Situasi genting di Kuba memaksa pemerintah Rusia untuk mengambil langkah darurat mengevakuasi ribuan warganya yang tengah berlibur. Krisis bahan bakar yang semakin memburuk ini diduga kuat merupakan imbas dari kebijakan Amerika Serikat yang semakin memperketat tekanannya terhadap negara kepulauan tersebut.
- Ribuan turis Rusia dievakuasi dari Kuba akibat krisis bahan bakar yang kian parah.
- Penyebab utama krisis diduga adalah blokade minyak yang diterapkan AS, memutus pasokan dari Meksiko dan Venezuela.
- Maskapai penerbangan Rusia menghentikan sementara layanan ke Kuba, sementara maskapai internasional menyesuaikan rute atau menunda penerbangan.
- Sekitar 4.000 turis Rusia, termasuk pejabat, berada di Kuba saat keputusan evakuasi diambil.
- Rusia menyatakan solidaritas dengan Kuba dan siap memberikan dukungan, namun bentuk dukungan spesifik masih belum jelas karena fokus pada Ukraina dan potensi provokasi terhadap AS.
Evakuasi Darurat Ribuan Turis Rusia dari Kuba
Otoritas penerbangan Rusia pada Rabu, 11 Februari 2026, mengonfirmasi bahwa dua maskapai nasional yang melayani rute ke Kuba akan segera mengoperasikan penerbangan khusus untuk memulangkan seluruh turis Rusia. Keputusan drastis ini akan diikuti dengan penangguhan total layanan penerbangan ke destinasi Karibia tersebut sampai semua warga negara Rusia berhasil dievakuasi.
Langkah ini diambil menyusul peringatan serius dari otoritas penerbangan Kuba mengenai kondisi cadangan bahan bakar jet yang berada di titik kritis. Situasi ini secara langsung mengancam kelangsungan industri pariwisata, yang merupakan salah satu pilar utama perekonomian Kuba. Ancaman ini tidak hanya dirasakan oleh turis Rusia, tetapi juga oleh maskapai internasional yang melayani rute ke sana. Maskapai nasional Kanada, misalnya, telah menyatakan akan menghentikan sementara penerbangan ke Kuba. Maskapai lain memilih strategi penyesuaian rute, singgah di bandara negara tetangga di Karibia untuk mengisi bahan bakar guna menghindari dampaknya.
Ribuan Turis Terjebak di Tengah Penjatahan dan Penurunan Kualitas Layanan
Dewan pariwisata Rusia memperkirakan sekitar 4.000 turis Rusia saat ini masih berada di Kuba. Jumlah ini mencakup sejumlah pejabat pemerintah Rusia, mengingat Kuba menjadi salah satu destinasi yang diizinkan untuk perjalanan dinas pejabat negara di bawah aturan keamanan yang ketat. Konsekuensi dari krisis bahan bakar ini pun mulai dirasakan langsung oleh para turis yang tertahan. Keluhan mengenai penjatahan bahan bakar, pemangkasan layanan transportasi umum, bahkan penurunan kualitas akomodasi ke hotel kelas bawah demi mendapatkan pasokan listrik yang lebih stabil, menjadi cerita yang umum terdengar di kalangan mereka.
Dewan pariwisata juga mengumumkan penangguhan penjualan seluruh paket wisata ke Kuba untuk periode mendatang, sebuah indikasi bahwa situasi diperkirakan akan memburuk sebelum membaik.
Akar Masalah: Tekanan Sanksi AS yang Intensif
Situasi memburuk di Kuba ini tidak terlepas dari eskalasi tekanan yang dilakukan oleh pemerintahan Donald Trump. Sejak bulan lalu, AS secara efektif menerapkan blokade minyak terhadap Kuba. Pengiriman minyak terakhir yang tercatat berasal dari kapal tanker Meksiko pada awal Januari, namun ekspor tersebut terhenti setelah Meksiko menerima tekanan dari Washington. Aliran minyak mentah dari Venezuela, yang selama ini menjadi pemasok utama energi bagi Kuba, juga mengalami penghentian total menyusul operasi AS pada Januari yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro. Peristiwa ini memutus dukungan energi vital bagi Kuba, mendorong negara tersebut ke dalam kondisi krisis yang mendalam.
Respons Rusia: Solidaritas dan Ketidakpastian Dukungan
Kremlin akhirnya angkat bicara pada hari Senin, menyatakan bahwa situasi bahan bakar di Kuba telah mencapai level yang sangat kritis. Istana Kepresidenan Rusia mengecam keras upaya AS yang dinilai bertujuan untuk “mencekik” Kuba, yang menyebabkan kesulitan luar biasa bagi rakyat dan mengancam stabilitas negara tersebut.
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menegaskan bahwa Moskow berdiri dalam solidaritas penuh dengan Kuba dalam menghadapi tekanan blokade. Ia juga menyatakan kesiapan Rusia untuk memberikan segala dukungan yang diperlukan kepada “sahabat mereka bersama dengan mitra-mitra lain yang berpikiran serupa.”
Meskipun demikian, bentuk dukungan spesifik yang akan diberikan Rusia masih belum jelas. Situasi ini cukup kompleks, mengingat Kremlin saat ini sedang terlibat dalam negosiasi yang sensitif dengan pemerintahan Trump. Selain itu, fokus politik dan militer utama Rusia saat ini masih tertuju pada perang yang sedang berlangsung di Ukraina. Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa Moskow mungkin enggan mengambil langkah yang dapat memprovokasi Washington lebih jauh, demi menjaga stabilitas hubungan strategis di tengah isu-isu global yang krusial.























