Jakarta kini memiliki mahakarya infrastruktur jalan tol yang belum pernah ada sebelumnya: Jalan Tol Harbour Road II. Proyek ambisius ini tidak hanya memecahkan rekor sebagai tol layang tertinggi di ibu kota, tetapi juga menjadi kunci strategis dalam upaya mengurai kusutnya lalu lintas di utara Jabodetabek.
Rekor Ketinggian dan Skala Investasi Jalan Tol Harbour Road II
Jalan Tol Harbour Road II Ruas Ancol Timur – Pluit telah resmi menyandang predikat sebagai jalan tol layang (elevated) tertinggi di Indonesia, dengan puncaknya mencapai ketinggian 38 meter. Angka ini jauh melampaui rekor sebelumnya yang dipegang oleh Jalan Tol Layang MBZ dengan ketinggian 15 meter. Keberadaan tol bertingkat yang dibangun di atas Jalan Tol Sedyatmo ini menandai lompatan signifikan dalam teknologi konstruksi jalan tol di tanah air.
Progres pembangunan per tanggal 23 Agustus 2026 menunjukkan kemajuan signifikan dengan realisasi mencapai 44,12%. Meskipun ketersediaan lahan untuk konstruksi sudah mencapai 77%, Direktur Utama PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) Tbk, Arief Budhy Hardono, menginformasikan bahwa area yang siap dikerjakan kontraktor baru menyentuh 81,55%. Proyek prestisius ini didukung oleh investasi kolosal senilai Rp15,08 triliun dan diproyeksikan akan selesai serta beroperasi penuh pada tahun 2028.
Tujuan Strategis di Balik Pembangunan Tol Tertinggi Jakarta
Kehadiran Jalan Tol Harbour Road II dirancang bukan sekadar sebagai infrastruktur fisik, melainkan sebagai solusi komprehensif terhadap berbagai tantangan mobilitas di wilayah utara Jabodetabek. Beberapa tujuan strategis yang ingin dicapai meliputi:
- Mengurai Kemacetan Akut: Menjadi tumpuan utama untuk meredakan kepadatan lalu lintas di Jalan Tol Harbour Road I dan mengurangi beban pada jaringan jalan arteri yang kerap tersendat di sisi utara Jabodetabek.
- Meningkatkan Efisiensi Logistik: Diharapkan mampu mengalihkan sebagian besar lalu lintas dari Pelabuhan Tanjung Priok yang sangat vital, sehingga memperlancar konektivitas logistik yang selama ini bergantung pada rute Jalan Martadinata menuju Pluit.
- Memperkuat Akses Bandara Soekarno-Hatta: Mampu menyinergikan konektivitas dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, guna mempercepat arus pergerakan barang dan mobilitas penumpang menuju dan dari bandara.
Keandalan Konstruksi dan Kebanggaan Teknologi Lokal
Dengan panjang total 9,7 Km dan konfigurasi jalur yang efisien berupa 2×3 lajur, Jalan Tol Harbour Road II dirancang untuk melayani pengguna jalan dengan kecepatan rencana 80 km per jam. Namun, keunikan proyek ini tidak hanya terletak pada dimensi fisiknya, melainkan pada inovasi metode konstruksi jalan layang bertingkat yang canggih.
Sebagai pribadi yang telah lama berkecimpung di dunia konstruksi, saya mengapresiasi pernyataan Dewan Penasehat PT CMNP Tbk, Jusuf Hamka, mengenai ketahanan proyek ini. Ia mengungkapkan bahwa tol ini dirancang untuk mampu bertahan terhadap guncangan gempa bumi dengan skala kekuatan yang luar biasa, bahkan mencapai potensi ancaman bencana dalam kurun waktu 1.000 tahun. Sebuah pencapaian teknis yang membanggakan!
“Jalan Harbour Road II ini buat saya merupakan cita-cita yang sejak lama karena ini elevated di atas yang sudah ada. Jadi kalau boleh bilang kalau dulu single-decker sekarang double decker. Dan bapak-ibu saya perlu laporkan ini dibangun oleh anak bangsa sendiri tanpa ada orang-orang luar negeri dan pak dirjen mungkin perlu ketahui ini juga tidak menggunakan APBN. Jadi mudah-mudahan kita yang pekerja keras terus mendapatkan support dari pemerintah terutama dari Bina Marga, BPJT, KSP, kita akan bekerja yang baik dan insyaallah jalan kita ini kekuatan anti gempanya bukan 100 tahun lagi ya, 1.000 tahun pak sekarang,” ujar Jusuf Hamka.
Lebih membanggakan lagi, seluruh teknologi yang diaplikasikan dalam pembangunannya merupakan 100% produk dalam negeri. Hal ini menegaskan kemandirian bangsa dalam menguasai dan mengimplementasikan teknologi konstruksi modern. Sebuah fakta yang patut disyukuri dan dibanggakan, mengingat proyek raksasa ini berhasil dibangun tanpa menyentuh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Kontributor: Budi S.
Penyunting: RR. Nur























