Rabu, 17 Juni 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Berita Terkini

Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan

by Warteknet
30/12/2025
in Berita Terkini
Reading Time: 8 mins read
A A
Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan - Featured

Wartakita.id – Saat senja mulai merayap dan azan magrib bergema, Puskesmas Pantee Bidari di Aceh Timur justru terdiam, lumpuh. Bangunan dan fasilitasnya porak-poranda diterjang banjir, menyisakan cerita pahit tentang perjuangan tanpa henti para tenaga kesehatan (nakes) di garda terdepan.

Lumpur Menelan Harapan, Nakes Tetap Berjuang

Langit Aceh Timur masih menyisakan jingga saat kumandang azan magrib terdengar di kejauhan. Namun, di Kecamatan Pantee Bidari, suasana justru sunyi senyap. Pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) di sana bukan lagi tempat yang ramai oleh pasien, melainkan bangunan yang nyaris tak berpenghuni, dipenuhi sisa-sisa lumpur dan kehancuran pasca-banjir.

Kursi sofa, lemari, meja, timbangan bayi, bahkan ranjang pasien, semuanya berserakan di halaman. Bangunan puskesmas yang seharusnya menjadi simbol harapan, kini luluh lantak. Kondisi ini terpantau pada Rabu petang, 24 Desember 2025, atau sekitar tiga pekan setelah banjir menerjang wilayah tersebut.

Kisah Empat Sekawan di Tengah Keprihatinan

Di tengah reruntuhan, di sebuah ruangan yang masih berbekas lumpur, empat orang tenaga kesehatan tengah merebahkan lelah. Mereka adalah dr. Indra Sunarli dan tiga rekannya, perawat dan bidan, yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan sebagai relawan penanganan kesehatan pascabanjir.

World Cup 2026

“Di sini kami empat orang,” ujar dr. Indra, menyambut kedatangan tim pewarta. Ia tiba di Pantee Bidari pada Senin, 22 Desember 2025. Alih-alih sambutan hangat, ia justru dihadapkan pada puskesmas yang lumpuh total. Ruangan pelayanan tergenang lumpur, fasilitas tak ada yang bisa digunakan, obat-obatan, hingga peralatan Unit Gawat Darurat (UGD) pun tak luput dari terjangan banjir.

“Yang tersisa tinggal bangunan puskesmas,” tuturnya getir.

Aktivasi Darurat: Membersihkan Lumpur Demi Pasien

Namun, dr. Indra dan timnya tidak punya waktu untuk mengeluh. Tugas utama mereka adalah mengaktifkan kembali pelayanan kesehatan sesegera mungkin. Bersama personel TNI, mereka bahu-membahu membersihkan gunungan lumpur yang menutupi ruang pelayanan, termasuk ruangan yang mereka jadikan tempat tinggal sementara.

“Enggak disediakan (tempat tinggal). Kami menyediakan sendiri. Kami yang cari. Jadi memanfaatkan yang darurat,” jelas dr. Indra. Mereka memanfaatkan sebuah ruangan tanpa alas tidur di sebelah UGD, membersihkannya dari lumpur, dan menjadikannya tempat beristirahat. Pintu terali besi yang rusak ditutup seadanya dengan tirai.

Kondisi ini membuat mereka merasa seperti pengungsi. Untuk pelayanan kesehatan, aula puskesmas disulap menjadi ruang darurat. Hanya dilengkapi satu ranjang pasien, sebaris kursi baja, dan beberapa meja untuk menumpuk obat.

Pelayanan Keliling: Menjemput Bola di Desa Terisolir

Meskipun fasilitas terbatas, dr. Indra dan timnya tetap memberikan pelayanan standar, mulai dari pemeriksaan hingga suntik vitamin. Dalam sehari, mereka bisa melayani 50-60 pasien di puskesmas. Namun, perjuangan mereka tidak berhenti di situ. Mereka juga aktif turun langsung ke desa-desa terdampak, menjemput bola untuk melayani warga yang tidak bisa datang ke puskesmas.

Namun, upaya menjemput bola ini tidak lepas dari kendala. Keterbatasan alat kesehatan dan obat-obatan menjadi masalah utama. Ditambah lagi, minimnya armada ambulans untuk merujuk pasien ke rumah sakit. “Ambulans ada tapi enggak bisa digunakan. Paling kita hanya bisa kasih obat, terapinya obat saja untuk sementara,” kata dr. Indra.

