Menghadapi tantangan pasokan listrik yang signifikan di Sulawesi Bagian Selatan, PT PLN (Persero) tengah menggenjot upaya perbaikan dan inovasi untuk memulihkan stabilitas sistem kelistrikan, terutama di wilayah vital seperti Makassar dan sekitarnya.
Upaya Krusial PLN Tingkatkan Pasokan Listrik Sulbagsel
Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, tidak tinggal diam melihat potensi defisit pasokan listrik di Sistem Kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel). Beliau secara langsung memimpin dan mengawasi berbagai inisiatif strategis, salah satunya dengan melakukan inspeksi mendalam terhadap sejumlah unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Tindakan ini mencerminkan keseriusan PLN dalam menangani akar permasalahan dan memastikan ketersediaan listrik bagi jutaan pelanggan di wilayah tersebut.
Kronologi dan Akar Masalah Krisis Pasokan
Tekanan pada pasokan listrik Sulbagsel bukanlah fenomena mendadak, melainkan akumulasi dari beberapa faktor krusial yang saling terkait:
- Gangguan Teknis PLTU Swasta: Salah satu titik krusial yang mendapat perhatian adalah perbaikan PLTU Jeneponto, sebuah pembangkit swasta berkapasitas 2 x 100 megawatt (MW). Gangguan teknis pada unit ini menyebabkan pengurangan daya pasok yang signifikan, memperparah kondisi defisit.
- Dampak El Nino pada Pembangkit Hidro: Sistem kelistrikan Sulbagsel sangat bergantung pada sumber energi terbarukan, khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Namun, fenomena El Nino telah membawa konsekuensi berupa kondisi hidrologi yang kering. Akibatnya, daya mampu pembangkit-pembangkit hidro andalan seperti PLTA Poso, Bakaru, Malea, serta sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) mengalami penurunan drastis.
- Penurunan Kapasitas Daya Hidro yang Signifikan: Perkiraan penurunan daya mampu agregat pembangkit hidro dari sekitar 850 MW menjadi hanya 250 MW menunjukkan betapa parahnya dampak kekeringan, dengan kehilangan daya mencapai sekitar 600 MW. Kondisi ini menciptakan beban berat pada keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan listrik yang terus meningkat.
Strategi Komprehensif PLN dalam Mengatasi Kekurangan Pasokan
Menghadapi situasi genting ini, PLN merespons dengan serangkaian strategi yang dijalankan secara simultan dan terintegrasi:
- Percepatan Perbaikan PLTU Jeneponto: PLN secara proaktif memberikan dukungan penuh untuk mempercepat proses perbaikan PLTU Jeneponto. Targetnya adalah agar pembangkit ini dapat segera kembali beroperasi normal dan berkontribusi pada pasokan listrik sistem Sulbagsel.
- Optimalisasi Pembangkit yang Beroperasi: Selain fokus pada perbaikan, PLN juga terus berupaya mengoptimalkan seluruh potensi pembangkit yang saat ini masih beroperasi. Hal ini dilakukan untuk memaksimalkan keluaran daya dari sumber yang ada.
- Penyiapan Kapasitas Tambahan: PLN tidak hanya mengandalkan perbaikan, tetapi juga sedang aktif menyiapkan tambahan kapasitas pembangkit listrik baru yang ditargetkan mencapai 627 MW. Kapasitas ini diharapkan dapat memperkuat pasokan secara keseluruhan.
- Inovasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC): Sebagai upaya mitigasi jangka pendek, PLN berkoordinasi intensif dengan pemerintah daerah dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) di wilayah terkait untuk melaksanakan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Tujuannya adalah untuk meningkatkan potensi ketersediaan air bagi pembangkit hidro. Namun, tantangan tetap ada mengingat kondisi atmosfer yang sangat kering membuat ketersediaan awan untuk disemai masih terbatas. Saya sendiri pernah menyaksikan dampak langsung El Nino pada sumber air, dan tantangan memodifikasi cuaca dalam kondisi ekstrem memang tidak mudah, memerlukan kehati-hatian dan dukungan ilmiah yang kuat.
Visi Jangka Panjang untuk Sistem Kelistrikan Sulbagsel yang Tangguh
Darmawan Prasodjo optimis bahwa target pemulihan keseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik di Sulbagsel dapat tercapai. Beliau memproyeksikan kondisi ini akan berangsur membaik dan stabil pada akhir September 2026. Proses ini akan terus dipantau secara ketat dan dievaluasi setiap hari.
Lebih jauh lagi, PLN memiliki visi strategis jangka panjang untuk menjadikan sistem kelistrikan Sulbagsel tidak hanya stabil, tetapi juga lebih beragam, fleksibel, dan resilien terhadap berbagai gejolak pasokan di masa mendatang:
- Penguatan Melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS): Mengikuti arahan Presiden melalui program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt (GW), PLN akan memperkuat sistem Sulbagsel dengan integrasi sekitar 5,2 GWp PLTS. Pemanfaatan energi surya ini diharapkan menjadi sumber pasokan yang andal dan tidak bergantung pada fluktuasi ketersediaan air.
- Implementasi Battery Energy Storage System (BESS): Untuk menunjang keandalan sumber energi terbarukan, PLN juga akan mengimplementasikan 8,2 gigawatt hour (GWh) BESS. Sistem penyimpanan energi ini akan berfungsi sebagai penyangga krusial, terutama ketika produksi dari pembangkit hidro mengalami penurunan akibat kondisi cuaca atau faktor lainnya.
Dengan kombinasi strategis antara penguatan PLTS dan BESS, sistem kelistrikan Sulbagsel diproyeksikan akan menjadi lebih kuat, adaptif, dan mampu menghadapi dinamika pasokan energi di masa depan dengan lebih percaya diri. Ini adalah langkah maju yang signifikan untuk memastikan energi bersih dan andal bagi masyarakat Makassar dan seluruh wilayah Sulbagsel.
Kontributor: M. Ridham
Penyunting: Budi S.























