Kamis, 1 Oktober 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Berita Terkini

Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial

by Pewarta Warga
12/01/2026
in Berita Terkini
Reading Time: 5 mins read
A A
img-1768204389-7320ee1f5331dee4

Wartakita.id – Aceh masih berjuang memulihkan diri berbulan-bulan pasca-Siklon Senyar menerjang pesisir utara. Bencana akhir November lalu menyebabkan lebih dari 500 korban jiwa dan ratusan ribu pengungsi, menyingkap kerentanan mendalam yang berakar pada sejarah panjang eksploitasi.

Poin Kunci:

  • Siklon Senyar mengungkap kerentanan Aceh terhadap bencana, yang akarnya bukan hanya perubahan iklim atau geografi, melainkan warisan kolonialisme dan pembangunan pascakolonial.
  • Kebijakan kolonial Belanda menciptakan distribusi kekuasaan dan sumber daya yang timpang, serta konversi lahan hutan menjadi perkebunan monokultur.
  • Model pembangunan pascakemerdekaan cenderung melanjutkan institusi top-down dan fokus pada industri ekstraktif, memperburuk degradasi lingkungan dan mata pencaharian masyarakat.
  • Kegagalan institusional dalam menerjemahkan peringatan dini menjadi tindakan efektif berkontribusi pada tingginya korban jiwa dan dampak bencana.
  • Mitigasi bencana di masa depan harus berfokus pada keadilan sosial, pengakuan pengetahuan lokal, dan pengurangan kerentanan mendasar, bukan hanya ancaman geologis.

Menguak Akar Kerentanan Aceh: Siklon Senyar dan Jejak Kolonialisme

Berbulan-bulan pasca-Siklon Senyar menghantam pesisir utara Sumatra, Aceh masih bergulat dengan dampak kehancuran. Bencana yang terjadi pada akhir November lalu ini tidak hanya menyebabkan hujan deras dan banjir meluas di sebagian wilayah Indonesia, Malaysia, dan Thailand, tetapi juga merenggut lebih dari 500 nyawa di Aceh dan memaksa sekitar 250.000 warga mengungsi.

Meskipun faktor-faktor seperti suhu laut yang menghangat akibat perubahan iklim, deforestasi, dan kondisi geografis Aceh unik turut berperan, sebuah analisis mendalam menunjukkan bahwa akar masalah kerentanan Aceh seringkali terabaikan. Kerentanan ini dapat ditelusuri kembali ke era kolonialisme, periode yang menciptakan distribusi kekuasaan, kekayaan, dan sumber daya yang timpang, yang kemudian diperkuat oleh model pembangunan pascakolonial.

Peran Belanda dalam Membentuk Kerentanan Aceh

Sejak akhir abad ke-16, pemerintah kolonial Belanda telah membangun infrastruktur dan kebijakan yang bertujuan untuk memfasilitasi ekstraksi sumber daya alam di Indonesia. Di Aceh, fokus Belanda terarah pada penaklukan dan eksploitasi. Pelabuhan Kuala Langsa, yang menjadi lokasi pendaratan Siklon Senyar, dibuka oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada tahun 1907, diikuti investasi besar pada perkebunan karet dan kelapa sawit.

Kebijakan kolonial seperti ‘Ethische Politiek’ (Kebijakan Etis) memberikan kesempatan pendidikan bagi elit lokal, namun lebih bertujuan untuk membantu Belanda memimpin koloni. Elit ini juga diberikan tanah komunal untuk memperluas pertanian dan mengeksploitasi sumber daya alam, yang justru menciptakan perpecahan di kalangan masyarakat Aceh. Dampak jangka panjang pada lingkungan alam pun tak terhindarkan: hutan yang kaya keanekaragaman hayati diubah menjadi perkebunan monokultur, pelabuhan diperluas, dan daratan serta lautan dieksploitasi secara besar-besaran.

Warisan Kolonial dalam Pembangunan Pascakemerdekaan

Pemerintah pasca-kemerdekaan di Indonesia, termasuk di Aceh, cenderung mempertahankan institusi top-down yang diciptakan oleh Belanda. Fokus ekonomi pada industri ekstraktif, seperti lada, kopra, dan minyak bumi, terus dilanjutkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Kombinasi kedua faktor ini terus memberikan dampak buruk pada lingkungan dan mata pencaharian masyarakat.

