Minggu, 25 Oktober 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Berita Terkini

Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial

by Pewarta Warga
12/01/2026
in Berita Terkini
Reading Time: 5 mins read
A A
img-1768204389-7320ee1f5331dee4

Wartakita.id – Aceh masih berjuang memulihkan diri berbulan-bulan pasca-Siklon Senyar menerjang pesisir utara. Bencana akhir November lalu menyebabkan lebih dari 500 korban jiwa dan ratusan ribu pengungsi, menyingkap kerentanan mendalam yang berakar pada sejarah panjang eksploitasi.

Poin Kunci:

  • Siklon Senyar mengungkap kerentanan Aceh terhadap bencana, yang akarnya bukan hanya perubahan iklim atau geografi, melainkan warisan kolonialisme dan pembangunan pascakolonial.
  • Kebijakan kolonial Belanda menciptakan distribusi kekuasaan dan sumber daya yang timpang, serta konversi lahan hutan menjadi perkebunan monokultur.
  • Model pembangunan pascakemerdekaan cenderung melanjutkan institusi top-down dan fokus pada industri ekstraktif, memperburuk degradasi lingkungan dan mata pencaharian masyarakat.
  • Kegagalan institusional dalam menerjemahkan peringatan dini menjadi tindakan efektif berkontribusi pada tingginya korban jiwa dan dampak bencana.
  • Mitigasi bencana di masa depan harus berfokus pada keadilan sosial, pengakuan pengetahuan lokal, dan pengurangan kerentanan mendasar, bukan hanya ancaman geologis.

Menguak Akar Kerentanan Aceh: Siklon Senyar dan Jejak Kolonialisme

Berbulan-bulan pasca-Siklon Senyar menghantam pesisir utara Sumatra, Aceh masih bergulat dengan dampak kehancuran. Bencana yang terjadi pada akhir November lalu ini tidak hanya menyebabkan hujan deras dan banjir meluas di sebagian wilayah Indonesia, Malaysia, dan Thailand, tetapi juga merenggut lebih dari 500 nyawa di Aceh dan memaksa sekitar 250.000 warga mengungsi.

Meskipun faktor-faktor seperti suhu laut yang menghangat akibat perubahan iklim, deforestasi, dan kondisi geografis Aceh unik turut berperan, sebuah analisis mendalam menunjukkan bahwa akar masalah kerentanan Aceh seringkali terabaikan. Kerentanan ini dapat ditelusuri kembali ke era kolonialisme, periode yang menciptakan distribusi kekuasaan, kekayaan, dan sumber daya yang timpang, yang kemudian diperkuat oleh model pembangunan pascakolonial.

Peran Belanda dalam Membentuk Kerentanan Aceh

Sejak akhir abad ke-16, pemerintah kolonial Belanda telah membangun infrastruktur dan kebijakan yang bertujuan untuk memfasilitasi ekstraksi sumber daya alam di Indonesia. Di Aceh, fokus Belanda terarah pada penaklukan dan eksploitasi. Pelabuhan Kuala Langsa, yang menjadi lokasi pendaratan Siklon Senyar, dibuka oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada tahun 1907, diikuti investasi besar pada perkebunan karet dan kelapa sawit.

Kebijakan kolonial seperti ‘Ethische Politiek’ (Kebijakan Etis) memberikan kesempatan pendidikan bagi elit lokal, namun lebih bertujuan untuk membantu Belanda memimpin koloni. Elit ini juga diberikan tanah komunal untuk memperluas pertanian dan mengeksploitasi sumber daya alam, yang justru menciptakan perpecahan di kalangan masyarakat Aceh. Dampak jangka panjang pada lingkungan alam pun tak terhindarkan: hutan yang kaya keanekaragaman hayati diubah menjadi perkebunan monokultur, pelabuhan diperluas, dan daratan serta lautan dieksploitasi secara besar-besaran.

Warisan Kolonial dalam Pembangunan Pascakemerdekaan

Pemerintah pasca-kemerdekaan di Indonesia, termasuk di Aceh, cenderung mempertahankan institusi top-down yang diciptakan oleh Belanda. Fokus ekonomi pada industri ekstraktif, seperti lada, kopra, dan minyak bumi, terus dilanjutkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Kombinasi kedua faktor ini terus memberikan dampak buruk pada lingkungan dan mata pencaharian masyarakat.

Di Kuala Langsa, transisi dari perikanan tradisional ke budidaya udang windu intensif pada tahun 1970-an, sebagai bagian dari program pengembangan perikanan, justru merusak hutan mangrove pesisir dan menurunkan kualitas air. Keruntuhan industri udang pada awal 1990-an akibat wabah penyakit semakin memperburuk kondisi ini. Konflik bersenjata antara pemerintah dan separatis (1976-2005) juga menyebabkan lonjakan migrasi ke Kuala Langsa, menambah tekanan pada lingkungan. Bencana tsunami 2004 menghancurkan hutan mangrove yang tersisa, memperparah kesulitan mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada hasil laut.

