Kamis, 30 April 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Berita Terkini

Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial

by Pewarta Warga
12/01/2026
in Berita Terkini
Reading Time: 5 mins read
A A
Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured

Wartakita.id – Aceh masih berjuang memulihkan diri berbulan-bulan pasca-Siklon Senyar menerjang pesisir utara. Bencana akhir November lalu menyebabkan lebih dari 500 korban jiwa dan ratusan ribu pengungsi, menyingkap kerentanan mendalam yang berakar pada sejarah panjang eksploitasi.

Poin Kunci:

  • Siklon Senyar mengungkap kerentanan Aceh terhadap bencana, yang akarnya bukan hanya perubahan iklim atau geografi, melainkan warisan kolonialisme dan pembangunan pascakolonial.
  • Kebijakan kolonial Belanda menciptakan distribusi kekuasaan dan sumber daya yang timpang, serta konversi lahan hutan menjadi perkebunan monokultur.
  • Model pembangunan pascakemerdekaan cenderung melanjutkan institusi top-down dan fokus pada industri ekstraktif, memperburuk degradasi lingkungan dan mata pencaharian masyarakat.
  • Kegagalan institusional dalam menerjemahkan peringatan dini menjadi tindakan efektif berkontribusi pada tingginya korban jiwa dan dampak bencana.
  • Mitigasi bencana di masa depan harus berfokus pada keadilan sosial, pengakuan pengetahuan lokal, dan pengurangan kerentanan mendasar, bukan hanya ancaman geologis.

Menguak Akar Kerentanan Aceh: Siklon Senyar dan Jejak Kolonialisme

Berbulan-bulan pasca-Siklon Senyar menghantam pesisir utara Sumatra, Aceh masih bergulat dengan dampak kehancuran. Bencana yang terjadi pada akhir November lalu ini tidak hanya menyebabkan hujan deras dan banjir meluas di sebagian wilayah Indonesia, Malaysia, dan Thailand, tetapi juga merenggut lebih dari 500 nyawa di Aceh dan memaksa sekitar 250.000 warga mengungsi.

Meskipun faktor-faktor seperti suhu laut yang menghangat akibat perubahan iklim, deforestasi, dan kondisi geografis Aceh unik turut berperan, sebuah analisis mendalam menunjukkan bahwa akar masalah kerentanan Aceh seringkali terabaikan. Kerentanan ini dapat ditelusuri kembali ke era kolonialisme, periode yang menciptakan distribusi kekuasaan, kekayaan, dan sumber daya yang timpang, yang kemudian diperkuat oleh model pembangunan pascakolonial.

Peran Belanda dalam Membentuk Kerentanan Aceh

Sejak akhir abad ke-16, pemerintah kolonial Belanda telah membangun infrastruktur dan kebijakan yang bertujuan untuk memfasilitasi ekstraksi sumber daya alam di Indonesia. Di Aceh, fokus Belanda terarah pada penaklukan dan eksploitasi. Pelabuhan Kuala Langsa, yang menjadi lokasi pendaratan Siklon Senyar, dibuka oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada tahun 1907, diikuti investasi besar pada perkebunan karet dan kelapa sawit.

Kebijakan kolonial seperti ‘Ethische Politiek’ (Kebijakan Etis) memberikan kesempatan pendidikan bagi elit lokal, namun lebih bertujuan untuk membantu Belanda memimpin koloni. Elit ini juga diberikan tanah komunal untuk memperluas pertanian dan mengeksploitasi sumber daya alam, yang justru menciptakan perpecahan di kalangan masyarakat Aceh. Dampak jangka panjang pada lingkungan alam pun tak terhindarkan: hutan yang kaya keanekaragaman hayati diubah menjadi perkebunan monokultur, pelabuhan diperluas, dan daratan serta lautan dieksploitasi secara besar-besaran.

Warisan Kolonial dalam Pembangunan Pascakemerdekaan

Pemerintah pasca-kemerdekaan di Indonesia, termasuk di Aceh, cenderung mempertahankan institusi top-down yang diciptakan oleh Belanda. Fokus ekonomi pada industri ekstraktif, seperti lada, kopra, dan minyak bumi, terus dilanjutkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Kombinasi kedua faktor ini terus memberikan dampak buruk pada lingkungan dan mata pencaharian masyarakat.

