Senin, 3 Agustus 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Arsip 2021

Krisis, Ibu Kandung Patriot dan Oportunis

by Redaktur
03/07/2021
in Arsip 2021, Opini
Reading Time: 5 mins read
A A
hero with thousand faces-2

Ilustrasi: Sampul buku " Hero With Thousand Faces" Joseph Campbell

Setahun lebih setelah pandemi Covid-19 melanda, mulai terlihat negeri mana saja yang sistem penyangga kesehatan rakyatnya yang lebih siap menghadapi pandemi atau masalah kesehatan lainnya, dan ternyata tidak ada yang benar-benar siap.

Amerika Serikat yang memiliki organisasi khusus pusat pencegahan penyakit kronis dan peningkatan kesehatan (CDC) juga kelimpungan menghadapi SARS-Cov2 yang sama sekali baru. Tidak ada yang siap tanpa data komprehensif sebelum mengeksekusi dua langkah penting melawan pandemi, mencegah dan mengobati, yang baru dan sedang dikumpulkan.

Namun, mereka belajar cepat, dengan berpegang teguh pada prinsip kebenaran ilmiah, dimulai dengan kesadaran tidak tahu apa-apa tentang SARS-Cov2, kemudian mencari tahu yang kesemuanya terdata, mengolah data tersebut menjadi informasi, bibit teori pengetahuan tentang SARS-Cov2. Ilmuwan tidak akan memulai hipotesa dengan ‘sok tahu’ yang dasarnya lebih banyak asumsi dan atau data empiris yang jumlah kasusnya belum bisa disebut fakta empiris.

Politikus tidak mengapa sok tahu, jangankan kebenaran ilmiah, norma (pantas dipertanyakan ketepatan penggunaan kata norma di sini) yang berlaku dalam politik berbeda. Kesalahan fatal sah-sah saja di ‘spin-off’ demi mencapai kepentingan. Politikus tidak boleh salah, kalau berbuat salah upayakan bagaimana pun caranya agar terlihat benar dan mendapat keuntungan politis dari kesalahan tersebut. Sementara ilmuwan harus berani salah dan mengakui kesalahannya, karena lebih banyak pengetahuan baru dalam temuan kesalahan ketimbang dalam temuan kebenaran.

Di negeri kita, pejabat publik yang mengurus dan mengambil kebijakan mengatasi masalah pandemi dan efek berantainya ke berbagai bidang, hanya sedikit sekali yang ilmuwan dan profesional. Kalau pun ada, rasanya telah tersandera kepentingan politik dan kekuatan oligarkis yang menempatkan mereka sebagai pejabat publik. Akibatnya, banyak kebijakan yang lebih bernuansa suksesi 2024 ketimbang mencanangkan target bebas pandemi Covid-19.

Dana pengadaan bansos tanpa hati dikorupsi, kepala-kepala daerah mulai menjelma raja-raja kecil dalam menerjemahkan kebijakan pusat dan nasional untuk mengatasi pandemi sebelum dilaksanakan. Semuanya terbalut nuansa politik yang kental.

Belajar dari Amerika Serikat yang sebagian (kecil) pejabat publiknya juga politisi, bukan kalangan profesional yang dominan mengisi jabatan yang bertanggung jawab atas kesejahteraan dan keselamatan rakyat, walaupun presiden sebelum Joe Biden terpilih, sempat mengambil kebijakan tidak ilmiah mengatasi pandemi. Namun, berhasil kembali ke jalan yang benar secara ilmiah. Suksesi pun berlangsung tanpa menjadikan pandemi COVID-19 sebagai tunggangan kepentingan politik.

Mengapa Amerika Serikat bisa, Indonesia belum bisa?
Kami belum pernah ke AS, banyak referensi online sebelum menyimpulkan kemudian mencari tahu bagaimana sistem yang mengatur kekuasaan dan keselamatan rakyat di sana terbukti lebih baik dari sistem yang sedang berlaku di Indonesia di masa pandemi.

