Dua puluh hari.
Kita sudah sampai di sini bersama—melewati ego yang perlu dikecilkan, waktu yang perlu dihuni, warung sari laut di kota kecil yang asing, labirin doa, matahari yang mengajarkan cara melepaskan, dan malam-malam di mana kaki terasa berat sejak rakaat ketiga. Dua puluh hari bukan perjalanan yang pendek. Dan malam ini kita berdiri di ambang pintu sepuluh malam yang paling dikejar oleh umat beriman di seluruh dunia.
Tapi sebelum kita berlari ke sana, saya ingin duduk sebentar di ambang pintu ini bersama Anda.
Kita sudah hafal ceritanya: Lailatulkadar, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan—delapan puluh tiga tahun kehidupan manusia, dipadatkan dalam satu malam. Kita bersiap begadang, menjaga mata tetap terbuka di bawah remang lampu masjid, mencarinya seperti pemburu harta karun yang mencari titik koordinat di tengah gelap.
Tapi ada pertanyaan yang sudah lama mengusik saya: bagaimana jika Lailatulkadar bukan hanya soal kapan, melainkan soal apa?
Seorang kawan pernah bercerita tentang satu siang di Palu yang membakar aspal. Ia hanya seorang teknisi menara IT yang sedang berteduh menunggu ban motornya selesai ditambal bocornya. Di seberang jalan ia melihat seorang bapak tua pemulung berjalan tanpa alas kaki di atas aspal panas. Ia memberikan sandalnya lalu membeli sepasang sendal baru—dan tersentak oleh satu kesadaran yang sederhana namun menghantam jiwanya: mengapa saya memberi barang butut ketika saya mampu membeli yang baru di toko sebelah?
Di detik itulah, katanya, sesuatu yang besar terjadi di dalam dadanya. Prinsip purba yang selama ini ia hafal tapi tidak ia hidupi—memberi dari yang terbaik, bukan dari yang tersisa—tiba-tiba meledak dan tidak bisa dikembalikan ke tempatnya semula.
Siang itu bukan malam ganjil di penghujung Ramadan. Tapi bagi kawan saya, nilainya melampaui ribuan bulan rutinitas ibadahnya sebelum siang itu, yang kosong.
Ia juga bercerita tentang seorang mahasiswi di Tanah Datar yang pulang kampung di bulan Ramadan hanya untuk menanyakan tata cara salat taubat kepada orang tuanya—bukan karena ia pendosa besar, hanya karena salatnya mulai bolong-bolong di tengah bisingnya Jakarta dan ia merasa perlu merapikan urusannya dengan Sang Pencipta.
Tak lama setelah itu, ia berpulang dengan damai di pangkuan ayahnya, usai Tahajud.
Bagi anak gadis itu, perjumpaannya dengan maut adalah Lailatulkadar-nya yang abadi. Kepulangan yang dipersiapkan dengan kejujuran batin yang paling telanjang.
Hikmah tidak mengenal kalender. Ia bisa datang di tengah hiruk-pikuk bandara, di atas aspal yang membakar, di dalam percakapan pendek dengan orang tua sebelum tidur. Ia adalah interupsi yang tidak kita jadwalkan—seperti Ramadan itu sendiri.
Maka di ambang pintu ini, mungkin yang perlu kita tanyakan bukan hanya di malam mana Lailatulkadar jatuh? Tapi juga: siang-siang kita sudah diisi dengan apa?
Jika malam seribu bulan adalah tentang turunnya damai dari langit, maka siang hari kita seharusnya adalah tentang menjadi pembawa damai bagi orang lain. Keduanya tidak bisa dipisahkan—malam yang kita kejar hanya bermakna jika siang yang kita jalani sudah jujur.
Malam ini, saat kita melangkah masuk ke sepuluh hari terakhir, saya tidak ingin mengajak kita untuk hanya berburu tanda-tanda alam di langit.
Mari kita rapikan dulu yang ada di dalam. Bersihkan satu luka yang sudah terlalu lama kita biarkan mengering tanpa dirawat. Kirim satu pesan yang sudah terlalu lama tertunda. Akui satu kerapuhan yang sudah terlalu lama kita sembunyikan.
Pintu itu sudah terbuka. Dan di baliknya, seribu bulan keindahan sedang menunggu—bukan hanya di tengah malam yang sunyi, tapi juga di siang yang paling riuh, di detik yang paling tidak terduga.
Selamat memasuki ambang pintu yang agung. Kita sudah sejauh ini—mari terus melangkah bersama.
























