Saya pernah mengalami demam itu.
Tahun-tahun lalu, saya adalah orang yang memborong jadwal ceramah di malam-malam ganjil, mencatat nama guru-guru spiritual yang katanya punya “kunci rahasia”, duduk berjam-jam di masjid dengan perasaan bahwa saya sedang melakukan sesuatu yang besar.
Dan di balik semua itu, ada pesan dari ibu yang belum saya balas sejak dua hari lalu.
Saya tidak bangga menceritakan ini. Tapi saya rasa banyak dari kita mengenal perasaan itu.
Ada semacam demam yang menjangkiti kita di malam-malam ini. Orang-orang memborong perlengkapan iktikaf, memburu guru-guru yang menjanjikan kunci pertemuan dengan Lailatulkadar, bersedia membayar mahal demi ketenangan yang instan.
Kita bertingkah seolah Tuhan adalah harta karun yang terkubur jauh, dan kita butuh peta dari orang lain untuk menemukannya.
Padahal kitab suci sudah lama membisikkan sesuatu yang sederhana dan agak merepotkan: Tuhan lebih dekat dari urat nadi kita sendiri.
Lebih dekat dari urat nadi. Tapi kita memilih untuk mencarinya di luar.
Mungkin karena Tuhan yang jauh lebih nyaman. Tuhan yang jauh bisa kita diskusikan dengan tenang. Tuhan yang dekat harus kita hadapi di meja makan, di pesan yang belum dibalas, di nada suara kita saat lelah dan tidak sabar.
Tuhan yang dekat—itulah yang kita hindari.
Lailatulkadar, bagi saya, bukan tentang seberapa jauh kita melakukan perjalanan spiritual. Ia tentang seberapa berani kita menatap cermin.
Dan cermin yang paling jujur itu, sering kali, adalah wajah ibu kita.
Saya bekerja di dunia yang menuntut logika tanpa kompromi—sebab-akibat yang jelas, algoritma yang bisa diverifikasi. Maka tidak mudah, dulu, menerima perintah ibu yang sering kali tidak punya alasan yang bisa saya masukkan ke dalam spreadsheet mana pun. Pokoknya patuh. Itu saja.
Saya pernah beberapa kali melawan. Dan tetap saja kalah—seolah wasiat Baginda Nabi berdiri tegak di depanku: “Restu Tuhan tergantung restu ibumu.” Semua usaha melawannya ditundukkan takdir. Bahkan setiap usaha orang lain agar saya mengabaikan nasihat ibu, juga menemui tembok yang tidak goyah oleh strategi dan wirid apa pun hingga hari ini.
Tentu saja.
Melalui rahimnya kita dipinjamkan napas. Melalui doanya yang tidak selalu kita dengar, kita dipinjamkan kekuatan yang tidak selalu kita sadari. Ibu adalah manifestasi Rahman dan Rahim yang paling nyata, paling bisa kita sentuh, paling sering kita abaikan justru karena ia terlalu dekat untuk terlihat istimewa.
Ironi yang paling pedas dari malam-malam ganjil ini: kita sanggup bersujud ratusan rakaat, tapi pesan singkat dari ibu masih tertunda balasannya. Kita memburu Lailatulkadar dengan gairah, sementara hati orang tua kita terluka oleh ketidaksabaran yang kita tunjukkan di momen-momen paling biasa.
Saya bicara dari pengalaman. Bukan sebagai pengamat.
Bagi kawan-kawan yang mungkin sudah tidak memiliki ibu seperti saya, atau memiliki hubungan yang rumit dengan orang tua—nilai ini tidak hilang. Carilah sosok itu dalam kemanusiaan di sekitar Anda: mereka yang memberi tanpa meminta, yang merawat kehidupan tanpa pamrih, yang hadir tanpa syarat. Spiritualitas sejati selalu menemukan jalannya melalui hubungan, bukan melalui pengasingan.
Malam ke-21 ini, sebelum larut dalam doa-doa panjang, mungkin ada satu hal kecil yang lebih mendesak: balas pesan yang tertunda itu. Ucapkan kata yang sudah lama ingin diucapkan tapi selalu kalah oleh kesibukan dan gengsi.
Malam seribu bulan bukan malam untuk mencari cahaya yang jatuh dari langit. Ia adalah malam untuk menyadari cahaya yang selama ini sudah ada di depan mata—yang kita tutup dengan kelopak mata kesombongan kita sendiri.
Tuhan tidak butuh kita mencarinya jauh-jauh. Ia sedang menunggu di rumah, dalam sapaan lembut pada orang tua, dalam perhatian pada anak-anak, dalam kejujuran menunaikan janji pada orang-orang yang paling dekat.
Dan mungkin, setelah semua itu—setelah kita adil pada ibu, adil pada orang-orang di sekitar kita—barulah kita bisa mulai berlaku adil pada diri sendiri. Karena orang yang belum selesai dengan orang-orang yang paling dekat, jarang bisa benar-benar damai dengan dirinya sendiri.
Selamat merayakan malam-malam penyingkapan. Mulailah dari yang paling dekat.
























