Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar selangkah lebih maju dalam memperkuat kapasitas sektor kesehatan nasional. Dengan terbitnya izin resmi dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Unismuh kini resmi membuka Program Studi Keperawatan Program Sarjana (S1) dan Program Studi Pendidikan Profesi Ners Program Profesi.
- Izin resmi dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI tertuang dalam Keputusan Nomor 853/B/O/2026.
- Program studi baru ini bertujuan untuk memenuhi peningkatan kebutuhan tenaga medis, khususnya perawat, di Indonesia.
- Unismuh Makassar menekankan pentingnya standar mutu tinggi, profesionalisme, dan nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan dalam pendidikan keperawatan.
- Fokus pembelajaran berbasis kompetensi, integrasi antarprofesi, dan penguatan aspek kegawatdaruratan menjadi ciri khas program baru ini.
Izin Resmi dari Kementerian: Amanah dan Kepercayaan untuk Unismuh Makassar
Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 853/B/O/2026, yang ditetapkan di Jakarta pada 4 Agustus 2026, menandai babak baru bagi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Unismuh Makassar. Dengan izin ini, Unismuh secara resmi diizinkan untuk menyelenggarakan dua program studi vital: Program Studi Keperawatan Program Sarjana (S1) dan Program Studi Pendidikan Profesi Ners Program Profesi. Keputusan ini datang setelah Unismuh dinyatakan memenuhi persyaratan minimum akreditasi, sebuah indikator kesiapan institusi dalam menyelenggarakan pendidikan berkualitas.
Sebagai institusi yang menerima amanah ini, Unismuh Makassar memiliki kewajiban untuk terus menjaga dan memenuhi standar nasional pendidikan tinggi. Laporan berkala mengenai penyelenggaraan program studi ini akan disampaikan kepada kementerian, memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam proses pendidikan.
Perjalanan Panjang Menuju Keunggulan: Kontribusi Unismuh dalam Pembangunan Sumber Daya Kesehatan
Rektor Unismuh Makassar, Dr Ir Abd Rakhim Nanda, ST, MT, IPU, menggarisbawahi bahwa terbitnya izin ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari sebuah proses persiapan yang matang dan memakan waktu. Pengajuan permohonan pembukaan program studi ini telah dimulai sejak tahun 2023, diikuti dengan serangkaian pemenuhan persyaratan akademik dan kelembagaan yang ketat.
“Terbitnya izin ini merupakan amanah sekaligus kepercayaan pemerintah kepada Unismuh Makassar. Kami tidak hanya berkewajiban membuka penerimaan mahasiswa, tetapi juga harus memastikan proses pendidikan berlangsung dengan standar mutu yang tinggi,” ujar Rakhim. Ia menambahkan bahwa pembukaan kedua program studi ini merupakan manifestasi nyata dari upaya Unismuh untuk berkontribusi lebih dalam memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan di Indonesia. Lulusan diharapkan tidak hanya menguasai ilmu dan keterampilan klinis, tetapi juga meresapi nilai-nilai kemanusiaan, profesionalisme, serta semangat Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang menjadi pilar identitas universitas.
Persiapan yang dilakukan Unismuh bersifat bertahap dan terukur. Kesiapan dosen yang kompeten, kurikulum yang relevan dengan tuntutan zaman, ketersediaan laboratorium modern, serta kemitraan strategis dengan rumah sakit pendidikan dan wahana praktik menjadi prioritas utama. “Program studi ini bukan hanya menambah jumlah pilihan pendidikan, tetapi kehadirannya harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan ikut meningkatkan mutu pelayanan kesehatan khususnya pelayanan keperawatan terutama di Indonesia bagian timur,” jelasnya, menegaskan visi institusionalnya.
Strategi Pengembangan Bidang Kesehatan Berbasis Kompetensi di Unismuh
Prof Dr Andi Sukri Syamsuri, MHum, Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kerja Sama Unismuh Makassar, memandang pembukaan Program Sarjana Keperawatan dan Profesi Ners sebagai langkah strategis yang krusial dalam lanskap pengembangan bidang kesehatan di Unismuh. Arah penyelenggaraan pendidikan keperawatan akan sangat berfokus pada pembelajaran berbasis kompetensi, di mana mahasiswa akan didorong untuk mengintegrasikan pengetahuan teoritis di ruang kelas, pengalaman klinis di fasilitas kesehatan, dan pemahaman mendalam mengenai dinamika masyarakat.