Kisah Tim FK Unpad: Menerobos Jembatan Putus Demi Pasien

Kisah serupa juga dialami oleh dr. Dani Ferdian, pimpinan Tim Tanggap Bencana Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad). Timnya berangkat ke Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, pada 14 Desember 2025, untuk memberikan pelayanan kesehatan. Namun, mereka juga dihadapkan pada puskesmas yang tertutup lumpur.

Langkah pertama yang dilakukan tim Unpad adalah membersihkan dan mengaktifkan kembali puskesmas, yang syukurnya bangunannya masih utuh meski fasilitasnya ludes. Sambil menunggu puskesmas siap, mereka memberikan pelayanan kesehatan keliling. “Goal besarnya bagaimana melakukan reaktivasi terhadap pelayanan kesehatan dasar di puskesmasnya,” ujar dr. Dani.

Bersama relawan dari universitas lain dan TNI, puskesmas Langkahan berhasil difungsikan darurat pada 18 Desember. Pelayanan kesehatan keliling tetap berjalan paralel.

Menjangkau Daerah Terisolir: Perjuangan Ekstra di Medan Berat

Usai misi aktivasi di Langkahan, tim Unpad membagi tugas. Sebagian tetap di Langkahan, sementara sebagian besar dikirim ke Bener Meriah, khususnya Kecamatan Mesidah yang terisolasi.

World Cup 2026

Akses menuju Mesidah terputus akibat jembatan yang hanyut. Tim Unpad harus berjuang ekstra, bahkan memanggul logistik dan obat-obatan melewati jembatan darurat yang rusak. Perjalanan panjang dan medan yang berat membuat mereka hidup layaknya prajurit, makan makanan ransum dan tidur beralaskan matras atau sleeping bag.

Dilema Relawan: Keterbatasan di Tengah Kebutuhan Mendesak

Para relawan nakes dihadapkan pada berbagai dilema. Keterbatasan fasilitas kesehatan (faskes), obat-obatan, dan kondisi pengungsi menjadi tantangan terbesar.

dr. Michelle Mailangkay, relawan dari Rumah Sakit Apung Laksamana Malahayati, bercerita tentang pengungsi di Babo, Aceh Tamiang, yang mengidap hipertensi dan diabetes melitus. Luka bernanah pada kaki mereka tak mendapatkan perawatan memadai. Akibatnya, luka semakin parah.

BACA JUGA:

Makassar dan UNICEF Bersinergi Tingkatkan Kapasitas Nakes Hadapi KLB Campak

Pos Pantau Angke Hulu Naik Siaga 1, BPBD DKI Waspadai Banjir Cengkareng Drain

Yonzipur 16/DA Pacu Pembangunan Jembatan Bailey Darurat di Aceh Utara, Capai 92% Penyelesaian

Taruna Akademi TNI Turun Tangan Bersihkan SDN 1 Tualang Cut Aceh Tamiang Pascabanjir

Makassar Pimpin APEC Tingkatkan Kesehatan Anak: Rekomendasi Konkret untuk Masa Depan

“Yang punya sakit gula sudah sampai luka-luka,” ujar dr. Michelle. Keterbatasan alat membuat mereka hanya bisa membersihkan luka dengan alkohol dan memberikan obat standar. Kondisi lingkungan yang masih berlumpur, asupan protein yang minim, dan air bersih yang sulit didapat memperburuk kondisi pengungsi.

Pola Makan Darurat, Ancaman Penyakit Menular

dr. Michelle hanya bisa memberikan edukasi tentang pola makan, namun sadar bahwa pengungsi memiliki pilihan terbatas. Bantuan makanan yang diterima seringkali hanya berisi mi instan dan telur.

Hal ini juga diamini dr. Indra. Ia banyak menemui kasus hipertensi akibat pola makan pengungsi yang didominasi mi instan. Selain itu, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) juga tinggi karena debu dan kondisi lingkungan.

“Penyakit yang paling sering, pertama ISPA karena mungkin debu juga. Kemudian hipertensi karena mereka banyak yang mengonsumsi mi,” tutur dr. Indra.

Dampak Psikologis: Trauma dan Kecemasan di Tenda Pengungsian

Beban para pengungsi tidak hanya fisik, tetapi juga psikologis. Tim Unpad menemukan banyak kasus Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Kehilangan harta benda, keluarga, dan penghidupan secara mendadak membuat mental mereka terguncang.

“Saat hujan besar terjadi, mereka cemas berlebihan,” kata dr. Dani, menggambarkan trauma pengungsi terhadap hujan.

