Minggu, 21 Juni 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Pendidikan: Dari Sekadar ‘Mencetak Pekerja’ Menjadi ‘Memanusiakan Manusia’

by A. Burhany
26/11/2025
in Opini, Pembelajaran & Literasi
Reading Time: 5 mins read
A A
Pendidikan: Dari Sekadar ‘Mencetak Pekerja’ Menjadi ‘Memanusiakan Manusia’ - Featured

Wartakita.id, MAKASSAR — Ada sebuah keresahan mendalam yang baru-baru ini disuarakan oleh Prof. Drs. Sutiman Bambang Sumitro dari Universitas Brawijaya. Beliau menyoroti angka statistik yang menampar wajah kita: lebih dari 840.000 sarjana hingga doktor menganggur per Agustus 2024. Solusi yang beliau tawarkan—belajar dari sinergi riset dan industri ala China—adalah langkah taktis yang brilian untuk jangka pendek.

Namun, jika kita berani jujur menatap cermin peradaban bangsa ini, masalah pengangguran dan ketidaksiapan industri hanyalah “gejala”. Penyakit utamanya jauh lebih kronis dan fundamental: Pendidikan kita telah kehilangan jiwanya.

Selama puluhan tahun, sistem pendidikan formal kita tanpa sadar telah berubah fungsi menjadi “Balai Latihan Kerja” raksasa. Sekolah dan kampus tidak lagi menjadi tempat sakral untuk mengasah nalar, menanam moral, dan memupuk kebijaksanaan. Ia telah tereduksi menjadi pabrik pencetak ijazah, di mana manusia dianggap sekadar sekrup-sekrup ekonomi yang harus siap pakai.

Akibatnya fatal. Kita mungkin melahirkan insinyur yang bisa membangun jembatan, tapi korup saat membeli bahannya. Kita melahirkan ahli hukum yang hafal ribuan pasal, tapi tuna-etika saat membela keadilan. Kita melahirkan generasi yang pintar secara skill, tapi kerdil secara jiwa.

World Cup 2026

Meluruskan Kiblat: Apa Itu “Mendidik”?

Dalam bahasa Yunani kuno, ada konsep Paideia, yang berarti pembentukan manusia ideal secara utuh—fisik, mental, dan spiritual. Di Indonesia, Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara, sudah meletakkan fondasi serupa lewat konsep “Taman Siswa”. Perhatikan kata “Taman”. Taman adalah tempat tumbuh kembang yang alami, menyenangkan, dan memanusiakan. Bukan “Pabrik Siswa”.

Pendidikan formal, sejatinya, memiliki tiga mandat suci yang harus dipenuhi sebelum kita bicara soal link-and-match dengan industri:

1. Liberasi (Pembebasan Nalar)

Pendidikan harus membebaskan manusia dari kebodohan, takhayul, dan fanatisme buta. Sekolah harus mengajarkan cara berpikir (how to think), bukan sekadar apa yang harus dipikirkan (what to think).

Fenomena “membeo” atau menghafal tanpa memahami adalah tanda matinya nalar kritis. Ketika lulusan perguruan tinggi kita gagap menghadapi perubahan zaman, itu bukan karena mereka kurang hafal teori, tapi karena nalar adaptif mereka tidak pernah diasah. Mereka dididik untuk menjawab soal ujian, bukan menjawab tantangan kehidupan.

2. Humanisasi (Pematangan Rasa)

Kecerdasan tanpa empati adalah monster. Lihatlah maraknya kasus perundungan (bullying) di sekolah elit, atau pejabat berpendidikan tinggi yang tidak peka penderitaan rakyat. Ini adalah bukti kegagalan pendidikan rasa.

Pendidikan formal harus kembali mengajarkan sastra, seni, dan filsafat bukan sebagai pelengkap, tapi sebagai menu utama untuk menghaluskan budi pekerti. Seperti kata Albert Einstein, “Pendidikan adalah apa yang tersisa setelah seseorang melupakan apa yang ia pelajari di sekolah.” Yang tersisa itu adalah karakter.