Di era presiden Obama pernah terjadi APBN usulannya tersandera di senat selama beberapa bulan. Gejolak politik tersebut sama sekali tidak mempengaruhi kinerja organisasi negara di AS. Tanpa angggaran pemerintah, mereka tetap bekerja optimal melayani rakyat Amerika Serikat. Kok bisa.

Kesampingkan dulu membandingkan sikap mental dan perspektif pejabat publik di sini dengan di sono saat memandang jabatan dan rakyat. Itu bisa dibentuk dengan sistem. Lebih rasional mengamati dan mempelajari sistem mereka, sebelum memikirkan bagaimana mengatur peran manusia dalam sebuah organisasi negara, yang karakter dan ambisi merajanya berani mensiasati kemanusiaan, keagamaan dan ketuhanan. Sistem yang bisa mengubah manusia demikian, mesti memiliki keberanian menghukum pejabat publik seperti yang diterapkan Cina dalam menghukum koruptor.

Sekali lagi filosofi perang: “Musuh berjumlah besar, tetapi tanpa organisasi bisa dikalahkan oleh pasukan kecil terorganisir” terbukti benar oleh negara-negara yang berhasil melepaskan diri dari situasi pandemi. Pemisahan jelas antara kekuasaan politik dan kekuasaan, dengan organisasi yang bertanggung jawab mengurus rakyat, membuat politisi negara-negara maju tersebut bisa asyik berpolitik sampai mengotori seluruh tubuh dan partai mereka, tanpa mengorbankan rakyat banyak.

Di Indonesia tidak ada pemisahan jelas antara organisasi negara (to govern the people) yang mengatur rakyat, dengan organisasi kekuasaan politis (to rule and secure the (political power) country), mirip kerajaan dalam bentuk republik. UUD 1945 perlu ditafsirkan lebih dalam untuk membuat payung hukum mengubah sistem demikian, dan itu membutuhkan waktu lama mengingat riuhnya cara berpikir dan jalan hidup lima tahunan sebagian besar wakil-wakil rakyat kita.

Lalu bagaimana dong?

Sebagai rakyat yang tidak memiliki kekuasaan dan kekuatan mengubah keadaan secara masif, memang tidak banyak yang bisa kita perbuat. Namun, satu gelombang suara sebesar 5Hz bisa mengubah harmoni sebuah komposisi lagu secara utuh. Ini sudah kami buktikan di studio musik seorang kawan yang komposer. Banyak langkah kecil setara gelombang suara 1-5Hz yang bisa kita lakukan dengan kapasitas sebagai rakyat, pemilik kekuasaan sesungguhnya.

Langkah pertama patuhi protokol kesehatan untuk melindungi diri sendiri dan orang lain, mendaftar vaksinasi sebelum mulai mengamati dan mengumpulkan data, mengenali keadaan.

Krisis melahirkan patriot dan oportunis
Krisis akibat pandemi mulai menjalankan fungsinya, menjadi ibu kandung yang melahirkan dan memisahkan siapa patriot dan siapa yang oportunistis. Penggembira yang membawa konten negatif dan konspiratif di saat krisis, mungkin semacam bayi yang lahir prematur.

Tenaga kesehatan yang tetap bekerja meski belum menerima tunjangan sampai 9 bulan jelas patriot. Orang-orang berada yang membeli vaksin dan mengadakan vaksinasi gratis, patriot. Kita yang mau mematuhi protokol kesehatan juga patriot.

Pedagang yang mengambil keuntungan maksimal setelah membuat oksigen, masker, APD dan lain-lain menjadi langka, jelas oportunis. Politisi yang memanfaatkan krisis akibat pandemi demi tangga suksesi 2024 dengan segala macam kombinasi kelicikan, jelas oportunis.