Pemulihan Kesehatan Holistik: Lebih dari Sekadar Obat

Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, menekankan bahwa pemulihan kesehatan pengungsi tidak bisa berdiri sendiri. Penanganan kesehatan harus dibarengi dengan pemulihan kebutuhan primer.

“Kita mau lakukan apa pun, kalau dia masih tetap enggak punya rumah, enggak punya makan, enggak punya segala macam, orangnya akan sakit,” jelas Prof. Tjandra. Ia menambahkan, percepatan pembangunan infrastruktur seperti jembatan bukan hanya soal transportasi, tetapi juga vital untuk kehidupan dan kesehatan masyarakat.

Ancaman Gelombang Kedua: Health Disaster

Sekjen Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh, dr. Iziddin Fadhil, sangat berharap upaya bersama berbagai pihak segera terwujud. Reaktivasi puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya sangat krusial untuk mencegah penyakit kronis dan menular.

“Yang kami takutkan dari kondisi hari ini yaitu gelombang kedua disaster. Bukan natural disaster-nya, tetapi health disaster,” tutup dr. Iziddin, menyoroti ancaman lonjakan penyakit infeksi akibat sanitasi yang buruk, lingkungan berlumpur, dan udara berdebu.

Menghargai Perjuangan Para Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Kisah para nakes di Aceh ini adalah potret nyata dari dedikasi luar biasa di tengah keterbatasan. Mereka adalah garda terdepan yang memastikan kesehatan masyarakat tetap terjaga, bahkan ketika fasilitas mereka sendiri luluh lantak. Perjuangan mereka patut diapresiasi dan menjadi pengingat akan pentingnya dukungan berkelanjutan bagi tenaga kesehatan, terutama di daerah-daerah yang rentan bencana.

Pertanyaan Umum Seputar Perjuangan Nakes di Aceh Pasca-Banjir

1. Apa saja kendala utama yang dihadapi nakes pasca-banjir di Aceh?

Kendala utama meliputi puskesmas yang lumpuh dan rusak parah, keterbatasan alat kesehatan dan obat-obatan, minimnya armada ambulans, serta medan yang sulit dijangkau akibat rusaknya infrastruktur seperti jembatan.

2. Bagaimana para nakes memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan meski puskesmas rusak?

Para nakes melakukan aktivasi darurat dengan membersihkan fasilitas yang tersisa, memanfaatkan ruangan aula atau ruangan rusak sebagai posko darurat, serta melakukan pelayanan keliling (menjemput bola) ke desa-desa terdampak dan pengungsian.

3. Penyakit apa saja yang paling sering ditemui pada pengungsi pasca-banjir?

Penyakit yang paling sering ditemui adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat debu, hipertensi akibat pola makan yang tidak sehat (misalnya terlalu banyak mengonsumsi mi instan), serta luka bernanah pada penderita diabetes.

4. Apa dampak psikologis yang dialami pengungsi pasca-banjir?

Banyak pengungsi mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) akibat kehilangan harta benda, keluarga, dan penghidupan. Trauma terhadap hujan juga umum terjadi, memicu kecemasan berlebihan.

5. Mengapa pemulihan kebutuhan primer penting dalam penanganan kesehatan pasca-bencana?

Pemulihan kebutuhan primer seperti rumah, makanan, dan air bersih sangat vital karena kondisi fisik dan psikologis pengungsi tidak akan membaik jika kebutuhan dasar mereka belum terpenuhi. Kesehatan bergantung pada kondisi lingkungan dan pemenuhan kebutuhan hidup.

6. Apa yang dimaksud dengan ‘health disaster’ dalam konteks ini?

‘Health disaster’ merujuk pada potensi lonjakan dan penyebaran penyakit menular atau kronis di kalangan pengungsi akibat kondisi sanitasi yang buruk, kurangnya akses terhadap layanan kesehatan yang memadai, serta dampak psikologis yang memperburuk kesehatan.

Add wartakita.id as a preferred source on Google

Tags: aceh timuraceh utarabanjir acehkebencanaankesehatan pasca-bencananakes acehpuskesmas lumpuhrelawan kesehatantenaga kesehatan
Share12Tweet8Send
World Cup 2026

ARTIKEL TERKAIT

Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan - Featured

Pergantian Kiswah Ka’bah: Simbol Dimulainya Tahun Baru Islam 1448 H, Tradisi Sakral dari Makkah

17/06/2026
Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan - Featured

Elza Syarief Mundur Kasus Korupsi Makan Bergizi Gratis: Merasa Dibohongi, Pesimistis soal Justice Collaborator

