Nilai tukar Rupiah yang menembus level Rp 17.000 per Dolar Amerika Serikat (USD) menjadi perhatian publik. Dalam menghadapi situasi ini, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memberikan penjelasan resmi mengenai kondisi terkini dan proyeksi ke depan.
- Kurs Rupiah tercatat melemah di atas Rp 17.000 per USD.
- Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan Rupiah saat ini berada dalam posisi undervalued secara fundamental.
- Penguatan Rupiah diproyeksikan didukung oleh fundamental ekonomi Indonesia yang kuat, inflasi rendah, dan imbal hasil menarik.
- Komitmen pemerintah dan otoritas dalam menjaga stabilitas nilai tukar menjadi penopang penting di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Rupiah Undervalued, Kata Gubernur BI
Menanggapi pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang melampaui angka Rp 17.000, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan pandangannya. Berdasarkan data pergerakan pasar, kurs Rupiah pada pukul 16.00 WIB tercatat berada di level Rp 17.180, menunjukkan pelemahan sebesar 0,22 persen.
Namun, Perry Warjiyo secara tegas menyatakan bahwa kondisi nilai tukar Rupiah saat ini justru terindikasi undervalued jika dibandingkan dengan fundamental ekonomi yang dimiliki Indonesia. Pernyataan ini disampaikan dalam Konferensi Pers Hasil RDGB April 2026 dengan Cakupan Triwulanan.
Potensi Penguatan Rupiah Didukung Fundamental Ekonomi
Meskipun mengakui adanya pelemahan saat ini, Perry Warjiyo optimis bahwa Rupiah memiliki potensi untuk kembali menguat. Penguatan ini, menurutnya, sangat bergantung pada soliditas kondisi perekonomian Indonesia secara keseluruhan.
“Secara fundamental nilai tukar Rupiah kita akan stabil dan cenderung menguat didukung oleh fundamental ekonomi, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inflasi yang rendah, imbal hasil yang menarik,” jelas Perry Warjiyo. Ia menekankan bahwa faktor-faktor fundamental seperti pertumbuhan ekonomi yang kuat, pengendalian inflasi yang efektif, serta menawarkan imbal hasil investasi yang menarik akan menjadi pendorong utama penguatan Rupiah di masa mendatang.
Peran Stabilitas dan Ketahanan Ekonomi dalam Menghadapi Geopolitik
Selain faktor internal, komitmen pemerintah dan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar juga memegang peranan krusial. Hal ini menjadi semakin penting mengingat kondisi geopolitik dunia yang saat ini penuh dengan ketidakpastian.
Perry Warjiyo menambahkan, “Jadi secara keseluruhan tadi kami sampaikan bahwa kondisi fundamental dan ketahanan ekonomi eksternal Indonesia kuat dalam menghadapi geopolitik ini.” Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Indonesia memiliki daya tahan yang memadai untuk menghadapi gejolak eksternal, didukung oleh fondasi ekonomi yang kokoh.