BACA JUGA:

Belajar dari Venezuela: Jangan Sampai Jari Kelingking Kita Jadi Pemicu Kebangkrutan Negara

Qurban dan Keberanian Melepaskan yang Kita Cintai

Perayaan Hari Pers Nasional 2024: Menjelajahi Era Baru Pers, Pewarta Warga dan Kecerdasan Buatan

Ketika Udara Bersih Harus Diperjuangkan

Belikan Anak-Anak Komputer, Informatika Nanti Jadi Kebutuhan Manusia Keempat

Kami belum putus asa, sampai hari ini masih berharap patriot lahir dari kalangan pejabat publik (eksekutif, yudikatif, dan legislatif). Definisi patriot secara rasa memang lebih pantas disandang oleh mereka yang melakukan apa pun di luar kewajiban dan tugas fungsionalnya sebagai rakyat sipil, tetapi mau dan rela menambal lubang-lubang kebijakan dan tindakan yang belum dan tidak dilaksanakan oleh pejabat publik.

Kewajiban dan tanggung jawab seorang pejabat publik, sipil maupun militer, dari eksekutif, legislatif sampai yudikatif memang tidak ringan. Sebagai rakyat yang memiliki kenalan dan kerabat, kami tahu betul tingkat kesulitan dan kompleksitas tanggung jawab pejabat publik meski dengan berbagai kemudahan dan kemewahan fasilitas tetap sedemikian tinggi, walau tanpa ada pandemi. Tetap bukan pembenaran setelah menerima jabatan dan bersumpah akan bertanggung jawab atas nama Tuhan.

Karena itu mereka yang sanggup melaksanakan tugas dan kewajibannya saja sebagai pejabat publik mengatasi pandemi demi rakyat, tanpa terdistorsi kepentingan pribadi, oligarki, politis dan jalan hidup lima tahunan, juga pantas disebut patriot, bukan oportunis.

Add wartakita.id as a preferred source on Google

Tags: Opiniopini
Share4Tweet2Send

ARTIKEL TERKAIT

Krisis, Ibu Kandung Patriot dan Oportunis - Featured

Skenario Reformasi: Senjata Coretax 2026 dan Jalan Terang Menuju Pertumbuhan 6%

28/07/2026
Krisis, Ibu Kandung Patriot dan Oportunis - Featured

Skenario Status Quo: Bayang-Bayang Utang Rp10.000 T dan Ancaman Permanen Middle-Income Trap

28/07/2026
Krisis, Ibu Kandung Patriot dan Oportunis - Featured

Trajektori 2026-2031: Menuju Indonesia Emas atau Terjebak Krisis Permanen?

28/07/2026
Krisis, Ibu Kandung Patriot dan Oportunis - Featured

Selamatkan APBN 2026: Redefinisi Anggaran Pendidikan 20% dan Ketegasan BPI Danantara

28/07/2026
Krisis, Ibu Kandung Patriot dan Oportunis - Featured

Paradoks Desentralisasi 2026: Mengapa Anggaran Daerah Dipangkas demi Program Populis Pusat?

28/07/2026
Krisis, Ibu Kandung Patriot dan Oportunis - Featured

Siklus Anggaran Politis dan Korupsi Rp279 Triliun: Saat Uang Rakyat Jadi Ongkos ‘Elit’ yang Hidup dalam Siklus 5 Tahunan

28/07/2026
Krisis, Ibu Kandung Patriot dan Oportunis - Featured

Kualitas Layanan Publik Stagnan: Mengurai Korupsi, Siklus Politis, dan Absennya Keadilan Pajak

28/07/2026
Krisis, Ibu Kandung Patriot dan Oportunis - Featured

Pendarahan Cukai Rp60 Triliun: Siapa yang Diuntungkan dari Sindikat Rokok Ilegal?

