Tujuh esai pertama Ramadan mengajarkan diri saya (dan semoga juga pembaca) tentang ruang dalam—tentang ego yang perlu dikecilkan, waktu yang perlu dihuni, dan rahasia yang perlu dijaga. Kita belajar menjadi sunyi, menjadi kecil, menjadi jujur di hadapan diri sendiri.
Tapi kesunyian yang sejati tidak selalu berarti diam.
“Kezaliman akan terus ada bukan karena banyaknya orang jahat, tapi karena diamnya orang-orang baik.”
Kalimat itu secara luas dikaitkan dengan Ali bin Abi Thalib. Dan saya tidak bisa membacanya tanpa merasa sedikit tidak nyaman—karena saya tahu, lebih sering dari yang ingin saya akui, saya adalah orang baik yang memilih diam.
Mengaku sebagai orang baik saja sudah membuat saya tidak nyaman.
Ketidaknyamanan yang baru bisa teredam ketika saya mengasosiasikan “orang baik” yang dimaksud adalah orang yang mengetahui keburukan—tetapi juga memiliki potensi melakukan keburukan yang dilihatnya.
Saya pernah bertanya kepada seorang arif tentang sebuah pertanyaan yang lama mengganjal: ketika bencana datang dan disebut sebagai “hukuman dari Tuhan”, mengapa ia tidak pandang bulu? Mengapa yang terkena bukan hanya mereka yang berbuat salah, tapi juga orang-orang baik di sekitarnya?
Jawabannya tidak mudah ditelan: “Karena orang-orang baik tersebut tidak menunaikan kewajibannya ketika melihat kemungkaran. Pertama, ubah dengan tanganmu—dengan aksi, merangkul keburukan agar menjadi bagian dari kebaikan, tidak harus konfrontatif atau represif. Kedua, ingatkan dengan lisan dan tulisan, dengan cara dan bahasa yang baik—sebab diam masih lebih baik daripada mengingatkan tapi membuat orang tersinggung. Ketiga, doakan agar para pelaku keburukan menyadari kesalahannya dan mulai melakukan perbaikan. Tiga hal itulah yang membedakan orang baik dari orang jahat ketika berhadapan dengan keburukan.”
Dan mungkin itulah yang sedang kita coba lakukan di sini—paling tidak, menunaikan tingkatan kedua dari tiga kewajiban itu.
Di minggu kedua ini, lapar kita mulai berubah bentuk. Ia bukan lagi sekadar urusan perut—ia mulai merambat ke lidah. Dan di sinilah Ramadan menyodorkan tantangan yang lebih rumit: bukan hanya menahan apa yang masuk, tapi memeriksa apa yang keluar.
Di sekolah dan mimbar-mimbar, kita sering diajarkan bahwa puasa lidah adalah tentang diam, atau setidaknya tentang bicara yang manis-manis saja. Tapi ada sisi lain dari lidah yang jarang kita bicarakan—kemampuannya untuk menelan kebenaran mentah, tanpa dilapisi pemanis sopan santun atau etiket.
Kebenaran sering kali seperti buah kedondong. Daging buahnya mungkin kecut-asam-segar, tapi intinya adalah biji yang permukaannya dipenuhi serat berduri tajam. Mengunyahnya adalah seni. Menelannya adalah penderitaan.
Di negeri ini, kita memiliki kegemaran yang ganjil: kita lebih suka memuja kulit buah yang mulus daripada membedah isinya. Kita hidup dalam budaya yang mendewakan etiket—sopan santun—dan sering mengubur hidup-hidup etika, yakni kebenaran itu sendiri.
Lihatlah bagaimana panggung publik kita dikelola.
Pejabat yang bicara dengan nada lembut, tertata, penuh tata krama. Pemuka agama yang menyelipkan doa-doa indah di setiap jeda kalimat. Kemasan mereka begitu sempurna sehingga sulit dibantah. Siapa yang tega menuduh orang se-santun itu sedang merancang kebijakan yang mematikan nyawa rakyat atas nama stabilitas atau mungkin demi PSN? Siapa yang berani menyangka di balik jubah dan seragam yang rapi itu tersimpan niat yang sedang menggerogoti daulat rakyat?
Kita sebagai publik sering menjadi hakim yang rabun. Kita lebih mudah naik pitam mendengar seorang komika seperti Pandji Pragiwaksono yang bicara meledak-ledak dalam pertunjukannya, daripada marah melihat birokrat yang dengan senyum paling sopan menandatangani kebijakan yang memiskinkan jutaan orang. Kita menganggap kata-kata kasar sebagai dosa besar, namun menganggap kebijakan yang kasar sebagai prosedur administrasi yang wajar.
Kita lebih memuja kemasan daripada isi. Kita lebih takut pada ketidaksopanan daripada ketidakbenaran.
Inilah berhala yang perlu kita periksa di minggu kedua Ramadan ini.
Puasa lidah bukan berarti membalut kebohongan dengan kata-kata manis. Justru sebaliknya—puasa lidah adalah latihan untuk berani mengatakan yang benar, meskipun ia berduri seperti biji kedondong. Jika kita hanya diam demi menjaga sopan santun saat melihat ketidakadilan, maka diam kita bukanlah ibadah. Itu pengkhianatan.
Puasa seharusnya membuat kita lebih sensitif terhadap kebenaran, bukan membuat kita mati rasa karena terlalu sibuk menjaga citra kesalehan formal.
Kebenaran akan tetap menjadi benar, tak peduli seberapa kasar ia diucapkan. Dan kebohongan akan tetap menjadi racun, tak peduli seberapa santun ia dikemas dalam pidato-pidato berwibawa.
Hari ini, mari kita periksa kembali lidah kita. Apakah kita sedang berpuasa untuk membersihkan jiwa, atau hanya sedang memoles topeng agar terlihat sopan di mata manusia? Jangan-jangan selama ini kita hanya berani menelan janji-janji manis yang melenakan, tapi langsung memuntahkan kebenaran hanya karena ia terasa tajam di tenggorokan.
Selamat menelan kejujuran dan kebenaran, sepahit dan setajam apa pun itu—dengan tangan, dengan lisan, dan dengan doa yang tidak pernah berhenti.
























