Rabu, 11 Maret 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening

by Redaktur
11/03/2026
in Opini
Reading Time: 4 mins read
A A
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Dua puluh dua hari. Dan saya mulai menyadari bahwa saya tidak lagi bisa membedakan mana yang puasa dan mana yang saya.

Maksud saya begini: di awal Ramadan, puasa adalah sesuatu yang saya lakukan. Kini ia lebih terasa seperti sesuatu yang saya jalani—seperti cuaca, seperti napas, seperti ritme yang sudah menyerap ke dalam tanpa perlu diingat-ingat terus.

Saya tidak tahu apakah ini yang dimaksud dengan niat yang menjadi bening. Tapi rasanya seperti itu.


Puisi yang lahir di Mallengkeri beberapa malam lalu terus mengusik saya: “Akhirnya, kita semua akan berhenti tepat di mana niat kita pertama kali jatuh.”

Di manakah niat saya jatuh?

Saya duduk dengan pertanyaan itu cukup lama. Dan yang saya temukan tidak selalu menyenangkan.


Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - image 1

Ada masa-masa di mana saya adalah pedagang parfum di pasar spiritualitas. Mencintai wangi Ramadan, memuja suasana syahdu salat malam, menjual “ingatan tentang mawar” lewat kata-kata bijak—tapi tidak pernah berani menyentuh akarnya. Takut pada tanah yang kotor. Takut pada duri komitmen. Takut pada sunyi yang menuntut perubahan perilaku nyata.

Niat saya waktu itu masih berupa aroma. Belum menjadi akar.

Ada juga masa-masa di mana saya terjebak di sisi lain—memuja luka saya sendiri. Merasa lebih saleh karena lebih menderita, merasa lebih dekat dengan Tuhan karena lebih perih. Sampai suatu titik saya sadar bahwa saya sudah mulai mencintai identitas “orang yang dizalimi” itu lebih dari saya mencintai Sang Pencipta rasa sakit. Luka saya telah menjadi berhala yang lebih nyaman dari pemulihan.

Saya rasa saya tidak sendirian dalam dua jebakan ini.


Di sepuluh malam terakhir ini, ada undangan untuk sesuatu yang berbeda.

Bukan lagi berjalan dengan ego yang tahu ke mana tujuan. Tapi membiarkan diri diperjalankan—rindu yang menarik lebih dari logika yang mendorong. Tidak lagi mengatur Tuhan dengan doa-doa yang panjang dan rinci. Membiarkan Tuhan mengatur kita.

Niat yang sudah teruji lapar, sudah digosok oleh kritik dan muhasabah, sudah dimurnikan oleh pengabdian pada orang-orang yang paling dekat—ia mulai berubah. Seperti cahaya menembus kaca yang bersih: tidak tampak lagi sebagai kaca, hanya tampak sebagai cahaya.

Ini yang dimaksud Cahaya di Atas Cahaya, saya kira. Bukan cahaya yang lebih terang. Tapi cahaya yang sudah tidak menghalangi.


Belum lama ini sebuah kajian lewat di beranda media sosial saya. Seorang penceramah membahas Surah Al-Mu’minun ayat 12-15. Beruntung tausiah dalam bahasa Arab itu dilengkapi teks bahasa Indonesia.

Dengan mata berkaca-kaca ia menjelaskan terjemahan dan tafsiran ayat demi ayat tentang proses penciptaan manusia—proses yang baru diketahui oleh ilmu pengetahuan modern berabad kemudian.

Air matanya jatuh ketika ia menutup terjemahan ayat 15. “Mengapa, setelah menggambarkan proses terciptanya manusia dengan begitu runut dan terperinci, ditutup dengan penegasan tanpa ampun: ‘Kemudian setelah itu, sungguh kamu pasti mati.’? Mengapa tak ada deskripsi lengkap tentang hidup sebagaimana proses kelahiran digambarkan? Mengapa kehidupan duniawi tidak dianggap perlu dijelaskan di surah ini?”

BACA JUGA:

Esai Ramadan #21: Lailatulkadar dan Malam Sejuta Cermin

Esai Ramadan #20: Ambang Pintu dan Rahasia Siang Seribu Bulan

Esai Ramadan #19: Interupsi Suci dan Pemberontakan terhadap Rutinitas

Esai Ramadan #18: Seni Melepaskan dan Elegi Senja

Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan

Pikiran dan jiwa saya ikut terguncang dengan fakta telanjang yang dibukanya—fakta yang memaksa saya memeriksa kembali niat saya selama hidup di dunia ini.


Saya memutar ulang kajian itu beberapa kali.

Dan setiap kali saya mendengar pertanyaan itu—mengapa kehidupan tidak dideskripsikan sepanjang dan serinci kelahiran, mengapa setelah proses penciptaan yang begitu ajaib langsung melompat ke kematian—saya menemukan diri saya tidak bisa menjawabnya dengan teologi. Saya hanya bisa menjawabnya dengan perasaan.

Mungkin kehidupan tidak dideskripsikan secara rinci bukan karena ia tidak penting. Tapi karena ia seharusnya tidak perlu dijelaskan—ia seharusnya dijalani. Dan satu-satunya cara menjalaninya dengan benar adalah dengan selalu ingat dari mana kita berasal dan ke mana kita akan kembali.

Niat, akhirnya, adalah tentang arah. Bukan tentang jarak yang sudah ditempuh, bukan tentang bekal yang sudah dikumpulkan. Pedagang parfum salah arah karena ia menuju panggung. Pemuja luka salah arah karena ia menuju cermin. Keduanya sibuk dengan dirinya sendiri—hanya berbeda kostum.