Di Kuala Langsa, transisi dari perikanan tradisional ke budidaya udang windu intensif pada tahun 1970-an, sebagai bagian dari program pengembangan perikanan, justru merusak hutan mangrove pesisir dan menurunkan kualitas air. Keruntuhan industri udang pada awal 1990-an akibat wabah penyakit semakin memperburuk kondisi ini. Konflik bersenjata antara pemerintah dan separatis (1976-2005) juga menyebabkan lonjakan migrasi ke Kuala Langsa, menambah tekanan pada lingkungan. Bencana tsunami 2004 menghancurkan hutan mangrove yang tersisa, memperparah kesulitan mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada hasil laut.

Perubahan Lingkungan dan Pengambilan Keputusan yang Bermasalah

Bencana yang melanda Langsa dan wilayah Aceh lainnya bukanlah semata-mata akibat faktor iklim dan geofisika. Bahaya berubah menjadi bencana karena keputusan yang dibuat oleh para pemangku kepentingan yang secara inheren membuat masyarakat rentan. Antara tahun 1990 hingga 2024, hampir 160.000 hektar hutan ditebangi untuk perkebunan kelapa sawit monokultur di bawah izin dari Kementerian Kehutanan. Konversi lahan ini mengurangi kemampuan tanah menyerap air hujan, mengubah hujan deras menjadi limpasan yang dapat menyebabkan tanah longsor.

Hutan yang menjadi sumber pangan dan pendapatan bagi masyarakat, termasuk buah-buahan dan tanaman obat, juga terdampak. Hal ini tidak hanya mempengaruhi ekonomi lokal tetapi juga pengetahuan tradisional yang terkait. Kerentanan Aceh berakar pada degradasi lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam masif, instabilitas akibat konflik bersenjata, pengambilan keputusan terpusat yang bersifat top-down oleh pemerintah, serta institusi yang lemah akibat tata kelola yang buruk dan korupsi.

Masa Depan Mitigasi Bencana: Keadilan Sosial dan Pengetahuan Lokal

Upaya penguatan mitigasi bencana di Aceh sejauh ini belum secara efektif mengatasi kerentanan mendasar yang ada. Proyek-proyek pembangunan seringkali gagal menyentuh faktor-faktor yang justru menurunkan kerentanan kelompok paling terpinggirkan. Rencana kontingensi bencana masih cenderung fokus pada ancaman geologi, alih-alih mengadopsi pendekatan multi-ancaman yang komprehensif, yang terbukti belum berhasil memperkuat kesiapan institusi yang bertanggung jawab dalam pengurangan risiko bencana.

Sebagai wilayah yang rawan banjir keempat di Indonesia, otoritas lokal dan provinsi di Aceh perlu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi peristiwa cuaca ekstrem agar kejadian serupa Siklon Senyar tidak lagi menimbulkan kehancuran. Seiring perubahan iklim yang meningkatkan frekuensi dan intensitas badai, upaya pengurangan risiko bencana harus berpusat pada pengurangan kerentanan dan keadilan sosial. Distribusi kekayaan, kekuasaan, dan sumber daya yang adil hanya dapat terwujud jika pengetahuan lokal dan adat istiadat diakui dan dilibatkan dalam membangun komunitas yang berkelanjutan.

Rekomendasikan Wartakita.id

BACA JUGA:

Gempa Magnitudo di Atas 3,0 di Indonesia: Laporan 24 Jam Terakhir (Hingga 19 September 2026)

Gunung Semeru Erupsi Tiga Kali, Kolom Abu Capai 1.000 Meter, Warga Jawa Timur Diimbau Waspada

Erupsi Semeru Kembali Terjadi: Kolom Abu 1.000 Meter, Warga Diminta Jauhi Sektor Tenggara

Nepal & China Peringatkan Risiko Banjir Bandang Susulan Himalaya Akibat Danau Longsor

Sulawesi Selatan Siagakan Satgas Terpadu Hadapi Ancaman Karhutla Ekstrem

Tags: AcehKerentanan BencanaKolonialismeMitigasi BencanaPembangunan Pascakolonialperubahan iklimSiklon Senyar
Share10Tweet6Send

ARTIKEL TERKAIT

Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured

Komisi II DPR Tegaskan Ombudsman Laporkan Temuan Lapas Cibinong Seadanya

30/09/2026
Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured

Analisis Kinerja Pemerintah: Membedah Data Ekonomi, Kesejahteraan, dan Pembangunan di Balik Narasi ‘Prestasi Buruk’

30/09/2026
Wartakita Macet Di Tol Rawan Kejahatan Large

DKI Jakarta Perluas Transportasi Gratis untuk 21 Golongan Mulai 2027

30/09/2026
Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured

Kemenkumham Sulbar Tegaskan Tak Ada Perda Izinkan Pembukaan Lahan dengan Bakar

29/09/2026
Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured

Bupati Gowa Tersangka Kasus Korupsi & TPPU: Gubernur Sulsel Pastikan Pemerintahan Tetap Berjalan

