Ancaman sanksi baru Amerika Serikat terhadap Iran kembali mengemuka, mendorong Teheran menuju isolasi ekonomi global. Namun, respons tegas datang dari China, yang menolak keras langkah sepihak AS dan menegaskan komitmennya pada kepentingan nasionalnya sendiri, menimbulkan pertanyaan serius tentang stabilitas global.
Inti Permasalahan: Sanksi Baru AS dan Penolakan Tegas China
Amerika Serikat (AS) secara terbuka mengancam akan menjatuhkan serangkaian sanksi baru terhadap Iran. Langkah ini bukan hanya bertujuan mengisolasi Teheran secara ekonomi, tetapi juga mendesak negara-negara lain di dunia untuk turut serta dalam upaya pembekuan hubungan dengan Iran. Namun, penolakan tegas datang dari China, yang menyatakan bahwa kerja sama bilateralnya dengan Iran tidak akan terganggu oleh tekanan eksternal.
Posisi Tegas China dalam Kerangka Hukum Internasional
Pada Selasa (25/8/2026), juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, kembali menegaskan pendirian Beijing dalam konferensi pers rutin. Ia menyatakan bahwa seluruh kerja sama yang terjalin antara China dan Iran selalu beroperasi di bawah payung hukum internasional yang sah.
“Kerja sama antara Tiongkok dan Iran senantiasa dilakukan dalam kerangka hukum internasional dan tidak boleh dicampuri atau diganggu,” ujar Lin Jian, menekankan prinsip kedaulatan dan hukum internasional.
Lebih lanjut, Lin Jian secara eksplisit menyatakan bahwa China menolak keras penerapan sanksi sepihak yang dianggapnya ilegal. China berjanji akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk secara tegas melindungi hak dan kepentingannya sendiri, sebuah sinyal kuat bahwa Beijing tidak akan gentar di bawah tekanan AS.
Dampak Potensial Sanksi dan Posisi Strategis China
China memperingatkan bahwa potensi penerapan sanksi ekonomi baru oleh AS terhadap Iran tidak akan menyelesaikan masalah yang ada, melainkan justru akan memperparah ketegangan yang sudah ada di kawasan Timur Tengah. Menurut pandangan Lin Jian, pendekatan perang ekonomi dan tekanan maksimum bukanlah solusi yang efektif.
Ia berargumen, “Hal-hal tersebut hanya akan semakin memperparah ketegangan dan konflik, serta menimbulkan risiko dampak lanjutan… Tiongkok memantau dengan cermat perkembangan terkait dan akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk secara tegas melindungi hak dan kepentingannya sendiri.” Pernyataan ini menggarisbawahi kekhawatiran China terhadap eskalasi konflik dan dampaknya terhadap stabilitas regional dan global.
Peran China sebagai Pembeli Utama dan Ketahanan Iran
Perlu dicatat bahwa China merupakan salah satu pembeli utama minyak mentah dari Iran. Oleh karena itu, setiap kebijakan yang berpotensi membatasi ekspor minyak Iran, seperti pemblokiran Selat Hormuz, akan memiliki dampak langsung yang signifikan terhadap perekonomian China. Di sisi lain, Iran sendiri telah menunjukkan ketahanan luar biasa dalam menghadapi sanksi ekonomi yang telah berlangsung selama puluhan tahun, salah satunya dengan memanfaatkan jaringan keuangan internasional yang kompleks.
Upaya Diplomasi Terselubung dan Perluasan Sanksi AS
Meskipun Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, sempat menunda peluncuran operasi besar-besaran yang dijuluki ‘Economic D-Day’ yang dirancang untuk melumpuhkan ekonomi Iran, ia tidak mengendurkan tekanan. Bessent justru mengancam negara-negara yang masih mempertahankan hubungan ekonomi dengan Iran.
AS memilih untuk menempuh jalur diplomasi secara diam-diam. Tujuannya adalah untuk menyamakan persepsi dan membangun konsensus dengan negara-negara lain mengenai ekspektasi AS terkait penolakan hubungan dengan Iran. “Kami menilai cara terbaik untuk berhubungan dengan negara-negara lain adalah melalui diplomasi diam-diam, dan kami sedang menyamakan persepsi dengan setiap negara untuk menyampaikan ekspektasi kami,” kata Bessent, mengindikasikan pendekatan yang lebih halus namun tetap tegas.
Ekspansi Kategori Sanksi AS
Pemerintahan AS juga dilaporkan telah memperluas cakupan ‘aktivitas terkait Iran’ yang kini dapat dikenai sanksi. Perluasan ini mencakup sektor-sektor krusial seperti aset digital, teknologi mutakhir, dan industri pelayaran. Langkah ini menunjukkan keseriusan AS dalam menutup celah yang mungkin dimanfaatkan Iran untuk menghindari sanksi. Pemerintah AS berencana memberikan tenggat waktu kepada negara-negara tertentu untuk mengakhiri hubungan ekonomi mereka dengan Iran, sebuah ultimatum yang berpotensi menimbulkan ketegangan lebih lanjut di kancah internasional.
Kontributor: MA. Untung
Penyunting: M. Ridham