Perubahan Lingkungan dan Pengambilan Keputusan yang Bermasalah

Bencana yang melanda Langsa dan wilayah Aceh lainnya bukanlah semata-mata akibat faktor iklim dan geofisika. Bahaya berubah menjadi bencana karena keputusan yang dibuat oleh para pemangku kepentingan yang secara inheren membuat masyarakat rentan. Antara tahun 1990 hingga 2024, hampir 160.000 hektar hutan ditebangi untuk perkebunan kelapa sawit monokultur di bawah izin dari Kementerian Kehutanan. Konversi lahan ini mengurangi kemampuan tanah menyerap air hujan, mengubah hujan deras menjadi limpasan yang dapat menyebabkan tanah longsor.

Hutan yang menjadi sumber pangan dan pendapatan bagi masyarakat, termasuk buah-buahan dan tanaman obat, juga terdampak. Hal ini tidak hanya mempengaruhi ekonomi lokal tetapi juga pengetahuan tradisional yang terkait. Kerentanan Aceh berakar pada degradasi lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam masif, instabilitas akibat konflik bersenjata, pengambilan keputusan terpusat yang bersifat top-down oleh pemerintah, serta institusi yang lemah akibat tata kelola yang buruk dan korupsi.

Masa Depan Mitigasi Bencana: Keadilan Sosial dan Pengetahuan Lokal

Upaya penguatan mitigasi bencana di Aceh sejauh ini belum secara efektif mengatasi kerentanan mendasar yang ada. Proyek-proyek pembangunan seringkali gagal menyentuh faktor-faktor yang justru menurunkan kerentanan kelompok paling terpinggirkan. Rencana kontingensi bencana masih cenderung fokus pada ancaman geologi, alih-alih mengadopsi pendekatan multi-ancaman yang komprehensif, yang terbukti belum berhasil memperkuat kesiapan institusi yang bertanggung jawab dalam pengurangan risiko bencana.

Sebagai wilayah yang rawan banjir keempat di Indonesia, otoritas lokal dan provinsi di Aceh perlu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi peristiwa cuaca ekstrem agar kejadian serupa Siklon Senyar tidak lagi menimbulkan kehancuran. Seiring perubahan iklim yang meningkatkan frekuensi dan intensitas badai, upaya pengurangan risiko bencana harus berpusat pada pengurangan kerentanan dan keadilan sosial. Distribusi kekayaan, kekuasaan, dan sumber daya yang adil hanya dapat terwujud jika pengetahuan lokal dan adat istiadat diakui dan dilibatkan dalam membangun komunitas yang berkelanjutan.

Rekomendasikan Wartakita.id

BACA JUGA:

BMKG Peringatkan Hujan Lebat di Aceh Besok, Perhatikan Wilayah Ini

BMKG Ungkap: Kabut Asap di Aceh Disebabkan Asap Kiriman dari Kalimantan dan Sumatera

Perubahan Iklim: Ancaman Nyata bagi Kesehatan Kulit di Negara Berpendapatan Rendah

Gelombang Panas: Dampak Stres dan Kesehatan Mental yang Menakutkan

Leonardo DiCaprio Angkat Bicara: Karhutla Indonesia Ancaman Nyata bagi Satwa Liar dan Iklim

Tags: AcehKerentanan BencanaKolonialismeMitigasi BencanaPembangunan Pascakolonialperubahan iklimSiklon Senyar
Share10Tweet6Send

ARTIKEL TERKAIT

A grand legislative building in South Sulawesi, symbolizing the Golkar Party. The building features a prominent dome, a golden shield emblem, and a well-maintained green landscape, representing the pa

Ketua Golkar Sulsel IAS Target Peningkatan Kursi Legislatif 50%

25/10/2026
A grand entrance of the Indonesian Defense Ministry with intricate marble pillars and a fluttering national flag, symbolizing the legacy of MA. Untung Widodo AS, the first Chief of the Indonesian Arme

Widodo AS, Panglima TNI Pertama RI dari Angkatan Laut Berpulang

25/10/2026
The main building of PDI-P is shown with its red and white flag, modern glass facade, and grand entrance. The interior is bright and spacious, with officials and supporters inside. The building is set

PSI Tanggapi Desakan Guru Besar agar Gibran Mundur, Singgung MK

25/10/2026
presiden-prabowo-subianto-memberi-rehabilitasi_cr

Presiden Prabowo Bentuk Dewan Nasional Kesejahteraan Keuangan, Ganti DNKI

25/10/2026
tanker-2

Pengadaan Energi Beralih ke Skema G to G Lewat BLU

25/10/2026
A grand entrance of the National Police Headquarters with its imposing gates and intricate ironwork, illuminated by soft morning light. Inside, the atrium is bathed in natural light through large glas

