Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) pagi telah menimbulkan dampak signifikan pada sejumlah fasilitas transportasi, baik udara maupun laut. Meskipun beberapa kerusakan tercatat, operasional utama dilaporkan masih berjalan dengan penyesuaian.
Dampak Gempa pada Infrastruktur Transportasi Udara dan Laut di NTT
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengonfirmasi bahwa lima bandara dan tiga pelabuhan di wilayah Nusa Tenggara Timur mengalami kerusakan akibat gempa bumi yang kuat tersebut. Informasi ini disampaikan setelah rapat koordinasi penanganan gempa yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.
Kerusakan Lima Bandara Terdampak Gempa
Kelima bandara yang dilaporkan terdampak adalah:
- Bandara Komodo, Labuan Bajo, Flores, NTT
- Bandara H Hasan Aroeboesman, Ende, NTT
- Bandara Umbu Mehang Kunda, Waingapu, NTT
- Bandara Frans Sales Lega, Ruteng, NTT
- Bandara Soa, Bajawa, NTT
Kerusakan pada bandara-bandara ini mayoritas terjadi pada gedung terminal dan fasilitas pendukung lainnya. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa pada Bandara Komodo, terjadi kerusakan pada fasilitas Gedung PKP-PK, Terminal Sisi Darat, Gedung Administrasi, serta kerusakan minor pada fasilitas sisi udara seperti fillet Taxiway A. Meskipun demikian, tidak ditemukan adanya korban jiwa dan operasional bandara tetap berjalan normal dengan pembatasan. Sementara itu, di Bandara Soa, Bajawa, dilaporkan terjadi kerusakan sedang pada runway, serta sejumlah bangunan dan fasilitas pendukung. Aspek pelayanan navigasi penerbangan di beberapa unit, termasuk di Labuan Bajo, Ende, Maumere, Bajawa, dan Ruteng, juga turut terdampak.
Tiga Pelabuhan Alami Kerusakan Akibat Gempa
Selain bandara, tiga pelabuhan juga dilaporkan mengalami kerusakan. Fasilitas yang terdampak meliputi:
- Pelabuhan Laurentius Say
- Pelabuhan Reo
- Pelabuhan Nangakeo
Kerusakan yang terjadi di Pelabuhan Laurentius Say meliputi robohnya bagian dermaga dan bangunan ruang tunggu. Saat kejadian, sebuah kapal penumpang KM Bukit Siguntang dilaporkan sedang bersandar di dermaga tersebut. Di Pelabuhan Reo, kerusakan terjadi pada bagian kantor dan terminal, namun dilaporkan tidak ada korban jiwa. Adapun di Pelabuhan Nangakeo, kerusakan dilaporkan ringan, meliputi plafon yang runtuh dan tembok yang retak.
Akibat kerusakan tersebut, layanan perintis di Pelabuhan Nangakeo dihentikan sementara. Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, telah menginstruksikan kepada seluruh petugas untuk memprioritaskan proses penyelamatan penumpang dan meningkatkan kewaspadaan di semua lini.
“Saya minta seluruh pihak untuk tetap mengutamakan aspek keselamatan dalam bermobilitas, khususnya di wilayah terdampak. Kami juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, selalu update informasi resmi terkait cuaca dari BMKG, dan senantiasa ikuti arahan petugas di lapangan,” tegas Menhub Dudy.
Pihak Kemenhub berkomitmen untuk terus memantau kondisi sarana dan prasarana transportasi di wilayah terdampak, memastikan layanan transportasi dapat kembali berjalan optimal dengan mengedepankan keselamatan. Masyarakat juga diimbau untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.
Hingga Sabtu (15/8/2026) pukul 15.00 WIB, data terbaru dari BNPB mencatat 38 korban jiwa akibat gempa M 7,7 di NTT, dengan dua orang mengalami luka berat dan 11 orang luka ringan. Sekitar 2.000 jiwa dilaporkan mengungsi secara mandiri.
Add wartakita.id as a preferred source on Google