Yang diperjalankan tidak sibuk dengan arah karena ia sudah tahu tujuannya. Dan tujuan itu ternyata sangat sederhana—terlalu sederhana untuk ego yang terbiasa mencari yang rumit.


Niat yang bening tidak lagi mencari wangi dan tidak lagi meratapi perih. Ia hanya ingin satu hal sederhana yang ternyata tidak sesederhana kedengarannya:

Pulang.


Malam ini, saya tidak ingin mengajukan terlalu banyak pertanyaan. Hanya satu: di manakah niat Anda jatuh hari ini—dibandingkan dengan hari pertama Ramadan?

Jawabannya tidak perlu dibagikan ke siapa pun. Cukup duduk dengannya sebentar. Biarkan ia bicara.

Selamat menjadi bening. Selamat diperjalankan oleh cahaya.

Tags: berbuka puasacahaya di atas cahaya tasawufesai 10 malam terakhir puasaesai Ramadanjebakan spiritualitas egomakna niat ibadah ramadanmakna niat puasaniat puasa Ramadanniat yang tulusRamadanRamadan 2026refleksi kematian dan kehidupanspiritualitas puasatafsir surah al muminun ayat 12-15
Share5Tweet3Send
Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger

ARTIKEL TERKAIT

Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Esai Ramadan #21: Lailatulkadar dan Malam Sejuta Cermin

10/03/2026
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Esai Ramadan #20: Ambang Pintu dan Rahasia Siang Seribu Bulan

10/03/2026
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Esai Ramadan #19: Interupsi Suci dan Pemberontakan terhadap Rutinitas

09/03/2026
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Esai Ramadan #18: Seni Melepaskan dan Elegi Senja

09/03/2026
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan

08/03/2026
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa

08/03/2026
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Esai Ramadan #15: Mencari Wajah Tuhan dalam Wajah Asing

04/03/2026
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Esai Ramadan #14: Mengapa Jurang Antara Sajadah dan Integritas Kita Masih Lebar?

04/03/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

    Cadangan BBM RI 20 Hari: Ancaman Krisis Energi Jika Konflik Timur Tengah Meluas, Analisis Dampak dan Solusi Transisi Energi

    24 shares
    Share 10 Tweet 6
  • Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Kode CMD Untuk Mempercepat Kinerja Laptop

    529 shares
    Share 212 Tweet 132
  • Perampokan Sadis di Bekasi: Aktivis JICT Tewas, Motif Tersembunyi Mengemuka di Momen Sahur

    28 shares
    Share 11 Tweet 7
  • Pemkot Makassar Target SDN 1 Bawakaraeng Masuk 45 Besar Inovasi Pelayanan Publik Kemenpan-RB

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Konflik Timur Tengah Kembali Memanas: Apa Pemicu dan Dampaknya bagi Indonesia?

    24 shares
    Share 10 Tweet 6
  • Toraja: Ekskavator Hancurkan Tongkonan 300 Tahun, Warisan Budaya Terancam Punah

    104 shares
    Share 42 Tweet 26
  • Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

    93 shares
    Share 37 Tweet 23
  • Esai Ramadan #18: Seni Melepaskan dan Elegi Senja

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured
Fashion & Kecantikan

Bosan Jomblo atau Hubungan Terasa Hambar? Pikat dengan 4 Parfum “Date Night” Menggoda Ini

29/11/2025
menari bersama misteri nara saluna
Gaya Hidup

Merasa Tertinggal dari Teman Seusiamu? Mari Berdamai dengan “Garis Waktu” Hidup yang Tak Terduga

29/11/2025
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured
Otomotif

Modifikasi Vespa Matic: 10 Aksesoris ‘Proper’ Budget Pelajar-Sultan

04/12/2025
img 1764471350 26f1c112a772ad44.jpg
Fashion & Kecantikan

Azzaro The Most Wanted: Parfum Pria yang Memikat dengan Aroma Melenakan

14/12/2025
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured
Otomotif

Bukan Sekadar Skuter: Panduan Memilih Vespa Impian Anda di Tahun 2026

23/11/2025
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured
Otomotif

Vespa Primavera vs. Sprint 2025: Dua Jiwa, Satu Mesin, Pilihan Anda?

30/11/2025
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured
Otomotif

Ancaman Mogok Akibat Aki Lemah di Musim Hujan: Kenapa Perawatan Mandiri Mobil LCGC Jadi Krusial?

16/11/2025
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured
Gaya Hidup

Cara agar Hidup Anak Kost Lebih Tenang di Dapur dan Rumah

22/11/2025
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured
Gadget

Jisoo BLACKPINK dan Dyson: Rahasia Rambut Sehat Berkilau

21/11/2025
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured
Gaya Hidup

Keseimbangan Hidup Optimal: Menjaga Kesehatan dari Dalam dan Luar

24/11/2025
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured
Fashion & Kecantikan

Ingin Dihormati di Kantor? Ini 4 “Power Scent” Pria & Wanita yang Bikin Aura Anda Seperti CEO

29/11/2025
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured
Gaya Hidup

Ancaman Senyap di Meja Kerja: Hindari 5 Kebiasaan Buruk WFH Ini Demi Kesehatan Anda

21/11/2025
Esai Ramadan #22: Cahaya di Atas Cahaya dan Niat yang Menjadi Bening - Featured
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.