3. Transendensi (Penguatan Spiritualitas)

Ini bukan sekadar pelajaran agama yang dogmatis, melainkan penanaman nilai universal tentang kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Pendidikan harus membawa manusia menyadari bahwa hidupnya memiliki tujuan yang lebih besar dari sekadar menumpuk harta: yaitu memberi sumbangsih bagi sesama.

Jebakan “Diploma Disease”

Sosiolog Ronald Dore pernah mengenalkan istilah The Diploma Disease. Ini adalah kondisi di mana masyarakat terobsesi pada ijazah/gelar sebagai tiket status sosial, bukan pada kompetensi riil.

Di Indonesia, penyakit ini sudah mewabah. Orang tua memaksakan anak masuk jurusan “favorit” demi gengsi, bukan demi bakat. Mahasiswa memburu IPK dengan cara instan (joki skripsi, plagiasi) karena yang dihargai adalah kertasnya, bukan prosesnya.

Ketika pendidikan hanya mengejar simbol (gelar), maka lahirlah inflasi sarjana. Ribuan lulusan membanjiri pasar dengan kertas ijazah di tangan, namun kepala dan hati yang kosong. Inilah akar masalah mengapa industri mengeluh “SDM kita tidak kompeten” meski gelarnya berderet. Ijazah hanya selembar kertas bukti pernah tamat sekolah dan sarjana, bukan bukti bisa berpikir dengan saujana (asal kata ‘sarjana’) yang mempertimbangkan seluas-luasnya aspek tanpa self atau ego-sentris.

saujana/sau·ja·na/ n,

— mata (memandang) sejauh mata memandang; sepemandangan mata jauhnya

Menuju Indonesia Emas: Manusia Dulu, Baru Ekonomi

Kita sering iri dengan kemajuan teknologi China, Jepang, atau Jerman. Tapi kita sering lupa, sebelum mereka membangun teknologi canggih, mereka membangun etos manusia-nya terlebih dahulu.

BACA JUGA:

Kemendikbudristek Reformasi Prodi: Kesiapan Lulusan Hadapi Dunia Kerja

Kemendikdasmen Dorong Pemanfaatan Tes Kemampuan Akademik untuk Elevasi Mutu Pendidikan Nasional

Gaji Guru Merosot: Akar Masalah SDM Indonesia dan Fenomena Migrasi Profesi Guru Bertalenta?

Kementerian PUPR Lanjutkan Pembangunan Sekolah Rakyat Tahap II, Fokus Tingkatkan Kualitas Pendidikan Nasional

Mendidik ‘Manusia Renaissance’ di Era AI: Insinyur Masa Depan Wajib Belajar Filsafat dan Sastra

Jepang bangkit dari bom atom dengan restorasi pendidikan yang menanamkan disiplin dan kehormatan (bushido). Eropa bangkit lewat Renaissance (kelahiran kembali) nalar dan seni.

Jika Indonesia ingin menjadi pemain kunci dalam peradaban global, kita tidak bisa hanya menyuntikkan dana riset atau membeli alat canggih (seperti nano bubbles). Itu hanya alat.

World Cup 2026

Kita butuh reformasi pendidikan yang radikal:

  1. Guru sebagai Mentor, Bukan Admin: Bebaskan guru dari beban administrasi yang kaku agar mereka bisa fokus menjadi teladan dan pembimbing jiwa siswa.
  2. Kurikulum yang Fleksibel: Berhenti menjejali siswa dengan belasan mata pelajaran yang dangkal. Fokus pada deep learning di bidang yang diminati, disertai fondasi logika dan etika yang kuat.
  3. Redefinisi Sukses: Berhenti memuja ranking dan nilai angka. Mulailah menghargai kejujuran, kreativitas, keberanian berpendapat, dan kolaborasi.

Investasi Peradaban

Pendidikan adalah investasi peradaban, bukan investasi dagang. Jika kita berhasil mencetak manusia yang utuh—yang nalarnya tajam, hatinya lembut, dan karakternya tangguh—maka ekonomi, teknologi, dan kebudayaan akan tumbuh dengan sendirinya sebagai buah yang manis.

