Dengar suara itu.
Samar-samar, di kejauhan, ia bersaing dengan deru mesin bus dan klakson di jalur pantura. Panggilan azan magrib.
Saya merasa seolah baru pertama kali mendengarnya tadi sore dari dalam kamar, dan ada sesuatu yang berhenti sejenak di dalam dada saya—seperti jarum yang menemukan alurnya.
Dua puluh delapan hari. Kita sudah sampai di sini.
Jutaan orang sedang berjuang menembus jarak demi satu tujuan: kembali ke tempat mereka bermula. Kembali ke pelukan orang tua. Kembali menjadi anak kecil di rumah masa kecil, setidaknya untuk beberapa hari.
Saya tidak mudik tahun ini. Tapi saya tetap mendengar gema itu, dan ia tetap memanggil sesuatu di dalam saya yang tidak bisa diabaikan.
Kalimat yang kita ucapkan berkali-kali setiap hari, sering kali tanpa benar-benar berhenti untuk merasakannya. Tapi malam ini, setelah dua puluh delapan hari perjalanan bersama, saya ingin duduk sebentar dengan kalimat ini.
Allah Maha Besar. Logikanya sederhana dan menghancurkan sekaligus: jika Dia Maha Besar, maka saya—dengan semua ijazah, vendor MBG, status sosial, dan kepintaran analitis yang selama ini saya andalkan—adalah maha kecil. Bukan sebagai penghinaan. Tapi sebagai kelegaan.
Karena beban paling berat yang pernah saya pikul bukan ransel saat perjalanan jauh. Ia adalah ego yang saya bawa di dalam dada, ke mana pun saya pergi, sepanjang tahun.
Saya pernah menyaksikan takbir digunakan sebagai senjata—diteriakkan bukan untuk memuliakan Tuhan, melainkan untuk membengkakkan diri sendiri, untuk mendominasi, untuk merasa berdiri di barisan langit sementara menghancurkan yang ada di bumi.
Itu bukan takbir. Itu adalah kebalikannya.
Dan saya tahu ini bukan hanya karena saya pernah menyaksikannya dari luar. Tapi karena saya pernah merasakannya dari dalam—saat nama Tuhan saya ucapkan untuk membenarkan sesuatu yang sebenarnya hanyalah keinginan saya sendiri.
Takbir yang sejati tidak diteriakkan untuk mengintimidasi. Ia dibisikkan dengan gemetar—karena kita menyadari betapa kotornya kita saat hendak pulang ke haribaan Yang Maha Suci. Ia adalah kalimat yang seharusnya membuat kita malu untuk korupsi, malu untuk berlaku zalim, malu untuk merasa lebih baik dari wajah-wajah asing yang kita temui di jalanan.
Saat kita benar-benar mengucapkannya—bukan sebagai slogan tapi sebagai pengakuan—yang terjadi bukan pembengkakan. Yang terjadi adalah penyusutan.
Dan penyusutan itu, anehnya, adalah bentuk kebebasan yang paling dalam.
Mudik, bagi saya, adalah simbol dari sesuatu yang lebih dari sekadar perjalanan fisik. Ia adalah kepulangan ke titik nol—ke tempat di mana kita tidak lagi membawa gelar, tidak membawa pasar hukum, tidak membawa diabetes sanjungan pujian atau margin keuntungan atau apa pun yang selama setahun kita jadikan identitas.
Kita pulang sebagai manusia biasa yang merindukan cinta.
Di setiap kilometer yang Anda lalui malam ini—di bus, di kereta, di motor yang menembus gerimis—mungkin biarkan gema takbir dari masjid-masjid pinggir jalan melakukan sesuatu di dalam dada Anda. Biarkan ia meruntuhkan satu tembok, sekecil apa pun.
Pulanglah ke rumah fitrah. Rumah di mana Anda tidak perlu menjadi siapa-siapa untuk dicintai.
Hanya dengan menjadi kecil, kita menemukan ruang yang cukup luas untuk menampung segalanya.
Selamat mudik. Selamat mengecil. Selamat pulang.
























