Kepulan asap kembali menyelimuti Kalimantan pada Agustus 2026, memicu pertanyaan mendasar: mengapa sebagian lanskap di pulau ini begitu rentan terhadap api, bahkan saat fenomena El Niño menguat?
Titik Kritis Karhutla Kalimantan: El Niño dan Lanskap yang Hilang Kapasitas Menyimpan Air
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali melanda Kalimantan pada Agustus 2026, seperti halnya pada tahun-tahun sebelumnya, merupakan pengingat tajam akan kerentanan ekologis pulau ini. Fenomena El Niño yang menguat memang menjadi katalis utama, memperparah kondisi kekeringan. Namun, akar masalahnya jauh lebih dalam: lanskap yang telah kehilangan kemampuan vitalnya untuk menyimpan air, sebuah akumulasi dari praktik pengelolaan lahan selama puluhan tahun.
Analisis Data Satelit: Jejak Api di Kalimantan
Analisis data dari NASA Fire Information for Resource Management System (FIRMS), yang mengandalkan citra satelit MODIS dan VIIRS, menunjukkan peningkatan aktivitas api yang signifikan menjelang pertengahan Agustus 2026. Data dari VIIRS, dengan resolusi yang lebih presisi, secara spesifik mencatat akumulasi deteksi panas tertinggi di wilayah Kalimantan Barat, diikuti oleh Kalimantan Tengah, Timur, Selatan, dan Utara. Secara agregat, deteksi citra satelit dengan resolusi VIIRS merepresentasikan area seluas sekitar 2,24 juta hektare. Penting untuk dicatat, angka ini bukan luas lahan yang sebenarnya terbakar, melainkan representasi area yang terdeteksi memiliki anomali panas, indikator awal potensi kebakaran.
Pola Kebakaran yang Berulang: Kerugian Ekonomi dan Lingkungan
Indonesia telah berulang kali menghadapi tragedi serupa, dengan episode karhutla besar pada tahun 1997-1998, 2015, dan 2019. Setiap peristiwa tersebut menegaskan sebuah pola yang mengkhawatirkan: ketika musim kering yang diperparah oleh fenomena siklikal seperti El Niño bertemu dengan lanskap yang rentan, bencana siap terjadi. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan sangatlah masif. Kebakaran pada tahun 2015 diperkirakan merugikan perekonomian Indonesia sebesar US$16,1 miliar (setara dengan 1,9% PDB), sementara kebakaran tahun 2019 diperkirakan mencapai US$5,2 miliar (sekitar 0,5% PDB). Angka-angka ini menggarisbawahi bahwa karhutla bukanlah semata-mata bencana alam yang tak terhindarkan; ia adalah konsekuensi dari kerusakan ekologis yang persisten.
Peran Krusial Tanah Gambut dan Dampak Drainase Kanal
Salah satu faktor paling signifikan dalam kerentanan lanskap Kalimantan adalah kondisi tanahnya, terutama tanah gambut. Tanah gambut, yang secara ekstensif menutupi sekitar 4,5 juta hektare lahan di Kalimantan, memiliki fungsi ekologis yang tak ternilai sebagai penyimpan air alami. Namun, praktik pembangunan infrastruktur seperti pembuatan drainase, kanal, dan parit untuk keperluan perkebunan telah secara drastis menurunkan muka air tanah. Penurunan muka air tanah ini mempercepat proses pengeringan dan oksidasi bahan organik dalam gambut, menjadikannya sangat mudah terbakar. Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa keberadaan kanal drainase dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kebakaran hingga 4,5 kali lipat. Bahkan pada tanah mineral, kebakaran dengan intensitas tinggi mampu merusak struktur tanah, mengurangi kandungan bahan organik, dan meningkatkan sifat hidrofobik (menolak air) tanah, menciptakan sebuah lingkaran setan kerentanan yang terus berulang.
Menuju Solusi Komprehensif: Pencegahan dan Restorasi Jangka Panjang
Mengatasi karhutla secara efektif memerlukan strategi yang tidak hanya reaktif, tetapi juga proaktif dan berjangka panjang. Sebagai seorang yang telah lama berkecimpung di dunia pelaporan lingkungan dan bencana, saya melihat perlunya fokus pada akar masalah dan implementasi solusi yang berkelanjutan:
- Penegakan Hukum yang Tegas: Tindakan hukum yang tegas harus diberikan kepada para pemegang konsesi yang lalai dalam menjalankan kewajiban mereka untuk melindungi lahan dari kebakaran. Ini bukan sekadar sanksi administratif, melainkan peringatan keras bahwa kelalaian memiliki konsekuensi nyata.
- Penghentian Alih Fungsi Lahan Gambut: Konversi lahan gambut untuk berbagai keperluan harus dihentikan. Lahan gambut adalah ekosistem vital yang fungsinya tidak dapat digantikan, dan kerentanannya terhadap kebakaran menjadikannya prioritas utama untuk dilindungi.
- Restorasi Ekosistem Gambut: Upaya restorasi gambut harus diintensifkan. Ini mencakup mempertahankan ketinggian muka air gambut yang ideal, menyekat kanal-kanal yang mengeringkan gambut, dan memulihkan vegetasi asli. Berdasarkan estimasi, restorasi 2,49 juta hektare lahan gambut yang terdegradasi berpotensi menghemat kerugian akibat kebakaran hingga US$8,4 miliar.
- Sistem Peringatan Dini yang Canggih: Sistem peringatan dini harus diperkaya dengan pemantauan kelembapan tanah dan ketinggian muka air gambut secara real-time. Informasi ini krusial untuk mengidentifikasi area berisiko tinggi sebelum api benar-benar muncul.
Intinya, pencegahan karhutla sejati dimulai jauh sebelum kepulan asap pertama terlihat. Ia dimulai dari upaya menjaga tanah agar senantiasa mampu menyimpan air, mempertahankan keseimbangan hidrologis, dan memulihkan fungsi ekologisnya. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kelangsungan hidup ekosistem dan kesejahteraan masyarakat di Pulau Kalimantan.
Kontributor: M. Ridham
Penyunting: H. Gunadi























