serah terima yang dimanipulasi, padahal kendaraan yang diserahkan tidak sepenuhnya sesuai spesifikasi kebutuhan dan standar BGN.
Kasus ini terus bergulir, menyoroti pentingnya akuntabilitas dalam program unggulan pemerintah yang berfokus pada pemenuhan gizi masyarakat. Sementara proses hukum berlanjut, ribuan motor listrik di Sentul menunggu kelanjutan nasibnya, apakah akan segera didistribusikan atau menjadi monumen mahal dari proyek yang terjerat dugaan korupsi bernilai triliunan rupiah.






















