Saya mengakui: tadi malam saya juga melirik kalender.
Malam ke-23. Angka ganjil. Dan ada sesuatu di kepala saya yang langsung mulai menghitung peluang—seolah Lailatulkadar adalah undian berhadiah yang bisa dioptimalkan dengan strategi yang tepat.
Saya tersenyum sendiri menyadarinya. Dua puluh tiga hari berpuasa, dan ternyata naluri untuk mengontrol dan menghitung masih belum pergi jauh.
Mungkin Anda merasakan hal yang sama malam ini.
Di kota-kota kita, saf-saf masjid yang sempat melonggar di pertengahan bulan kembali merapat. Ada energi yang berbeda—lebih tegang, lebih bersemangat, lebih penuh perhitungan. Kita seolah sedang bermain lotre spiritual, bertaruh pada tanggal-tanggal tertentu sembari berharap keberuntungan jatuh di pangkuan kita.
Di tengah keriuhan ini, saya teringat pada satu nama Tuhan: Al-Witr. Yang Maha Ganjil. Yang Maha Tunggal.
Tuhan mencintai yang ganjil karena keganjilan adalah simbol keunikan yang tak terbagi. Tapi ironinya, kita sering memburu Yang Ganjil dengan batin yang masih compang-camping. Kita mengejar malam ganjil, sementara hubungan kita dengan sesama—urusan yang seharusnya sudah tuntas—masih menyisakan lubang-lubang yang kita biarkan seolah akan menutup sendiri jika dilupakan cukup lama. Kita membuat masalah di laut, tapi ingin menyelesaikannya di gunung. Pintu depan terbuka lebar, tapi karena gengsi kita lebih suka menyusup lewat pintu belakang.
Saya masih bekerja dengan sistem biner. Nol dan satu. Dan ada sesuatu yang selalu saya ingat dari dunia itu: untuk mencapai angka ‘1’ yang fungsional dan bermakna, deretan angka ‘0’ di belakangnya harus tersusun dengan presisi. Satu yang berdiri di atas fondasi yang kacau tidak akan menghasilkan apa pun yang bermakna.
Namun yang lebih mengusik saya bukan matematikanya—melainkan filosofinya.
Deretan ya dan tidak, diterima dan ditolak, hadir dan abai, adalah pembentuk karakter yang terbaca hari ini. Setiap keputusan kecil yang kita anggap remeh—membalas atau tidak membalas, menepati atau menunda—adalah digit-digit yang terus terakumulasi, membentuk siapa kita sebenarnya jauh di bawah permukaan.
Dan di sinilah saya menyadari bahwa ini bukan hanya bahasa sistem komputer.
Saya sedang berbicara tentang diri saya sendiri—tentang berapa banyak ‘0’ yang saya tinggalkan berantakan karena terlalu sibuk mengejar ‘1’ yang terasa lebih mulia. Berapa banyak urusan kecil yang saya anggap bisa menunggu, sementara saya mendirikan saf di barisan terdepan. Berapa banyak angka nol di pinggiran hidup saya, sementara saya sibuk membangun arsitektur spiritual yang—jika diperiksa lebih jujur—fondasinya masih berlubang di sana-sini.
Spiritualitas, saya kira, bekerja dengan logika yang serupa. Kita tidak akan bisa menyentuh Yang Satu jika urusan kemanusiaan kita—dengan pasangan, keluarga, sesama—masih berantakan dan kita anggap bisa ditunda sampai setelah Lebaran.
Keseimbangan batin adalah arsitektur, bukan ornamen.
Dan saya bicara ini kepada diri saya sendiri juga. Ada janji yang belum saya penuhi. Ada hak orang lain yang masih tersangkut di suatu tempat yang nyaman untuk saya abaikan. Ada penolakan yang tidak mau saya terima. Ada maaf yang seharusnya sudah saya kirim tapi saya tunda karena menunggu momen yang “tepat”—yang ternyata tidak pernah datang sendiri.
Genap berarti menuntaskan yang belum selesai. Genap berarti memberikan porsi yang adil antara bekerja dan berdoa, antara mengejar Lailatulkadar dan memastikan orang-orang di sekitar kita tidak merasa ditinggalkan dalam prosesnya.
Jika niat kita jatuh pada angka, kita hanya akan mendapatkan penatnya begadang. Tapi jika niat kita jatuh pada keseimbangan—pada kegenapan yang jujur—maka setiap malam, baik ganjil maupun genap, bisa terasa seperti perjumpaan. Sebab bagi orang yang batinnya sudah tenang, Tuhan hadir di setiap detak, bukan hanya di tanggal-tanggal tertentu.
Malam ini, sebelum kita sibuk menatap kalender, mungkin ada baiknya kita menatap ke tempat lain sebentar.
Apakah ada urusan yang belum genap? Apakah ada hak orang lain yang masih tersangkut di saku kita? Apakah ada seseorang yang menunggu kabar dari kita sejak lama—dan kita biarkan menunggu karena kita sedang sibuk mencari malam seribu bulan?
Genapkanlah satu hal malam ini. Hanya satu. Dan rasakan bagaimana Yang Maha Ganjil itu terasa lebih dekat dari sebelumnya.
Selamat menjadi ganjil di mata dunia, namun genap di hadapan Pencipta.























