Sebuah poster penolakan berjudul “Masyarakat Makassar Menolak Kedatangan Dandhy Dwi Laksono” beredar menjelang Makassar International Writers Festival (MIWF) 2026, menimbulkan polemik mengenai kebebasan berekspresi dan penerimaan terhadap perbedaan pandangan di kota ini.
Kontroversi di Balik MIWF 2026: Poster Penolakan Dandhy Dwi Laksono
Festival Makassar International Writers Festival (MIWF) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 15-17 Mei 2026 di Benteng Rotterdam, Makassar, mendadak diramaikan oleh beredarnya poster penolakan terhadap salah satu panelisnya, jurnalis dan sineas Dandhy Dwi Laksono. Poster tersebut secara tegas menyatakan “Masyarakat Makassar Menolak Kedatangan Dandhy Dwi Laksono”. Penolakan ini, menurut informasi yang beredar, dikaitkan dengan film dokumenter karya Dandhy yang berjudul “Pesta Babi”. Film tersebut dinilai oleh sebagian pihak mengandung narasi provokatif yang berpotensi memecah belah persatuan, khususnya terkait isu-isu di Papua. Kelompok seperti Aliansi Pemuda Sulsel dan DPD KNPI Kota Makassar disebut-sebut turut menyuarakan sikap penolakan ini.
Respons Dandhy Laksono dan Semangat Festival
Meski dihadapkan pada penolakan tersebut, Dandhy Dwi Laksono menegaskan komitmennya untuk tetap hadir di Makassar sesuai jadwal yang telah ditetapkan oleh MIWF 2026. Sikap ini menunjukkan konsistensi Dandhy terhadap partisipasinya dalam festival yang mengangkat tema “Re-co-ordinate”. MIWF 2026 sendiri merupakan festival berskala besar yang menampilkan 144 program, 247 panelis, dan 135 mitra kolaborator, termasuk nama-nama lain seperti penulis Okky Madasari. Festival ini mengusung semangat pentingnya hak asasi manusia, antikorupsi, dan konsep nirsampah, yang mencerminkan nilai-nilai universal yang relevan.
Keterkejutan Prof. Uceng: “Takut Film Bukan Karakter Bugis-Makassar”
Menanggapi polemik yang muncul, Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Gadjah Mada (UGM) yang juga merupakan putra asli Makassar, Prof. Zainal Arifin Mochtar, atau yang akrab disapa Prof. Uceng, menyatakan keterkejutan mendalam. Ia mengaku hampir tidak percaya ketika menerima informasi mengenai penolakan tersebut. “Melihat ini dikirimkan oleh seorang teman, saya nyaris nda percaya,” ungkap Prof. Uceng pada Jumat (15/5/2026).
Prof. Uceng menilai bahwa sikap takut terhadap sebuah karya film seperti dokumenter “Pesta Babi” tidak mencerminkan karakter masyarakat Bugis-Makassar yang secara historis dikenal terbuka terhadap gagasan dan perbedaan pandangan. “Sejak kapan kita takut film?” tanyanya retoris, menyiratkan bahwa kekhawatiran semacam itu tidak sesuai dengan identitas budaya masyarakat Sulsel yang ia kenal.
Ia menambahkan, sebagai putra daerah, ia sangat berharap agar polemik ini tidak sampai merusak citra Makassar yang selama ini telah terbangun sebagai kota yang terbuka bagi diskursus, dialog, dan keberagaman gagasan. Keberagaman dan keterbukaan adalah fondasi penting bagi kemajuan sebuah kota dan masyarakatnya.
MIWF 2026: Panggung Kebebasan Berekspresi dan Dialog
Makassar International Writers Festival (MIWF) 2026, yang berlangsung di Benteng Rotterdam, menjadi ajang penting yang mengundang berbagai pemikir, penulis, dan pegiat isu sosial. Dengan tema “Re-co-ordinate”, festival ini berupaya menyelaraskan kembali berbagai perspektif dan mendorong diskusi konstruktif mengenai isu-isu krusial. Kehadiran Dandhy Dwi Laksono, bersama panelis lain seperti Okky Madasari, mencerminkan komitmen festival untuk menghadirkan keragaman suara dan pemikiran, meskipun terkadang harus menghadapi perbedaan pandangan atau penolakan dari sebagian pihak.
Kontributor: H. Gunadi
Penyunting: Budi S.






















