Minggu, 27 September 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Berita Terkini

Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan

by Warteknet
30/12/2025
in Berita Terkini
Reading Time: 8 mins read
A A
img-1767041949-73dffc3f46342dee

Wartakita.id – Saat senja mulai merayap dan azan magrib bergema, Puskesmas Pantee Bidari di Aceh Timur justru terdiam, lumpuh. Bangunan dan fasilitasnya porak-poranda diterjang banjir, menyisakan cerita pahit tentang perjuangan tanpa henti para tenaga kesehatan (nakes) di garda terdepan.

Lumpur Menelan Harapan, Nakes Tetap Berjuang

Langit Aceh Timur masih menyisakan jingga saat kumandang azan magrib terdengar di kejauhan. Namun, di Kecamatan Pantee Bidari, suasana justru sunyi senyap. Pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) di sana bukan lagi tempat yang ramai oleh pasien, melainkan bangunan yang nyaris tak berpenghuni, dipenuhi sisa-sisa lumpur dan kehancuran pasca-banjir.

Kursi sofa, lemari, meja, timbangan bayi, bahkan ranjang pasien, semuanya berserakan di halaman. Bangunan puskesmas yang seharusnya menjadi simbol harapan, kini luluh lantak. Kondisi ini terpantau pada Rabu petang, 24 Desember 2025, atau sekitar tiga pekan setelah banjir menerjang wilayah tersebut.

Kisah Empat Sekawan di Tengah Keprihatinan

Di tengah reruntuhan, di sebuah ruangan yang masih berbekas lumpur, empat orang tenaga kesehatan tengah merebahkan lelah. Mereka adalah dr. Indra Sunarli dan tiga rekannya, perawat dan bidan, yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan sebagai relawan penanganan kesehatan pascabanjir.

“Di sini kami empat orang,” ujar dr. Indra, menyambut kedatangan tim pewarta. Ia tiba di Pantee Bidari pada Senin, 22 Desember 2025. Alih-alih sambutan hangat, ia justru dihadapkan pada puskesmas yang lumpuh total. Ruangan pelayanan tergenang lumpur, fasilitas tak ada yang bisa digunakan, obat-obatan, hingga peralatan Unit Gawat Darurat (UGD) pun tak luput dari terjangan banjir.

“Yang tersisa tinggal bangunan puskesmas,” tuturnya getir.

Aktivasi Darurat: Membersihkan Lumpur Demi Pasien

Namun, dr. Indra dan timnya tidak punya waktu untuk mengeluh. Tugas utama mereka adalah mengaktifkan kembali pelayanan kesehatan sesegera mungkin. Bersama personel TNI, mereka bahu-membahu membersihkan gunungan lumpur yang menutupi ruang pelayanan, termasuk ruangan yang mereka jadikan tempat tinggal sementara.

“Enggak disediakan (tempat tinggal). Kami menyediakan sendiri. Kami yang cari. Jadi memanfaatkan yang darurat,” jelas dr. Indra. Mereka memanfaatkan sebuah ruangan tanpa alas tidur di sebelah UGD, membersihkannya dari lumpur, dan menjadikannya tempat beristirahat. Pintu terali besi yang rusak ditutup seadanya dengan tirai.

Kondisi ini membuat mereka merasa seperti pengungsi. Untuk pelayanan kesehatan, aula puskesmas disulap menjadi ruang darurat. Hanya dilengkapi satu ranjang pasien, sebaris kursi baja, dan beberapa meja untuk menumpuk obat.

Pelayanan Keliling: Menjemput Bola di Desa Terisolir

Meskipun fasilitas terbatas, dr. Indra dan timnya tetap memberikan pelayanan standar, mulai dari pemeriksaan hingga suntik vitamin. Dalam sehari, mereka bisa melayani 50-60 pasien di puskesmas. Namun, perjuangan mereka tidak berhenti di situ. Mereka juga aktif turun langsung ke desa-desa terdampak, menjemput bola untuk melayani warga yang tidak bisa datang ke puskesmas.

Namun, upaya menjemput bola ini tidak lepas dari kendala. Keterbatasan alat kesehatan dan obat-obatan menjadi masalah utama. Ditambah lagi, minimnya armada ambulans untuk merujuk pasien ke rumah sakit. “Ambulans ada tapi enggak bisa digunakan. Paling kita hanya bisa kasih obat, terapinya obat saja untuk sementara,” kata dr. Indra.