29/09/2026
Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured

DPR Mendesak KemenPUPR & BMKG: Perlu Mitigasi El Nino untuk Cegah Krisis Air Bersih

28/09/2026
Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured

Menteri Agus Andrianto Sebut Sidak Ombudsman Momentum Penertiban Lapas

27/09/2026
Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured

Gubernur Sulsel Tunggu Surat Resmi: Nasib Bupati Gowa Ditentukan Proses Hukum

27/09/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured

    Asian Games 2026: Atlet Sulsel Jadi Tumpuan Indonesia, Bidik Emas di Tengah Ketatnya Persaingan Nagoya

    69 shares
    Share 28 Tweet 17
  • Guruh Soekarnoputra Berpulang: Seniman Multitalenta Mengembuskan Napas Terakhir Setelah Perjuangan Panjang

    45 shares
    Share 18 Tweet 11
  • Wisata Dan Tradisi Nyekar Di Pulau Libukang Palopo

    336 shares
    Share 134 Tweet 84
  • Hilirisasi Nikel Indonesia 2026: Target Ambisius Jadi Pusat Baterai EV Dunia, Mampukah Wujudkan Ekosistem Terintegrasi?

    28 shares
    Share 11 Tweet 7
  • 10 Hak Dasar Warga Negara Indonesia yang Harus Kamu Tahu dan Contoh Nyata di Kehidupan Sehari-hari

    115 shares
    Share 46 Tweet 29
  • Bupati Gowa Ditetapkan Tersangka, Polda Sulsel Tegaskan Tidak Ada Penahanan

    24 shares
    Share 10 Tweet 6
  • Delegasi Indonesia Trending di X.com: Menimbang Ketegasan Politik dan Prospek Diplomasi Ekonomi di Kancah Global

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Harga Kopra Sulawesi Bergerak Liar: Petani Kelapa Terjepit, Hilirisasi Jadi Harapan

    109 shares
    Share 44 Tweet 27
  • Sulsel Perkuat Pendidikan Vokasi, Jawab Tantangan Industri 4.0 dan Pengangguran

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Oops! Noda Cat Rambut Nempel di Baju? Salwa Punya Jurus Anti-Gagal Nih!

    47 shares
    Share 19 Tweet 12
wartakita-id-buku-saku-bencana-bnpb_cr

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Ingin Rambut ‘Badai’ ala Jisoo Tapi Budget Terbatas? Ini 3 Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan!

29/11/2025
skincare kulit kering 2 e1766181785188.jpg
Fashion & Kecantikan

7 Jurus Pilih Pelembap Bikin Glowing Sehat

20/12/2025
parfum untuk jomblo_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Bosan Jomblo atau Hubungan Terasa Hambar? Pikat dengan 4 Parfum “Date Night” Menggoda Ini

29/11/2025
vespa sprint atau primavera_wartakita.id
Otomotif

Vespa Primavera vs. Sprint 2025: Dua Jiwa, Satu Mesin, Pilihan Anda?

30/11/2025
1766621435-7-gadget-traveling-wajib-bawa-buat-liburan-nataru-anti-lowbat.jpg
Gadget

7 Gadget Traveling Wajib Bawa Buat Liburan Nataru (Anti Lowbat)

25/12/2025
parfum di tempat kerja_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Ingin Dihormati di Kantor? Ini 4 “Power Scent” Pria & Wanita yang Bikin Aura Anda Seperti CEO

29/11/2025
Hacker-Gunakan-AI-Claude-Code-untuk-Serangan-Otonomus-–-Repiw.jpg
Gadget

Hacker Gunakan AI Claude Code untuk Serangan Otonomus

14/11/2025
featured 1_tn1
Fashion & Kecantikan

Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

14/11/2025
hidup sehat dan seimbang_cr_tn1
Gaya Hidup

Keseimbangan Hidup Optimal: Menjaga Kesehatan dari Dalam dan Luar

24/11/2025
img-1764777491-e442ac7fe1f792b9
Gaya Hidup

Parfum Lokal Wangi Sultan: Mirip Niche Eropa, Harga Murah!

04/12/2025
vespa 2026_cr_tn1
Otomotif

Bukan Sekadar Skuter: Panduan Memilih Vespa Impian Anda di Tahun 2026

23/11/2025
insta360-go-3s-780x470.jpg
Gadget

Insta360 GO 3S Hadir dengan Video 4K dan Dukungan Apple Find My

25/07/2024
tips-keselamatan
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.