Di tengah lonjakan kasus campak yang mengkhawatirkan, Dinas Kesehatan Kota Makassar mengambil langkah proaktif dengan menggandeng UNICEF. Kolaborasi ini krusial dalam memperkuat kapasitas tenaga kesehatan (nakes) di lini terdepan untuk menghadapi Kejadian Luar Biasa (KLB) campak yang kini melanda.
Perkuat Garda Terdepan: Pelatihan Nakes Intensif
Menghadapi situasi genting KLB campak, Dinas Kesehatan Kota Makassar menyelenggarakan workshop intensif pada 20-21 April 2026. Kegiatan ini mengumpulkan 94 nakes terpilih, mencakup petugas surveilans dan koordinator imunisasi (korim) dari 47 puskesmas se-Makassar. Sekretaris Dinas Kesehatan Makassar, dr. Ahmad Asy’ari, menegaskan bahwa tujuan fundamental dari pertemuan ini adalah peningkatan kompetensi nakes dalam menghadapi KLB.
Program imunisasi, yang merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat paling efektif untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I), menjadi tulang punggung pelatihan ini. Dalam pengalaman saya sebagai pengamat kesehatan masyarakat, seringkali titik lemah penanggulangan KLB terletak pada kapasitas nakes di lini depan. Pelatihan seperti ini, yang menggabungkan teori dan praktik, adalah investasi krusial.
Fokus Materi Pelatihan:
- Manajemen Vaksin yang Tepat: Memastikan pemahaman mendalam tentang penyimpanan, distribusi, dan penggunaan vaksin yang benar untuk menjaga efektivitasnya.
- Teknik Imunisasi Berkualitas: Meningkatkan keterampilan pelaksanaan imunisasi yang aman, efektif, dan meminimalkan risiko efek samping.
- Tanggap Respon Cepat (TRC): Melatih nakes dalam melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) yang akurat dan respons cepat dalam penanggulangan temuan kasus PD3I.
Strategi Jitu Menurunkan Angka ‘Zero Dose’
Inti dari program Tanggap Respon Cepat (TRC) adalah upaya pencegahan KLB sekaligus menekan angka anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap atau dikenal sebagai ‘zero dose’. Strategi yang dirancang mencakup identifikasi, penjangkauan aktif, serta pelacakan berkelanjutan untuk memastikan tidak ada anak yang terlewatkan.
Strategi ‘Kejar’ diterapkan secara intensif, yakni pelaksanaan imunisasi lanjutan bagi anak-anak yang telah teridentifikasi belum lengkap status imunisasinya. Tema kegiatan, “Peningkatan Kapasitas Tanggap Respon Petugas dalam Penanggulangan PD3I dan Penurunan Angka Zero Dose Imunisasi”, secara gamblang mencerminkan urgensi dan fokus program ini.
Makassar dalam Pusaran KLB Campak, UNICEF Turun Tangan
Situasi terkini menunjukkan bahwa Makassar, bersama enam daerah lain di Sulawesi Selatan, telah ditetapkan sebagai wilayah KLB campak oleh Kementerian Kesehatan, dengan puluhan kasus positif terkonfirmasi. Kondisi ini mendorong UNICEF untuk memfokuskan dukungannya di provinsi dan daerah yang paling terdampak, termasuk Makassar.
“Inilah yang mendasari kenapa UNICEF berpikir membantu provinsi. Kita harus siaga, jangan nanti sudah jadi bencana lalu kita panik,” tegas Badwi M. Amin, Health Specialist UNICEF Wilayah Sulawesi Maluku.
Badwi menyoroti keprihatinannya atas masih tingginya angka anak yang belum menerima imunisasi DPT1, yang berpotensi memicu lonjakan kasus campak, rubella, difteri, dan pertusis. Peran UNICEF dalam kolaborasi ini tidak hanya sebatas pendanaan, tetapi juga memberikan keahlian teknis dan dukungan logistik untuk memperkuat sistem kesiapsiagaan kesehatan di daerah.
Kontributor: H. Gunadi
Penyunting: Budi Saktia