Kebijakan Kriminal Hadapi Manipulasi Audio AI

25/10/2026
The Ministry of Law and Human Rights building in Jakarta, with its glass facade and emblem, symbolizing the institution's role in human rights. The interior is bright and open, reflecting the professi

Kemenkumham Tetapkan 8 Prioritas HAM Nasional, Dilaporkan ke Presiden

24/10/2026
Bawaslu Mataram headquarters in Mataram, featuring a modern glass and metal exterior with a clear logo. Inside, a team of professionals are analyzing data on AI screens, preparing for the 2029 electio

Bawaslu Mataram Siap Antisipasi Disinformasi dengan AI pada Pemilu 2029

24/10/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • A modern car dealership showroom displaying the latest Toyota Kijang Innova Zenix, with a smartphone being used to activate the vehicle's ignition, highlighting the car's advanced technology and user-

    Toyota Kijang Innova Zenix Dapat Dinyalakan dengan Smartphone, Fitur Baru Ini Meningkatkan Kenyamanan

    186 shares
    Share 74 Tweet 47
  • Ramalan Shio 19-25 Oktober 2026: Siapa yang Beruntung?

    29 shares
    Share 12 Tweet 7
  • Ratusan Warga Kaltim Tebar Benih di Lahan Sisa Karhutla untuk Cegah Perkebunan Sawit

    29 shares
    Share 12 Tweet 7
  • OJK Periksa Underwriter dan Direksi Sekuritas Terkait Dugaan Pidana Pasar Modal

    37 shares
    Share 15 Tweet 9
  • Siap-Siap Jatuh Cinta: Deretan Film Romantis Paling Dinanti di Tahun 2026

    70 shares
    Share 28 Tweet 18
  • Kode CMD Untuk Mempercepat Kinerja Laptop

    874 shares
    Share 350 Tweet 219
  • Hanta Yuda: Pernyataan Jokowi soal Operasi Politik Tidak Luar Biasa

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Gempa M6,9 Guncang Vanuatu, Indonesia Sebagian Masih Berselimut Asap dalam 24 Jam Terakhir

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • Raja Charles III Kutip Hadis Nabi Muhammad Saat Jamu Sultan Oman

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • OJK Klarifikasi Pernyataan Prabowo soal MSCI

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
wartakita-id-buku-saku-bencana-bnpb_cr

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

4 rekomendasi parfum anti gerah dan tahan lama di cuaca indonesia_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Parfum Mahal Tapi Cepat Hilang Kena Keringat? 4 Rekomendasi Parfum “Anti-Gerah” Tahan Lama di Cuaca Indonesia

30/11/2025
Mug CIVAGO dengan lapisan keramik & insulasi vakum tahan 12 jam 1-salwasalon
Gaya Hidup

Aroma Kopi Pagi Anda, Tetap Hangat Sempurna Hingga Siang

06/12/2025
1763287827_Smoothing-vs-Rebonding-vs-Keratin-Mana-yang-Terbaik-untuk-Rambutmu.jpg
Fashion & Kecantikan

Smoothing vs Rebonding vs Keratin: Mana yang Terbaik untuk Rambutmu?

16/11/2025
menari bersama misteri nara saluna
Gaya Hidup

Merasa Tertinggal dari Teman Seusiamu? Mari Berdamai dengan “Garis Waktu” Hidup yang Tak Terduga

29/11/2025
parfum untuk jomblo_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Bosan Jomblo atau Hubungan Terasa Hambar? Pikat dengan 4 Parfum “Date Night” Menggoda Ini

29/11/2025
img 1764471350 26f1c112a772ad44.jpg
Fashion & Kecantikan

Azzaro The Most Wanted: Parfum Pria yang Memikat dengan Aroma Melenakan

14/12/2025
img-1764775654-b12300608d9039ae
Otomotif

Modifikasi Vespa Matic: 10 Aksesoris ‘Proper’ Budget Pelajar-Sultan

04/12/2025
insta360-go-3s-780x470.jpg
Gadget

Insta360 GO 3S Hadir dengan Video 4K dan Dukungan Apple Find My

25/07/2024
Cara Hidup Anak Kost agar Lebih Tenang di Dapur dan Rumah_cr_tn1
Gaya Hidup

Cara agar Hidup Anak Kost Lebih Tenang di Dapur dan Rumah

22/11/2025
skincare kulit kering 2 e1766181785188.jpg
Fashion & Kecantikan

7 Jurus Pilih Pelembap Bikin Glowing Sehat

20/12/2025
featured 1_tn1
Fashion & Kecantikan

Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

14/11/2025
Seni Merawat Vespa Matic_wartakita.id
Otomotif

Seni Merawat Vespa Matic: Bebaskan Gredek, Nikmati Perjalanan Halus

06/12/2025
tips-keselamatan
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.