Sebaliknya, jika kita terus memperlakukan sekolah sebagai pabrik pekerja, kita hanya akan memanen robot-robot bernyawa yang akan tergilas oleh zaman, atau lebih buruk lagi, oleh kecerdasan buatan (AI) yang jauh lebih pintar dari mereka.

Mari kembalikan sekolah menjadi taman. Mari kembalikan pendidikan menjadi proses memanusiakan manusia.

Add wartakita.id as a preferred source on Google

Tags: Character BuildingFilsafat PendidikanKi Hajar Dewantarapendidikan IndonesiaPendidikan NasionalReformasi PendidikanSDM Unggul
Share17Tweet11Send
World Cup 2026

ARTIKEL TERKAIT

Pendidikan: Dari Sekadar ‘Mencetak Pekerja’ Menjadi ‘Memanusiakan Manusia’ - Featured

UMI Makassar Perkuat Transformasi Digital Menuju Smart Campus Melalui Kemitraan Global dengan Ruijie Networks

20/06/2026
Pendidikan: Dari Sekadar ‘Mencetak Pekerja’ Menjadi ‘Memanusiakan Manusia’ - Featured

16 Juni: Tiga Momen Sejarah Paling Menggugah dari Luar Angkasa hingga Perjuangan Kemanusiaan

16/06/2026
Prasasti Kedukan Bukit, akta lahir Kedatuan Sriwijaya.

15 Juni: Dari Magna Carta hingga Kelahiran Sriwijaya, Jejak Sejarah yang Mengukir Peradaban Modern

15/06/2026
Pendidikan: Dari Sekadar ‘Mencetak Pekerja’ Menjadi ‘Memanusiakan Manusia’ - Featured

Bongkar Mesin “Ekonomi Zombie”: Cetak Biru Penyelamatan Kelas Menengah dari Meja Pengambil Kebijakan

11/06/2026
Pendidikan: Dari Sekadar ‘Mencetak Pekerja’ Menjadi ‘Memanusiakan Manusia’ - Featured

Mengapa Ekonomi Kita Belum Ambruk? Membedah “Ekonomi Zombie” dan Ilusi Ketahanan Kelas Menengah

11/06/2026
Pendidikan: Dari Sekadar ‘Mencetak Pekerja’ Menjadi ‘Memanusiakan Manusia’ - Featured

FDK UIN Alauddin Makassar Perkuat Solidaritas dan Kedisiplinan Melalui Apel Pagi Rutin Akhir Bulan

26/05/2026
Pendidikan: Dari Sekadar ‘Mencetak Pekerja’ Menjadi ‘Memanusiakan Manusia’ - Featured

Kontroversi Film “Pesta Babi”: Narasi Pembangunan, Hak Adat Papua, dan Lingkaran Kekuasaan

12/05/2026
Pendidikan: Dari Sekadar ‘Mencetak Pekerja’ Menjadi ‘Memanusiakan Manusia’ - Featured

Novel ‘Olenka’ Budi Darma Segera Mendunia dalam Terjemahan Bahasa Inggris: Sebuah Jembatan Sastra Indonesia ke Kancah Global

01/05/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Pendidikan: Dari Sekadar ‘Mencetak Pekerja’ Menjadi ‘Memanusiakan Manusia’ - Featured

    APBN 2026: Mengurai Mitos Ketergantungan Pajak, Menelisik Jalan Kemakmuran Berkelanjutan

    143 shares
    Share 57 Tweet 36
  • 15 Juni: Dari Magna Carta hingga Kelahiran Sriwijaya, Jejak Sejarah yang Mengukir Peradaban Modern

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • 16 Model Rambut Pria yang Terbukti Disukai Wanita, Keren dan Stylish! (Update 2026)

    131 shares
    Share 52 Tweet 33
  • SEO Lokal: Kunci Sukses Merek Nasional di Era Google yang Terpersonalisasi

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • 5 Gaya Rambut Pria untuk Jidat Lebar: Auto Ganteng & Pede

    65 shares
    Share 26 Tweet 16
  • MoU Iran-AS Final: Selat Hormuz Dibuka, Blokade Maritim Dicabut

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Prediksi Meksiko vs Korea Selatan 2026: Rebutan Tiket 32 Besar!