Kisah Tim FK Unpad: Menerobos Jembatan Putus Demi Pasien

Kisah serupa juga dialami oleh dr. Dani Ferdian, pimpinan Tim Tanggap Bencana Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad). Timnya berangkat ke Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, pada 14 Desember 2025, untuk memberikan pelayanan kesehatan. Namun, mereka juga dihadapkan pada puskesmas yang tertutup lumpur.

Langkah pertama yang dilakukan tim Unpad adalah membersihkan dan mengaktifkan kembali puskesmas, yang syukurnya bangunannya masih utuh meski fasilitasnya ludes. Sambil menunggu puskesmas siap, mereka memberikan pelayanan kesehatan keliling. “Goal besarnya bagaimana melakukan reaktivasi terhadap pelayanan kesehatan dasar di puskesmasnya,” ujar dr. Dani.

Bersama relawan dari universitas lain dan TNI, puskesmas Langkahan berhasil difungsikan darurat pada 18 Desember. Pelayanan kesehatan keliling tetap berjalan paralel.

Menjangkau Daerah Terisolir: Perjuangan Ekstra di Medan Berat

Usai misi aktivasi di Langkahan, tim Unpad membagi tugas. Sebagian tetap di Langkahan, sementara sebagian besar dikirim ke Bener Meriah, khususnya Kecamatan Mesidah yang terisolasi.

Akses menuju Mesidah terputus akibat jembatan yang hanyut. Tim Unpad harus berjuang ekstra, bahkan memanggul logistik dan obat-obatan melewati jembatan darurat yang rusak. Perjalanan panjang dan medan yang berat membuat mereka hidup layaknya prajurit, makan makanan ransum dan tidur beralaskan matras atau sleeping bag.

Dilema Relawan: Keterbatasan di Tengah Kebutuhan Mendesak

Para relawan nakes dihadapkan pada berbagai dilema. Keterbatasan fasilitas kesehatan (faskes), obat-obatan, dan kondisi pengungsi menjadi tantangan terbesar.

dr. Michelle Mailangkay, relawan dari Rumah Sakit Apung Laksamana Malahayati, bercerita tentang pengungsi di Babo, Aceh Tamiang, yang mengidap hipertensi dan diabetes melitus. Luka bernanah pada kaki mereka tak mendapatkan perawatan memadai. Akibatnya, luka semakin parah.

BACA JUGA:

Beasiswa S2 Pemprov Sulsel 2027 Dibuka Lebih Awal: 500 Kuota untuk Guru dan Tenaga Kesehatan

Unismuh Makassar Perkuat Sektor Kesehatan: Resmi Buka Prodi Keperawatan S1 dan Profesi Ners

Makassar dan UNICEF Bersinergi Tingkatkan Kapasitas Nakes Hadapi KLB Campak

Pos Pantau Angke Hulu Naik Siaga 1, BPBD DKI Waspadai Banjir Cengkareng Drain

Yonzipur 16/DA Pacu Pembangunan Jembatan Bailey Darurat di Aceh Utara, Capai 92% Penyelesaian

“Yang punya sakit gula sudah sampai luka-luka,” ujar dr. Michelle. Keterbatasan alat membuat mereka hanya bisa membersihkan luka dengan alkohol dan memberikan obat standar. Kondisi lingkungan yang masih berlumpur, asupan protein yang minim, dan air bersih yang sulit didapat memperburuk kondisi pengungsi.

Pola Makan Darurat, Ancaman Penyakit Menular

dr. Michelle hanya bisa memberikan edukasi tentang pola makan, namun sadar bahwa pengungsi memiliki pilihan terbatas. Bantuan makanan yang diterima seringkali hanya berisi mi instan dan telur.

Hal ini juga diamini dr. Indra. Ia banyak menemui kasus hipertensi akibat pola makan pengungsi yang didominasi mi instan. Selain itu, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) juga tinggi karena debu dan kondisi lingkungan.

“Penyakit yang paling sering, pertama ISPA karena mungkin debu juga. Kemudian hipertensi karena mereka banyak yang mengonsumsi mi,” tutur dr. Indra.

Dampak Psikologis: Trauma dan Kecemasan di Tenda Pengungsian

Beban para pengungsi tidak hanya fisik, tetapi juga psikologis. Tim Unpad menemukan banyak kasus Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Kehilangan harta benda, keluarga, dan penghidupan secara mendadak membuat mental mereka terguncang.

“Saat hujan besar terjadi, mereka cemas berlebihan,” kata dr. Dani, menggambarkan trauma pengungsi terhadap hujan.

Pemulihan Kesehatan Holistik: Lebih dari Sekadar Obat

Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, menekankan bahwa pemulihan kesehatan pengungsi tidak bisa berdiri sendiri. Penanganan kesehatan harus dibarengi dengan pemulihan kebutuhan primer.

