Sabtu, 21 Maret 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun

by A. Burhany
25/02/2026
in Opini
Reading Time: 4 mins read
A A
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured

Tujuh esai pertama Ramadan mengajarkan diri saya (dan semoga juga pembaca) tentang ruang dalam—tentang ego yang perlu dikecilkan, waktu yang perlu dihuni, dan rahasia yang perlu dijaga. Kita belajar menjadi sunyi, menjadi kecil, menjadi jujur di hadapan diri sendiri.

Tapi kesunyian yang sejati tidak selalu berarti diam.

“Kezaliman akan terus ada bukan karena banyaknya orang jahat, tapi karena diamnya orang-orang baik.”

Kalimat itu secara luas dikaitkan dengan Ali bin Abi Thalib. Dan saya tidak bisa membacanya tanpa merasa sedikit tidak nyaman—karena saya tahu, lebih sering dari yang ingin saya akui, saya adalah orang baik yang memilih diam.

Mengaku sebagai orang baik saja sudah membuat saya tidak nyaman.

Ketidaknyamanan yang baru bisa teredam ketika saya mengasosiasikan “orang baik” yang dimaksud adalah orang yang mengetahui keburukan—tetapi juga memiliki potensi melakukan keburukan yang dilihatnya.

Saya pernah bertanya kepada seorang arif tentang sebuah pertanyaan yang lama mengganjal: ketika bencana datang dan disebut sebagai “hukuman dari Tuhan”, mengapa ia tidak pandang bulu? Mengapa yang terkena bukan hanya mereka yang berbuat salah, tapi juga orang-orang baik di sekitarnya?

Jawabannya tidak mudah ditelan: “Karena orang-orang baik tersebut tidak menunaikan kewajibannya ketika melihat kemungkaran. Pertama, ubah dengan tanganmu—dengan aksi, merangkul keburukan agar menjadi bagian dari kebaikan, tidak harus konfrontatif atau represif. Kedua, ingatkan dengan lisan dan tulisan, dengan cara dan bahasa yang baik—sebab diam masih lebih baik daripada mengingatkan tapi membuat orang tersinggung. Ketiga, doakan agar para pelaku keburukan menyadari kesalahannya dan mulai melakukan perbaikan. Tiga hal itulah yang membedakan orang baik dari orang jahat ketika berhadapan dengan keburukan.”

Dan mungkin itulah yang sedang kita coba lakukan di sini—paling tidak, menunaikan tingkatan kedua dari tiga kewajiban itu.

Di minggu kedua ini, lapar kita mulai berubah bentuk. Ia bukan lagi sekadar urusan perut—ia mulai merambat ke lidah. Dan di sinilah Ramadan menyodorkan tantangan yang lebih rumit: bukan hanya menahan apa yang masuk, tapi memeriksa apa yang keluar.

Di sekolah dan mimbar-mimbar, kita sering diajarkan bahwa puasa lidah adalah tentang diam, atau setidaknya tentang bicara yang manis-manis saja. Tapi ada sisi lain dari lidah yang jarang kita bicarakan—kemampuannya untuk menelan kebenaran mentah, tanpa dilapisi pemanis sopan santun atau etiket.

Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - image 1

Kebenaran sering kali seperti buah kedondong. Daging buahnya mungkin kecut-asam-segar, tapi intinya adalah biji yang permukaannya dipenuhi serat berduri tajam. Mengunyahnya adalah seni. Menelannya adalah penderitaan.

Di negeri ini, kita memiliki kegemaran yang ganjil: kita lebih suka memuja kulit buah yang mulus daripada membedah isinya. Kita hidup dalam budaya yang mendewakan etiket—sopan santun—dan sering mengubur hidup-hidup etika, yakni kebenaran itu sendiri.

Lihatlah bagaimana panggung publik kita dikelola.

Pejabat yang bicara dengan nada lembut, tertata, penuh tata krama. Pemuka agama yang menyelipkan doa-doa indah di setiap jeda kalimat. Kemasan mereka begitu sempurna sehingga sulit dibantah. Siapa yang tega menuduh orang se-santun itu sedang merancang kebijakan yang mematikan nyawa rakyat atas nama stabilitas atau mungkin demi PSN? Siapa yang berani menyangka di balik jubah dan seragam yang rapi itu tersimpan niat yang sedang menggerogoti daulat rakyat?

Kita sebagai publik sering menjadi hakim yang rabun. Kita lebih mudah naik pitam mendengar seorang komika seperti Pandji Pragiwaksono yang bicara meledak-ledak dalam pertunjukannya, daripada marah melihat birokrat yang dengan senyum paling sopan menandatangani kebijakan yang memiskinkan jutaan orang. Kita menganggap kata-kata kasar sebagai dosa besar, namun menganggap kebijakan yang kasar sebagai prosedur administrasi yang wajar.

Kita lebih memuja kemasan daripada isi. Kita lebih takut pada ketidaksopanan daripada ketidakbenaran.

BACA JUGA:

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

Kementerian ESDM Pastikan Keandalan Pasokan Listrik Sulawesi Jelang Ramadan & Idul Fitri 1447 H

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

Ramadan 2026: Hari ini 17 Maret berapa Ramadan?

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

Inilah berhala yang perlu kita periksa di minggu kedua Ramadan ini.

