Indonesia melalui Badan Karantina (Barantin) merencanakan investasi besar senilai Rp4 hingga Rp5 triliun untuk memodernisasi seluruh laboratorium kekarantinaan di tanah air. Langkah ini krusial demi memastikan Indonesia setara dengan negara-negara maju dalam hal keamanan hayati.
Target Ambisius: Laboratorium Karantina Standar Global 2027
Kepala Barantin, Sahat Manaor Panggabean, menegaskan bahwa modernisasi ini adalah prioritas utama untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi fungsi laboratorium dalam mengawal kinerja kekarantinaan nasional. Targetnya jelas: seluruh laboratorium karantina di Indonesia harus sudah dimodernisasi dan setara dengan negara-negara maju serta mitra internasional pada tahun 2027.
“Saya harapkan tahun 2027 semua laboratorium karantina se-Indonesia itu sudah melakukan modernisasi. Jadi level laboratorium kita itu akan sama dengan negara-negara maju dan negara-negara mitra kita,” ujar Sahat.
Tiga Pilar Utama Revitalisasi Laboratorium
Anggaran fantastis ini akan dialokasikan untuk menyentuh beberapa aspek fundamental dalam operasional laboratorium:
- Penggantian Peralatan Laboratorium: Investasi pada alat-alat canggih dan mutakhir untuk memastikan akurasi dan kecepatan diagnostik.
- Perbaikan Gedung: Peningkatan infrastruktur fisik laboratorium agar memenuhi standar modern dan aman.
- Peningkatan Sistem Layanan: Implementasi digitalisasi penuh untuk mempercepat proses, meningkatkan transparansi, dan memudahkan akses layanan.
- Penguatan Sumber Daya Manusia (SDM): Pelatihan intensif dan peningkatan kompetensi bagi staf laboratorium agar mampu mengoperasikan teknologi baru secara optimal.
Sahat menekankan pentingnya keseimbangan antara teknologi dan kapabilitas SDM. “Jadi jangan juga alatnya canggih, tetapi SDM-nya tidak dilatih. Jadi semua aspek kita akan rapikan semuanya. Mudah-mudahan 2027 nanti bisa kita pertanggungjawabkan,” tambahnya.
Percepatan Layanan Melalui Digitalisasi
Sebagai langkah awal, Barantin telah mengoptimalkan sistem layanan digital untuk menggantikan proses manual yang cenderung memakan waktu. Saat ini, sistem layanan digital yang sudah diterapkan dikategorikan berisiko rendah dengan waktu pengerjaan rata-rata 6-7 jam. Modernisasi ini diharapkan tidak hanya mempercepat proses, tetapi juga meningkatkan transparansi dalam setiap tahapan.
“Saya sudah membenahi sistem layanan secara digital, kemudian laboratoriumnya kita perkuat, mudah-mudahan tahun depan ada loan juga, kita bereskan semua dan 2027 sudah selesai,” pungkas Sahat, optimis dengan dampak positif modernisasi ini terhadap penguatan peran Barantin dalam menjaga keamanan hayati Indonesia dari ancaman penyakit dan hama.