“Kita mau lakukan apa pun, kalau dia masih tetap enggak punya rumah, enggak punya makan, enggak punya segala macam, orangnya akan sakit,” jelas Prof. Tjandra. Ia menambahkan, percepatan pembangunan infrastruktur seperti jembatan bukan hanya soal transportasi, tetapi juga vital untuk kehidupan dan kesehatan masyarakat.

Ancaman Gelombang Kedua: Health Disaster

Sekjen Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh, dr. Iziddin Fadhil, sangat berharap upaya bersama berbagai pihak segera terwujud. Reaktivasi puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya sangat krusial untuk mencegah penyakit kronis dan menular.

“Yang kami takutkan dari kondisi hari ini yaitu gelombang kedua disaster. Bukan natural disaster-nya, tetapi health disaster,” tutup dr. Iziddin, menyoroti ancaman lonjakan penyakit infeksi akibat sanitasi yang buruk, lingkungan berlumpur, dan udara berdebu.

Menghargai Perjuangan Para Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Kisah para nakes di Aceh ini adalah potret nyata dari dedikasi luar biasa di tengah keterbatasan. Mereka adalah garda terdepan yang memastikan kesehatan masyarakat tetap terjaga, bahkan ketika fasilitas mereka sendiri luluh lantak. Perjuangan mereka patut diapresiasi dan menjadi pengingat akan pentingnya dukungan berkelanjutan bagi tenaga kesehatan, terutama di daerah-daerah yang rentan bencana.

Pertanyaan Umum Seputar Perjuangan Nakes di Aceh Pasca-Banjir

1. Apa saja kendala utama yang dihadapi nakes pasca-banjir di Aceh?

Kendala utama meliputi puskesmas yang lumpuh dan rusak parah, keterbatasan alat kesehatan dan obat-obatan, minimnya armada ambulans, serta medan yang sulit dijangkau akibat rusaknya infrastruktur seperti jembatan.

2. Bagaimana para nakes memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan meski puskesmas rusak?

Para nakes melakukan aktivasi darurat dengan membersihkan fasilitas yang tersisa, memanfaatkan ruangan aula atau ruangan rusak sebagai posko darurat, serta melakukan pelayanan keliling (menjemput bola) ke desa-desa terdampak dan pengungsian.

3. Penyakit apa saja yang paling sering ditemui pada pengungsi pasca-banjir?

Penyakit yang paling sering ditemui adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat debu, hipertensi akibat pola makan yang tidak sehat (misalnya terlalu banyak mengonsumsi mi instan), serta luka bernanah pada penderita diabetes.

4. Apa dampak psikologis yang dialami pengungsi pasca-banjir?

Banyak pengungsi mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) akibat kehilangan harta benda, keluarga, dan penghidupan. Trauma terhadap hujan juga umum terjadi, memicu kecemasan berlebihan.

5. Mengapa pemulihan kebutuhan primer penting dalam penanganan kesehatan pasca-bencana?

Pemulihan kebutuhan primer seperti rumah, makanan, dan air bersih sangat vital karena kondisi fisik dan psikologis pengungsi tidak akan membaik jika kebutuhan dasar mereka belum terpenuhi. Kesehatan bergantung pada kondisi lingkungan dan pemenuhan kebutuhan hidup.

6. Apa yang dimaksud dengan ‘health disaster’ dalam konteks ini?

‘Health disaster’ merujuk pada potensi lonjakan dan penyebaran penyakit menular atau kronis di kalangan pengungsi akibat kondisi sanitasi yang buruk, kurangnya akses terhadap layanan kesehatan yang memadai, serta dampak psikologis yang memperburuk kesehatan.

Rekomendasikan Wartakita.id
Tags: aceh timuraceh utarabanjir acehkebencanaankesehatan pasca-bencananakes acehpuskesmas lumpuhrelawan kesehatantenaga kesehatan
Share12Tweet8Send

ARTIKEL TERKAIT

Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan - Featured

Menteri Agus Andrianto Sebut Sidak Ombudsman Momentum Penertiban Lapas

27/09/2026
Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan - Featured

Gubernur Sulsel Tunggu Surat Resmi: Nasib Bupati Gowa Ditentukan Proses Hukum

27/09/2026
Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan - Featured

Terbongkar: Buron Judi Online Internasional FP Ditangkap di Thailand, Polri Ungkap Perputaran Uang Rp1 Triliun

27/09/2026
Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan - Featured

Guruh Soekarnoputra Berpulang: Seniman Multitalenta Mengembuskan Napas Terakhir Setelah Perjuangan Panjang

