Dua puluh dua hari. Dan saya mulai menyadari bahwa saya tidak lagi bisa membedakan mana yang puasa dan mana yang saya.
Maksud saya begini: di awal Ramadan, puasa adalah sesuatu yang saya lakukan. Kini ia lebih terasa seperti sesuatu yang saya jalani—seperti cuaca, seperti napas, seperti ritme yang sudah menyerap ke dalam tanpa perlu diingat-ingat terus.
Saya tidak tahu apakah ini yang dimaksud dengan niat yang menjadi bening. Tapi rasanya seperti itu.
Puisi yang lahir di Mallengkeri beberapa malam lalu terus mengusik saya: “Akhirnya, kita semua akan berhenti tepat di mana niat kita pertama kali jatuh.”
Di manakah niat saya jatuh?
Saya duduk dengan pertanyaan itu cukup lama. Dan yang saya temukan tidak selalu menyenangkan.
Ada masa-masa di mana saya adalah pedagang parfum di pasar spiritualitas. Mencintai wangi Ramadan, memuja suasana syahdu salat malam, menjual “ingatan tentang mawar” lewat kata-kata bijak—tapi tidak pernah berani menyentuh akarnya. Takut pada tanah yang kotor. Takut pada duri komitmen. Takut pada sunyi yang menuntut perubahan perilaku nyata.
Niat saya waktu itu masih berupa aroma. Belum menjadi akar.
Ada juga masa-masa di mana saya terjebak di sisi lain—memuja luka saya sendiri. Merasa lebih saleh karena lebih menderita, merasa lebih dekat dengan Tuhan karena lebih perih. Sampai suatu titik saya sadar bahwa saya sudah mulai mencintai identitas “orang yang dizalimi” itu lebih dari saya mencintai Sang Pencipta rasa sakit. Luka saya telah menjadi berhala yang lebih nyaman dari pemulihan.
Saya rasa saya tidak sendirian dalam dua jebakan ini.
Di sepuluh malam terakhir ini, ada undangan untuk sesuatu yang berbeda.
Bukan lagi berjalan dengan ego yang tahu ke mana tujuan. Tapi membiarkan diri diperjalankan—rindu yang menarik lebih dari logika yang mendorong. Tidak lagi mengatur Tuhan dengan doa-doa yang panjang dan rinci. Membiarkan Tuhan mengatur kita.
Niat yang sudah teruji lapar, sudah digosok oleh kritik dan muhasabah, sudah dimurnikan oleh pengabdian pada orang-orang yang paling dekat—ia mulai berubah. Seperti cahaya menembus kaca yang bersih: tidak tampak lagi sebagai kaca, hanya tampak sebagai cahaya.
Ini yang dimaksud Cahaya di Atas Cahaya, saya kira. Bukan cahaya yang lebih terang. Tapi cahaya yang sudah tidak menghalangi.
Belum lama ini sebuah kajian lewat di beranda media sosial saya. Seorang penceramah membahas Surah Al-Mu’minun ayat 12-15. Beruntung tausiah dalam bahasa Arab itu dilengkapi teks bahasa Indonesia.
Dengan mata berkaca-kaca ia menjelaskan terjemahan dan tafsiran ayat demi ayat tentang proses penciptaan manusia—proses yang baru diketahui oleh ilmu pengetahuan modern berabad kemudian.
Air matanya jatuh ketika ia menutup terjemahan ayat 15. “Mengapa, setelah menggambarkan proses terciptanya manusia dengan begitu runut dan terperinci, ditutup dengan penegasan tanpa ampun: ‘Kemudian setelah itu, sungguh kamu pasti mati.’? Mengapa tak ada deskripsi lengkap tentang hidup sebagaimana proses kelahiran digambarkan? Mengapa kehidupan duniawi tidak dianggap perlu dijelaskan di surah ini?”
Pikiran dan jiwa saya ikut terguncang dengan fakta telanjang yang dibukanya—fakta yang memaksa saya memeriksa kembali niat saya selama hidup di dunia ini.
Saya memutar ulang kajian itu beberapa kali.
Dan setiap kali saya mendengar pertanyaan itu—mengapa kehidupan tidak dideskripsikan sepanjang dan serinci kelahiran, mengapa setelah proses penciptaan yang begitu ajaib langsung melompat ke kematian—saya menemukan diri saya tidak bisa menjawabnya dengan teologi. Saya hanya bisa menjawabnya dengan perasaan.
Mungkin kehidupan tidak dideskripsikan secara rinci bukan karena ia tidak penting. Tapi karena ia seharusnya tidak perlu dijelaskan—ia seharusnya dijalani. Dan satu-satunya cara menjalaninya dengan benar adalah dengan selalu ingat dari mana kita berasal dan ke mana kita akan kembali.
Niat, akhirnya, adalah tentang arah. Bukan tentang jarak yang sudah ditempuh, bukan tentang bekal yang sudah dikumpulkan. Pedagang parfum salah arah karena ia menuju panggung. Pemuja luka salah arah karena ia menuju cermin. Keduanya sibuk dengan dirinya sendiri—hanya berbeda kostum.
Yang diperjalankan tidak sibuk dengan arah karena ia sudah tahu tujuannya. Dan tujuan itu ternyata sangat sederhana—terlalu sederhana untuk ego yang terbiasa mencari yang rumit.
Niat yang bening tidak lagi mencari wangi dan tidak lagi meratapi perih. Ia hanya ingin satu hal sederhana yang ternyata tidak sesederhana kedengarannya:
Pulang.
Malam ini, saya tidak ingin mengajukan terlalu banyak pertanyaan. Hanya satu: di manakah niat Anda jatuh hari ini—dibandingkan dengan hari pertama Ramadan?
Jawabannya tidak perlu dibagikan ke siapa pun. Cukup duduk dengannya sebentar. Biarkan ia bicara.
Selamat menjadi bening. Selamat diperjalankan oleh cahaya.
























