Enam malam terakhir ini, ada yang menarik untuk direnungkan bersama.
Riwayat menyebutkan tiga malam ganjil di penghujung Ramadan sebagai malam-malam yang paling berpeluang menjadi Lailatulkadar—malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, atau sekitar delapan puluh tiga tahun ibadah.
Namun karena perbedaan satu hari antara penganut hisab dan rukyatul hilal dalam menentukan awal Ramadan, kita mendapati sesuatu yang tidak disengaja namun indah: malam ganjil bagi sebagian kita adalah malam genap bagi yang lain. Peluang tiga malam menjadi enam.
Tuhan, seperti biasa, lebih luas dari kalender kita.
Dari cerita para arif bijak, malam itu biasanya diikuti tanda-tanda yang halus: angin tak berhembus, udara sejuk tanpa dingin, embun di ujung daun enggan jatuh hingga matahari terbit.
Tapi dapat atau tidak, dengan tanda atau tanpa tanda—ada satu persamaan yang pasti ada pada mereka yang telah mendapat kemuliaan malam itu: mereka tidak lagi menjadi pedagang parfum. Mereka berhenti memuja luka. Mereka tidak lagi pusing dengan urusan-urusan yang sudah diaturkan Tuhan jauh sebelum mereka terlahir ke dunia.
Apalah Lailatulkadar itu, jika sebulan penuh menempa fisik dan jiwa tidak membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik—dan makin membaikkan sesama?
Pertanyaan itu masih bergema di kepala saya ketika sore tadi saya melangkah ke luar dan mencium dua aroma yang sama di mana-mana.
Bau kain baru dari toko yang sibuk. Dan bau tajam cat dinding yang baru dipoles. Dunia sedang bersiap untuk tampil. Kita seolah percaya bahwa untuk menjadi suci kembali, kita harus membungkus diri dengan segala sesuatu yang mengkilap dan mahal.
Saya juga pernah percaya itu.
Tahun 2009. Bumi Tasikmalaya dan Garut baru saja berguncang oleh gempa. Di tengah keriuhan orang menyiapkan lebaran, saya berbisik pada bakal anak saya yang saat itu bahkan belum lahir—masih tertidur dalam tulang sumsum:
“Nak, tahun ini kita lebaran tanpa baju baru. Ayah tidak sanggup, bila kita berjalan ke tanah lapang dengan derap sepatu kulit baru, sementara di Tasik, saudara-saudara kita berjalan tanpa alas kaki.”
Tiba-tiba keinginan untuk mengecat rumah pun sirna. Bagaimana mungkin kita menghirup bau segar cat plafon baru, sementara di Garut, saudara kita tidur beratapkan langit—menatap bintang dengan waspada karena takut hujan turun membasahi alas tidur mereka yang seadanya?
Saya tidak menceritakan ini untuk terlihat mulia. Justru sebaliknya—saya menceritakannya karena di tahun-tahun sesudahnya, saya tidak selalu sekuat tekad malam itu. Ada lebaran-lebaran berikutnya di mana baju baru kembali terasa perlu, di mana cat dinding kembali terasa mendesak. Amnesia tahunan yang halus dan nyaman.
Dan saya tidak sendirian dalam amnesia itu. Kita semua punya versinya masing-masing.
Hari ke-25 ini mengingatkan saya lagi.
Idulfitri adalah tentang mencuci pakaian jiwa—bukan membeli yang baru. Selama dua puluh lima hari ini kita sudah memeras batin kita bersama: dengan lapar, dengan kritik yang pahit, dengan muhasabah tentang guru honorer dan vendor MBG dan birokrasi yang berdagang pasal. Jiwa kita sudah diperas cukup keras. Sekarang saatnya dibilas.
Dan proses bilasan ini tidak membutuhkan deterjen kimia. Ia membutuhkan rasa malu yang jujur—malu jika kita merayakan “kemenangan” dengan pamer kemewahan sementara di sekitar kita masih banyak dapur yang belum berasap.
Pakaian jiwa yang bersih mungkin tidak mengkilap di bawah lampu kristal ruang tamu. Tapi ia memberikan kehangatan bagi mereka yang kedinginan. Bukan merek terkenal, tapi wanginya—wangi integritas yang dirajut dari benang-benang empati—tercium lebih jauh dari parfum mana pun.
Bagi saya, menjadi fitrah berarti berani berdiri di hadapan Tuhan tanpa atribut duniawi. Berani berkata kepada anak-anak kita: investasi terbaik kita bukan pada apa yang menempel di kulit, melainkan pada apa yang menetap di hati orang-orang yang kita bantu.
Itu janji yang mudah diucapkan. Dan seperti yang sudah saya akui—tidak selalu mudah ditepati dari tahun ke tahun.
Di depan cermin nanti, mungkin kita bisa memeriksa dua hal sekaligus: apakah kerah baju baru kita sudah rapi, dan apakah pakaian jiwa kita sudah selesai dicuci. Sudahkah ia dibilas dengan permintaan maaf yang tulus? Sudahkah ia dikeringkan oleh kejujuran dalam bekerja?
Lebaran tanpa baju baru bukanlah penderitaan jika jiwa kita mengenakan pakaian kemanusiaan yang paling indah.
Saat kita pulang ke tanah lapang nanti, Tuhan tidak akan memeriksa merek sepatu kita. Ia akan memeriksa jejak langkah kita—apakah kita berjalan untuk membanggakan diri, atau kita berjalan untuk merangkul mereka yang tak beralas kaki.
Selamat mencuci pakaian jiwa. Mari kita pulang ke fitrah dengan hati yang bersih, bukan sekadar baju yang baru.
