27/07/2026

TERPOPULER-SEPEKAN

  • wisata dan tradisi nyekar di pulau libukang palopo

    Wisata Dan Tradisi Nyekar Di Pulau Libukang Palopo

    266 shares
    Share 106 Tweet 67
  • Skenario Status Quo: Bayang-Bayang Utang Rp10.000 T dan Ancaman Permanen Middle-Income Trap

    26 shares
    Share 10 Tweet 7
  • Selamatkan APBN 2026: Redefinisi Anggaran Pendidikan 20% dan Ketegasan BPI Danantara

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Trajektori 2026-2031: Menuju Indonesia Emas atau Terjebak Krisis Permanen?

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • “Pejabat Anti-Kritik” dalam Data: Membedah Garis Batas Antara Masukan, Hinaan, dan Ancaman Pidana

    40 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Parfum Lokal Wangi Mewah, Harga Terjangkau!

    35 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Jebakan Bunga Utang Rp599 Triliun: Mengapa SBN Mematikan Akses Kredit Swasta dan UMKM?

    21 shares
    Share 8 Tweet 5
  • KSSK Siaga Penuh: Konflik Timur Tengah Picu Gejolak Ekonomi Global, Mitigasi Terkoordinasi Disiapkan

    24 shares
    Share 10 Tweet 6
  • Gempa M7,6 Guncang Sulawesi Utara & Halmahera Utara: Kronologi, Dampak, dan Respons Pemerintah

    38 shares
    Share 15 Tweet 10
  • Banjir 50 cm Kembali Lumpuhkan BTN Mutiara Permai Gowa, Akses Jalan Terputus

    40 shares
    Share 16 Tweet 10
wartakita-id-buku-saku-bencana-bnpb_cr

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

4 rekomendasi parfum anti gerah dan tahan lama di cuaca indonesia_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Parfum Mahal Tapi Cepat Hilang Kena Keringat? 4 Rekomendasi Parfum “Anti-Gerah” Tahan Lama di Cuaca Indonesia

30/11/2025
parfum untuk jomblo_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Bosan Jomblo atau Hubungan Terasa Hambar? Pikat dengan 4 Parfum “Date Night” Menggoda Ini

29/11/2025
parfum di tempat kerja_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Ingin Dihormati di Kantor? Ini 4 “Power Scent” Pria & Wanita yang Bikin Aura Anda Seperti CEO

29/11/2025
parfum dengan kharisma sejati 1_cr
Fashion & Kecantikan

Kenapa Parfum Anda Tidak Meninggalkan Kesan? (Dan Cara Mengatasinya)

16/11/2025
vespa sprint atau primavera_wartakita.id
Otomotif

Vespa Primavera vs. Sprint 2025: Dua Jiwa, Satu Mesin, Pilihan Anda?

30/11/2025
Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan_wartakita.id
Fashion & Kecantikan

Ingin Rambut ‘Badai’ ala Jisoo Tapi Budget Terbatas? Ini 3 Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan!

29/11/2025
1766621435-7-gadget-traveling-wajib-bawa-buat-liburan-nataru-anti-lowbat.jpg
Gadget

7 Gadget Traveling Wajib Bawa Buat Liburan Nataru (Anti Lowbat)

25/12/2025
vespa gts supertech
Otomotif

Update Harga OTR & Simulasi Kredit Vespa Matic 2025: Dari LX 125 hingga GTS 300 Super Tech

29/11/2025
ilustrasi pria berketombe
Gaya Hidup

Rambut Rontok Parah? Kenali Penyebab dan Solusi Alami

24/11/2025
Seni Merawat Vespa Matic_wartakita.id
Otomotif

Seni Merawat Vespa Matic: Bebaskan Gredek, Nikmati Perjalanan Halus

06/12/2025
telegram-bot
Gadget

Labirin Pilihan Smartphone Modern: Dari Fotografi Hingga Gaming

15/11/2025
crew-cut-fade_tn
Gaya Hidup

Aroma yang Tak Terlupakan: Rahasia Kepercayaan Diri Pria Modern

02/12/2025
tips-keselamatan
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏚️
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.