Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan vital Selat Hormuz kian memanas, memicu kekhawatiran global akan stabilitas jalur pelayaran internasional.
Ketegangan Meningkat di Selat Hormuz
Dalam beberapa hari terakhir, Amerika Serikat dan Iran terlibat dalam serangkaian aksi saling serang yang signifikan, meningkatkan tensi di salah satu jalur pelayaran terpenting dunia, Selat Hormuz. Insiden ini memicu serangan udara balasan dari kedua belah pihak, menarik perhatian internasional yang tajam, termasuk dari China.
Posisi Tegas China Terkait Kebebasan Pelayaran
Menanggapi memanasnya situasi di Selat Hormuz, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, pada hari Senin menegaskan kembali posisi fundamental negaranya. Ia menyatakan bahwa Selat Hormuz merupakan koridor pelayaran internasional yang krusial. Pemulihan arus pelayaran yang bebas dan aman, menurut Lin Jian, adalah kepentingan kolektif seluruh negara di dunia.
Berbicara kepada awak media di Beijing, Lin Jian menekankan perlunya agar lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz “ditangani secara tepat”, sebuah ungkapan yang mengindikasikan harapan China akan de-eskalasi dan penegakan norma-norma internasional terkait navigasi maritim.
Klaim Kontrol dan Manuver Militer
Situasi semakin kompleks dengan adanya klaim yang saling bertentangan mengenai kontrol atas Selat Hormuz. Sebelumnya, Duta Besar Iran untuk Beijing sempat mengutarakan bahwa kapal-kapal yang melintasi selat tersebut akan dikenai tarif baru. Namun, ia memberikan catatan penting bahwa China dan negara-negara yang dianggap “negara sahabat” akan menerima “perlakuan khusus”..
Secara simultan, Komando Pusat AS (US Central Command/CENTCOM) mengumumkan bahwa pasukan mereka telah melancarkan gelombang serangan terbaru terhadap puluhan target di Iran. Serangan ini, yang dilaporkan berlangsung sejak Minggu malam hingga Senin dini hari, dirancang untuk melemahkan kemampuan Iran dalam mengganggu pelayaran internasional. CENTCOM menyatakan bahwa pesawat tempur, kapal perang, dan drone militer AS telah “menyelesaikan gelombang baru serangan ofensif terhadap Iran… dengan menghantam puluhan target di berbagai lokasi menggunakan amunisi berpemandu presisi guna melemahkan kemampuan Iran untuk terus menyerang pelayaran internasional yang melintasi Selat Hormuz.”.
Akar Konflik dan Perebutan Penguasaan Selat Hormuz
Perang retorika dan tindakan militer antara AS dan Iran selama sepekan terakhir berakar pada klaim yang saling bertentangan mengenai kontrol atas jalur perdagangan energi yang sangat strategis ini. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah mengeluarkan peringatan bahwa Selat Hormuz kini “ditutup”, sembari berulang kali menegaskan bahwa perairan tersebut tetap berada di bawah kendali Iran. Di sisi lain, AS secara tegas bersikeras bahwa selat tersebut harus tetap terbuka untuk semua lalu lintas maritim dan tidak berada di bawah kendali eksklusif Iran.
Operasi Balasan IRGC
Sebagai bagian dari fase kelima operasi balasannya, IRGC dilaporkan melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di negara-negara Arab pada Senin (13/7). IRGC mengklaim telah berhasil menargetkan “instalasi dan infrastruktur militer agresor Amerika Serikat” di Juffair, Bahrain, yang dilaporkan terbakar. Selain itu, mereka juga mengklaim telah menyerang “radar udara jarak jauh FPS dan radar pendeteksi kapal di Oman”.
Dalam fase keempat operasi balasannya yang dilakukan pada Senin dini hari, IRGC juga menyatakan telah melancarkan serangan ke Kuwait. Mereka mengklaim telah menargetkan sebuah pangkalan rudal darat-ke-darat milik Amerika Serikat di Kuwait, yang mengakibatkan “dua peluncur rudal HIMARS beserta gudang penyimpanan rudal, sehingga keduanya hancur total.”. Tindakan ini semakin mempertegas eskalasi konflik yang berpotensi mengganggu stabilitas regional dan global.
Add wartakita.id as a preferred source on Google