Di Kuala Langsa, transisi dari perikanan tradisional ke budidaya udang windu intensif pada tahun 1970-an, sebagai bagian dari program pengembangan perikanan, justru merusak hutan mangrove pesisir dan menurunkan kualitas air. Keruntuhan industri udang pada awal 1990-an akibat wabah penyakit semakin memperburuk kondisi ini. Konflik bersenjata antara pemerintah dan separatis (1976-2005) juga menyebabkan lonjakan migrasi ke Kuala Langsa, menambah tekanan pada lingkungan. Bencana tsunami 2004 menghancurkan hutan mangrove yang tersisa, memperparah kesulitan mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada hasil laut.

Perubahan Lingkungan dan Pengambilan Keputusan yang Bermasalah

Bencana yang melanda Langsa dan wilayah Aceh lainnya bukanlah semata-mata akibat faktor iklim dan geofisika. Bahaya berubah menjadi bencana karena keputusan yang dibuat oleh para pemangku kepentingan yang secara inheren membuat masyarakat rentan. Antara tahun 1990 hingga 2024, hampir 160.000 hektar hutan ditebangi untuk perkebunan kelapa sawit monokultur di bawah izin dari Kementerian Kehutanan. Konversi lahan ini mengurangi kemampuan tanah menyerap air hujan, mengubah hujan deras menjadi limpasan yang dapat menyebabkan tanah longsor.

Hutan yang menjadi sumber pangan dan pendapatan bagi masyarakat, termasuk buah-buahan dan tanaman obat, juga terdampak. Hal ini tidak hanya mempengaruhi ekonomi lokal tetapi juga pengetahuan tradisional yang terkait. Kerentanan Aceh berakar pada degradasi lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam masif, instabilitas akibat konflik bersenjata, pengambilan keputusan terpusat yang bersifat top-down oleh pemerintah, serta institusi yang lemah akibat tata kelola yang buruk dan korupsi.

Masa Depan Mitigasi Bencana: Keadilan Sosial dan Pengetahuan Lokal

Upaya penguatan mitigasi bencana di Aceh sejauh ini belum secara efektif mengatasi kerentanan mendasar yang ada. Proyek-proyek pembangunan seringkali gagal menyentuh faktor-faktor yang justru menurunkan kerentanan kelompok paling terpinggirkan. Rencana kontingensi bencana masih cenderung fokus pada ancaman geologi, alih-alih mengadopsi pendekatan multi-ancaman yang komprehensif, yang terbukti belum berhasil memperkuat kesiapan institusi yang bertanggung jawab dalam pengurangan risiko bencana.

Sebagai wilayah yang rawan banjir keempat di Indonesia, otoritas lokal dan provinsi di Aceh perlu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi peristiwa cuaca ekstrem agar kejadian serupa Siklon Senyar tidak lagi menimbulkan kehancuran. Seiring perubahan iklim yang meningkatkan frekuensi dan intensitas badai, upaya pengurangan risiko bencana harus berpusat pada pengurangan kerentanan dan keadilan sosial. Distribusi kekayaan, kekuasaan, dan sumber daya yang adil hanya dapat terwujud jika pengetahuan lokal dan adat istiadat diakui dan dilibatkan dalam membangun komunitas yang berkelanjutan.

BACA JUGA:

Moh. Jumhur Hidayat: Aktivis Buruh Jadi Menteri Lingkungan Hidup, Harapan Baru untuk Indonesia Lestari

Gempa 7,7 Magnitudo Guncang Jepang Timur Laut: Kronologi, Evakuasi Massal, dan Peringatan Tsunami

Prediksi Cuaca Panas Ekstrem ‘Godzilla El Niño’ Landa Indonesia Mulai April 2026

BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Lebih Kering, dan Lebih Panjang

Pemerintah Komitmen Penuh: Pemulihan Lahan Perhutanan Sosial Terdampak Banjir di Aceh, Sumut, dan Sumbar Segera Dilakukan

Tags: AcehKerentanan BencanaKolonialismeMitigasi BencanaPembangunan Pascakolonialperubahan iklimSiklon Senyar
Share7Tweet5Send
Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger

ARTIKEL TERKAIT

Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured

Iran Ajukan Proposal Damai Baru: Hentikan Serangan Selat Hormuz, Syaratkan Akhiri Perang dan Cabut Blokade AS