“Kurikulum harus mampu mempertemukan penguasaan ilmu, keterampilan klinis, kemampuan berkomunikasi, pemanfaatan teknologi, dan kepekaan sosial. Perawat bekerja sangat dekat dengan pasien sehingga aspek etik dan kemanusiaan harus menjadi bagian utama pendidikan,” ujar Prof Andis, menekankan esensi profesi keperawatan. Penguatan kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk rumah sakit, puskesmas, pemerintah daerah, organisasi profesi, serta perguruan tinggi baik di dalam maupun luar negeri, menjadi kunci untuk menjamin ketersediaan wahana pembelajaran klinis yang optimal serta membuka peluang riset dan pengabdian masyarakat yang lebih luas.
Integrasi Pendidikan Kesehatan dan Penguatan Kegawatdaruratan
Dekan FKIK Unismuh Makassar, Prof Dr dr Suryani As’ad, MSc, SpGK(K), menguraikan bahwa Program Sarjana Keperawatan dan Profesi Ners akan terintegrasi dalam kerangka pengembangan pendidikan kesehatan yang lebih luas di FKIK. Pendekatan terintegrasi ini memungkinkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu kesehatan untuk belajar bekerja sama sejak dini, sebuah keterampilan esensial dalam pelayanan pasien yang efektif.
“Pelayanan kesehatan tidak dapat berjalan secara sendiri-sendiri. Dokter, perawat, apoteker, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya harus mampu berkomunikasi dan bekerja sebagai satu tim. Karena itu, pendidikan kolaboratif antarprofesi akan menjadi salah satu perhatian kami,” ujar Suryani. FKIK berkomitmen untuk memastikan ketersediaan sumber daya pendukung, mulai dari dosen yang berkualitas, sarana laboratorium yang memadai, hingga fasilitas pembelajaran inovatif dan jejaring tempat praktik yang luas. Pengembangan program ini juga akan selaras dengan keunggulan FKIK dalam bidang penanganan kegawatdaruratan. “Perawat sering berada pada garis terdepan pelayanan. Mereka harus mampu mengenali kondisi pasien, mengambil tindakan awal secara tepat, dan berkoordinasi dengan tenaga kesehatan lainnya. Kompetensi kegawatdaruratan menjadi salah satu aspek yang akan diperkuat,” tambahnya, menunjukkan fokus spesifik pada kebutuhan mendesak di lapangan.
Tahapan Operasional dan Visi Lulusan Berkualitas untuk Masa Depan
Nurlina, S.Kep.Ns.M.Kep, Ketua Tim Task Force pembukaan Prodi S1 Keperawatan, menjelaskan bahwa tim program studi telah bergerak cepat mempersiapkan tahapan operasional pasca penerbitan izin. Agenda persiapan mencakup penyempurnaan kurikulum agar relevan dan adaptif, distribusi mata kuliah yang terstruktur, penetapan dosen pengampu yang kapabel, optimasi penggunaan ruang kelas dan laboratorium, serta pemetaan wahana praktik yang strategis. “Keputusan menteri ini menjadi dasar bagi kami untuk memasuki tahap penyelenggaraan. Semua perangkat akademik harus dipastikan siap sebelum mahasiswa mengikuti perkuliahan,” katanya, menunjukkan keseriusan dalam eksekusi.
Pendidikan akan dirancang dengan pendekatan berkelanjutan, membimbing mahasiswa dari tahap sarjana hingga profesi Ners. Lulusan diharapkan memiliki kompetensi yang mumpuni, keterampilan berpikir kritis yang tajam, kemampuan adaptasi terhadap perkembangan teknologi kesehatan, serta kemampuan memberikan pelayanan secara holistik dan berpusat pada pasien. Program studi ini akan memberikan perhatian khusus pada pendidikan keperawatan dengan penciri utama kegawatdaruratan dan nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan, baik dalam konteks keluarga maupun komunitas. Lulusan diharapkan mampu mengabdi dan bersaing di berbagai institusi pelayanan kesehatan, lembaga pendidikan, serta di pasar kerja global.
Kontributor: Budi S.
Penyunting: H. Gunadi
Add wartakita.id as a preferred source on Google