17/06/2026
Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan - Featured

Rencana Damai Iran-AS Terhambat: Inspeksi Nuklir dan Bayang-Bayang Israel Jadi Titik Krusial

17/06/2026
Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan - Featured

Pidato Budiman Sudjatmiko Picu Kemarahan Mahasiswa UGM, Tiga Pejabat Dievakuasi

16/06/2026
Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan - Featured

Motor Listrik MBG Menumpuk di Sentul: Kejagung Tolak Sita, Ribuan Unit Masih Terbungkus Plastik

15/06/2026
Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan - Featured

MoU Iran-AS Final: Selat Hormuz Dibuka, Blokade Maritim Dicabut

15/06/2026
Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan - Featured

Koperasi Merah Putih: Bayang-Bayang Korupsi dari Kasus Makan Bergizi Gratis

14/06/2026
Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan - Featured

Modus Canggih Korupsi Program Makan Bergizi Gratis: Kejaksaan Agung Ungkap Jaringan Bos Besar

13/06/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Wisata Dan Tradisi Nyekar Di Pulau Libukang Palopo - Arsip

    Wisata Dan Tradisi Nyekar Di Pulau Libukang Palopo

    87 shares
    Share 35 Tweet 22
  • APBN 2026: Mengurai Mitos Ketergantungan Pajak, Menelisik Jalan Kemakmuran Berkelanjutan

    128 shares
    Share 51 Tweet 32
  • Mengapa Ekonomi Kita Belum Ambruk? Membedah “Ekonomi Zombie” dan Ilusi Ketahanan Kelas Menengah

    26 shares
    Share 10 Tweet 7
  • Pembukaan Piala Dunia 2026: Meksiko Menang di Azteca

    24 shares
    Share 10 Tweet 6
  • Bongkar Mesin “Ekonomi Zombie”: Cetak Biru Penyelamatan Kelas Menengah dari Meja Pengambil Kebijakan

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Piala Dunia 2026: Jeda Minum Berujung Blok Iklan, Penonton Global Marah

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Pemkot Makassar Tawarkan Rp100 Juta: Warga Makassar, Ini Kriteria RT Pengelola Sampah Terbaik Anda!

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Panduan Lengkap Piala Dunia 2026: Semuanya yang Perlu ‘Noob’ Ketahui

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Bank Dunia Beri ‘Alarm’ untuk Kelas Menengah Indonesia: Upah Riil Terus Anjlok, Kualitas Pekerjaan Menurun

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Pete-pete Laut: Menjangkau Pulau Makassar dengan Transportasi Laut Terjangkau dan Terjadwal

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan - Featured

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan - Featured
Fashion & Kecantikan

Smoothing vs Rebonding vs Keratin: Mana yang Terbaik untuk Rambutmu?

16/11/2025
Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan - Featured
Gaya Hidup

Rambut Rontok Parah? Kenali Penyebab dan Solusi Alami

24/11/2025
img 1764471350 26f1c112a772ad44.jpg
Fashion & Kecantikan

Azzaro The Most Wanted: Parfum Pria yang Memikat dengan Aroma Melenakan

14/12/2025
Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan - Featured
Otomotif

Update Harga OTR & Simulasi Kredit Vespa Matic 2025: Dari LX 125 hingga GTS 300 Super Tech

29/11/2025
Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan - Featured
Gaya Hidup

Jeda di Tengah Badai: Tiga Kompas Batin untuk Mengarungi Gelombang Hidup

20/11/2025
Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan - Featured
Otomotif

Vespa Primavera vs. Sprint 2025: Dua Jiwa, Satu Mesin, Pilihan Anda?

30/11/2025
Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan - Featured
Gadget

Hacker Gunakan AI Claude Code untuk Serangan Otonomus

14/11/2025
skincare kulit kering 2 e1766181785188.jpg
Fashion & Kecantikan

7 Jurus Pilih Pelembap Bikin Glowing Sehat

20/12/2025
Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan - Featured
Fashion & Kecantikan

Ingin Dihormati di Kantor? Ini 4 “Power Scent” Pria & Wanita yang Bikin Aura Anda Seperti CEO

29/11/2025
Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan - Featured
Gaya Hidup

Aroma Kopi Pagi Anda, Tetap Hangat Sempurna Hingga Siang

06/12/2025
Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan - Featured
Fashion & Kecantikan

Kenapa Parfum Anda Tidak Meninggalkan Kesan? (Dan Cara Mengatasinya)

16/11/2025
Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan - Featured
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kulit Glowing di Rumah: Spa Mandiri & Perawatan Diri untuk Beauty Besties

23/11/2025
Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan - Featured
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.