29/04/2026
Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured

Pengumuman Hasil TKA SD & SMP 2026: Jadwal, Materi Ujian, dan Cara Cek Nilai

29/04/2026
Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured

Tragedi Bekasi: 15 Tewas, Penumpang Terjepit 10 Jam Pasca Tabrakan Kereta Argo Bromo dan KRL

29/04/2026
Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured

Bea Cukai Sulbagsel Gagalkan 670 Ribu Rokok Ilegal di Gowa, Selamatkan Rp650 Juta Potensi Kerugian Negara

29/04/2026
Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured

Mengenal CNG: Solusi Energi Gas Alam Terkompresi Pengganti LPG di Indonesia

28/04/2026
Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured

Respon Green SM Pasca Kecelakaan Kereta Bekasi: Pernyataan Resmi Tanpa Empati Tuai Kritik

28/04/2026
Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured

BREAKING NEWS: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Gerbong Perempuan Ringsek Parah

28/04/2026
Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured

Moh. Jumhur Hidayat: Aktivis Buruh Jadi Menteri Lingkungan Hidup, Harapan Baru untuk Indonesia Lestari

28/04/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured

    BREAKING NEWS: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Gerbong Perempuan Ringsek Parah

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • APBN 2026 ‘Survival Mode’: Menteri Keuangan Purbaya Tegaskan Nol Toleransi untuk Inefisiensi dan Kebocoran

    25 shares
    Share 10 Tweet 6
  • Respon Green SM Pasca Kecelakaan Kereta Bekasi: Pernyataan Resmi Tanpa Empati Tuai Kritik

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Koperasi Desa Merah Putih: Ambisi Ekonomi Rakyat atau Beban Fiskal Baru?

    21 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Kode CMD Untuk Mempercepat Kinerja Laptop

    597 shares
    Share 239 Tweet 149
  • Kota Makassar Memasuki Musim Penghujan

    38 shares
    Share 15 Tweet 10
  • Pengumuman Hasil TKA SD & SMP 2026: Jadwal, Materi Ujian, dan Cara Cek Nilai

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Indonesia Gelontorkan Rp5 Triliun untuk Modernisasi Laboratorium Karantina, Target Sejajar Negara Maju 2027

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Unhas Resmikan Satuan Pelayanan Gizi, Langkah Krusial Dukung Program Makan Bergizi Gratis Presiden

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • Yamaha RX King 155 VVA 2026: Raja Jalanan Kembali dengan Teknologi VVA Modern

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured
Otomotif

Ancaman Mogok Akibat Aki Lemah di Musim Hujan: Kenapa Perawatan Mandiri Mobil LCGC Jadi Krusial?

16/11/2025
menari bersama misteri nara saluna
Gaya Hidup

Merasa Tertinggal dari Teman Seusiamu? Mari Berdamai dengan “Garis Waktu” Hidup yang Tak Terduga

29/11/2025
Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured
Gaya Hidup

Aroma Kopi Pagi Anda, Tetap Hangat Sempurna Hingga Siang

06/12/2025
Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured
Gaya Hidup

Cara agar Hidup Anak Kost Lebih Tenang di Dapur dan Rumah

22/11/2025
Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured
Gadget

Labirin Pilihan Smartphone Modern: Dari Fotografi Hingga Gaming

15/11/2025
Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured
Gaya Hidup

Parfum Lokal Wangi Sultan: Mirip Niche Eropa, Harga Murah!

04/12/2025
Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured
Gaya Hidup

Ancaman Senyap di Meja Kerja: Hindari 5 Kebiasaan Buruk WFH Ini Demi Kesehatan Anda

21/11/2025
Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured
Otomotif

Vespa Primavera vs. Sprint 2025: Dua Jiwa, Satu Mesin, Pilihan Anda?

30/11/2025
Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured
Gaya Hidup

Rambut Rontok Parah? Kenali Penyebab dan Solusi Alami

24/11/2025
Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured
Fashion & Kecantikan

Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

14/11/2025
Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured
Gaya Hidup

Aroma yang Tak Terlupakan: Rahasia Kepercayaan Diri Pria Modern

02/12/2025
Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured
Gadget

Insta360 GO 3S Hadir dengan Video 4K dan Dukungan Apple Find My

25/07/2024
Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial - Featured
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.