26/09/2026
Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan - Featured

Garuda Perkasa: Indonesia Taklukkan Singapura 2-0, Tatap Laga Krusial Kontra Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026

26/09/2026
Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan - Featured

Guruh Soekarnoputra: Sang Maestro Pencipta Lagu Nusantara yang Abadi

26/09/2026
Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan - Featured

Bupati Gowa Ditetapkan Tersangka, Polda Sulsel Tegaskan Tidak Ada Penahanan

26/09/2026
Nakes Aceh Berjuang: Banjir Lumpuhkan, Tugas Tetap Berjalan - Featured

Fajar/Fikri Melenggang Mulus di Babak Pertama Asian Games 2026: Optimisme Emas Terbit, Ujian Sesungguhnya Menanti

26/09/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • wisata dan tradisi nyekar di pulau libukang palopo

    Wisata Dan Tradisi Nyekar Di Pulau Libukang Palopo

    322 shares
    Share 129 Tweet 81
  • Guruh Soekarnoputra Berpulang: Seniman Multitalenta Mengembuskan Napas Terakhir Setelah Perjuangan Panjang

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Makassar 2025: Kota Dunia yang Masih Tenggelam di Kala Hujan

    67 shares
    Share 27 Tweet 17
  • 16 Model Rambut Pria yang Terbukti Disukai Wanita, Keren dan Stylish! (Update 2026)

    187 shares
    Share 75 Tweet 47
  • Bupati Gowa Ditetapkan Tersangka, Polda Sulsel Tegaskan Tidak Ada Penahanan

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Delegasi Indonesia Trending di X.com: Menimbang Ketegasan Politik dan Prospek Diplomasi Ekonomi di Kancah Global

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • 10 Hak Dasar Warga Negara Indonesia yang Harus Kamu Tahu dan Contoh Nyata di Kehidupan Sehari-hari

    108 shares
    Share 43 Tweet 27
  • Kode CMD Untuk Mempercepat Kinerja Laptop

    807 shares
    Share 323 Tweet 202
  • Dua RS Regional Gowa dan Luwu Segera Hadir, Wujudkan Akses Kesehatan Merata di Sulsel

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Misteri Telur Mata Sapi di Gunung Anak Krakatau: Penjelasan Ilmiah Fenomena Unik

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
wartakita-id-buku-saku-bencana-bnpb_cr

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

Cara Hidup Anak Kost agar Lebih Tenang di Dapur dan Rumah_cr_tn1
Gaya Hidup

Cara agar Hidup Anak Kost Lebih Tenang di Dapur dan Rumah

22/11/2025
telegram-bot
Gadget

Labirin Pilihan Smartphone Modern: Dari Fotografi Hingga Gaming

15/11/2025
Seni Merawat Vespa Matic_wartakita.id
Otomotif

Seni Merawat Vespa Matic: Bebaskan Gredek, Nikmati Perjalanan Halus

06/12/2025
img-1764777491-e442ac7fe1f792b9
Gaya Hidup

Parfum Lokal Wangi Sultan: Mirip Niche Eropa, Harga Murah!

04/12/2025
3 kompas batin wartakita_tn1
Gaya Hidup

Jeda di Tengah Badai: Tiga Kompas Batin untuk Mengarungi Gelombang Hidup

20/11/2025
parfum di tempat kerja_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Ingin Dihormati di Kantor? Ini 4 “Power Scent” Pria & Wanita yang Bikin Aura Anda Seperti CEO

29/11/2025
img-1764775654-b12300608d9039ae
Otomotif

Modifikasi Vespa Matic: 10 Aksesoris ‘Proper’ Budget Pelajar-Sultan

04/12/2025
4 rekomendasi parfum anti gerah dan tahan lama di cuaca indonesia_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Parfum Mahal Tapi Cepat Hilang Kena Keringat? 4 Rekomendasi Parfum “Anti-Gerah” Tahan Lama di Cuaca Indonesia

30/11/2025
Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Ingin Rambut ‘Badai’ ala Jisoo Tapi Budget Terbatas? Ini 3 Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan!

29/11/2025
1766621435-7-gadget-traveling-wajib-bawa-buat-liburan-nataru-anti-lowbat.jpg
Gadget

7 Gadget Traveling Wajib Bawa Buat Liburan Nataru (Anti Lowbat)

25/12/2025
featured 1_tn1
Fashion & Kecantikan

Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

14/11/2025
parfum untuk jomblo_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Bosan Jomblo atau Hubungan Terasa Hambar? Pikat dengan 4 Parfum “Date Night” Menggoda Ini

29/11/2025
tips-keselamatan
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.