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • RSUP Wahidin Sudirohusodo Perketat Pengamanan Pasca-Insiden Penikaman Pasien di Makassar

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Makassar Perkuat Pengelolaan TPA: Fokus pada Sistem Operasional dan Potensi Gas Metan

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Waspada FOMO! Dokter Kulit Ingatkan Bijak Pilih Tren Kecantikan di Media Sosial

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
Pendidikan: Dari Sekadar ‘Mencetak Pekerja’ Menjadi ‘Memanusiakan Manusia’ - Featured

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

Pendidikan: Dari Sekadar ‘Mencetak Pekerja’ Menjadi ‘Memanusiakan Manusia’ - Featured
Gaya Hidup

Jeda di Tengah Badai: Tiga Kompas Batin untuk Mengarungi Gelombang Hidup

20/11/2025
Pendidikan: Dari Sekadar ‘Mencetak Pekerja’ Menjadi ‘Memanusiakan Manusia’ - Featured
Fashion & Kecantikan

Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

14/11/2025
Pendidikan: Dari Sekadar ‘Mencetak Pekerja’ Menjadi ‘Memanusiakan Manusia’ - Featured
Gaya Hidup

Ancaman Senyap di Meja Kerja: Hindari 5 Kebiasaan Buruk WFH Ini Demi Kesehatan Anda

21/11/2025
Pendidikan: Dari Sekadar ‘Mencetak Pekerja’ Menjadi ‘Memanusiakan Manusia’ - Featured
Otomotif

Vespa Primavera vs. Sprint 2025: Dua Jiwa, Satu Mesin, Pilihan Anda?

30/11/2025
Pendidikan: Dari Sekadar ‘Mencetak Pekerja’ Menjadi ‘Memanusiakan Manusia’ - Featured
Fashion & Kecantikan

Kenapa Parfum Anda Tidak Meninggalkan Kesan? (Dan Cara Mengatasinya)

16/11/2025
Pendidikan: Dari Sekadar ‘Mencetak Pekerja’ Menjadi ‘Memanusiakan Manusia’ - Featured
Fashion & Kecantikan

Ingin Rambut ‘Badai’ ala Jisoo Tapi Budget Terbatas? Ini 3 Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan!

29/11/2025
Pendidikan: Dari Sekadar ‘Mencetak Pekerja’ Menjadi ‘Memanusiakan Manusia’ - Featured
Gadget

Hacker Gunakan AI Claude Code untuk Serangan Otonomus

14/11/2025
Pendidikan: Dari Sekadar ‘Mencetak Pekerja’ Menjadi ‘Memanusiakan Manusia’ - Featured
Otomotif

Seni Merawat Vespa Matic: Bebaskan Gredek, Nikmati Perjalanan Halus

06/12/2025
Pendidikan: Dari Sekadar ‘Mencetak Pekerja’ Menjadi ‘Memanusiakan Manusia’ - Featured
Otomotif

Modifikasi Vespa Matic: 10 Aksesoris ‘Proper’ Budget Pelajar-Sultan

04/12/2025
Pendidikan: Dari Sekadar ‘Mencetak Pekerja’ Menjadi ‘Memanusiakan Manusia’ - Featured
Gaya Hidup

Cara agar Hidup Anak Kost Lebih Tenang di Dapur dan Rumah

22/11/2025
Pendidikan: Dari Sekadar ‘Mencetak Pekerja’ Menjadi ‘Memanusiakan Manusia’ - Featured
Fashion & Kecantikan

Ingin Dihormati di Kantor? Ini 4 “Power Scent” Pria & Wanita yang Bikin Aura Anda Seperti CEO

29/11/2025
Pendidikan: Dari Sekadar ‘Mencetak Pekerja’ Menjadi ‘Memanusiakan Manusia’ - Featured
Gadget

Jisoo BLACKPINK dan Dyson: Rahasia Rambut Sehat Berkilau

21/11/2025
Pendidikan: Dari Sekadar ‘Mencetak Pekerja’ Menjadi ‘Memanusiakan Manusia’ - Featured
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.