Puasa lidah bukan berarti membalut kebohongan dengan kata-kata manis. Justru sebaliknya—puasa lidah adalah latihan untuk berani mengatakan yang benar, meskipun ia berduri seperti biji kedondong. Jika kita hanya diam demi menjaga sopan santun saat melihat ketidakadilan, maka diam kita bukanlah ibadah. Itu pengkhianatan.

Puasa seharusnya membuat kita lebih sensitif terhadap kebenaran, bukan membuat kita mati rasa karena terlalu sibuk menjaga citra kesalehan formal.

Kebenaran akan tetap menjadi benar, tak peduli seberapa kasar ia diucapkan. Dan kebohongan akan tetap menjadi racun, tak peduli seberapa santun ia dikemas dalam pidato-pidato berwibawa.

Hari ini, mari kita periksa kembali lidah kita. Apakah kita sedang berpuasa untuk membersihkan jiwa, atau hanya sedang memoles topeng agar terlihat sopan di mata manusia? Jangan-jangan selama ini kita hanya berani menelan janji-janji manis yang melenakan, tapi langsung memuntahkan kebenaran hanya karena ia terasa tajam di tenggorokan.

Selamat menelan kejujuran dan kebenaran, sepahit dan setajam apa pun itu—dengan tangan, dengan lisan, dan dengan doa yang tidak pernah berhenti.

Tags: berbuka puasaesai Ramadanmakna niat puasaniat puasa RamadanRamadanRamadan 2026spiritualitas puasa
Share6Tweet4Send
Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger

ARTIKEL TERKAIT

Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

19/03/2026
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

18/03/2026
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

17/03/2026
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured

Esai Ramadan #27: Jelang Perpisahan dengan Tamu yang Memuliakan

16/03/2026
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured

Esai Ramadan #26: Zakat yang Melampaui Angka

14/03/2026
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured

Esai Ramadan #25: Pulang ke Fitrah dan Laundry Pakaian Jiwa

14/03/2026
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured

Esai Ramadan #24: Oase di Tengah Gurun dan Rahasia Rasa Cukup

13/03/2026
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured

Esai Ramadan #23: Ganjil yang Genap dan Arsitektur Keseimbangan

12/03/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured

    Panduan Lengkap Lokasi Salat Idul Fitri di Makassar: Dari Karebosi hingga Titik Muhammadiyah

    230 shares
    Share 92 Tweet 58
  • Lokasi Shalat Idul Fitri 1 Syawal 1447 H / 20 Maret 2026 di Makassar: Lokasi dan Khatib

    38 shares
    Share 15 Tweet 10
  • Fenomena Blood Moon: Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026

    41 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Dari Garasi Militer ke Metaverse: Internet, Bukan Sekadar Jari Jempolmu

    28 shares
    Share 11 Tweet 7
  • Mudik Lebaran 2026 Lebih Lancar: 10 Ruas Tol Fungsional Dibuka Gratis Sepanjang 291 Km!

    26 shares
    Share 10 Tweet 7
  • Smoothing vs Rebonding vs Keratin: Mana yang Terbaik untuk Rambutmu?

    44 shares
    Share 18 Tweet 11
  • Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

    24 shares
    Share 10 Tweet 6
  • 1 Syawal 1447 H: Mampukah Lebaran 2026 Dirayakan Serentak?

    27 shares
    Share 11 Tweet 7
  • Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Esai Ramadan #27: Jelang Perpisahan dengan Tamu yang Memuliakan

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured
Gaya Hidup

Aroma yang Tak Terlupakan: Rahasia Kepercayaan Diri Pria Modern

02/12/2025
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured
Gaya Hidup

Aroma Kopi Pagi Anda, Tetap Hangat Sempurna Hingga Siang

06/12/2025
skincare kulit kering 2 e1766181785188.jpg
Fashion & Kecantikan

7 Jurus Pilih Pelembap Bikin Glowing Sehat

20/12/2025
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured
Gadget

Labirin Pilihan Smartphone Modern: Dari Fotografi Hingga Gaming

15/11/2025
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured
Otomotif

Ancaman Mogok Akibat Aki Lemah di Musim Hujan: Kenapa Perawatan Mandiri Mobil LCGC Jadi Krusial?

16/11/2025
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured
Otomotif

Bukan Sekadar Skuter: Panduan Memilih Vespa Impian Anda di Tahun 2026

23/11/2025
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured
Gaya Hidup

Keseimbangan Hidup Optimal: Menjaga Kesehatan dari Dalam dan Luar

24/11/2025
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured
Otomotif

Vespa Primavera vs. Sprint 2025: Dua Jiwa, Satu Mesin, Pilihan Anda?

30/11/2025
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured
Gaya Hidup

Cara agar Hidup Anak Kost Lebih Tenang di Dapur dan Rumah

22/11/2025
menari bersama misteri nara saluna
Gaya Hidup

Merasa Tertinggal dari Teman Seusiamu? Mari Berdamai dengan “Garis Waktu” Hidup yang Tak Terduga

29/11/2025
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured
Gadget

Hacker Gunakan AI Claude Code untuk Serangan Otonomus

14/11/2025
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured
Gaya Hidup

Jeda di Tengah Badai: Tiga Kompas Batin untuk Mengarungi Gelombang Hidup

20/11/2025
Esai Ramadan #8: Berhala Etiket dan Sopan Santun - Featured
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.