Sembilan belas hari. Dan saya mulai menyadari sesuatu yang tidak saya rencanakan: Ramadan telah mengubah ritme hidup saya tanpa meminta izin.
Bukan secara dramatis. Justru sebaliknya—pelan-pelan, seperti air yang meresap ke tanah kering. Saya makan lebih lambat. Saya berjalan lebih lambat. Dan malam ini, di Tarawih, saya berdiri lebih lama dari biasanya—bukan karena khusyuk yang luar biasa, tapi karena saya tiba-tiba tidak merasa harus terburu-buru untuk kembali ke mana pun.
Dunia saya belakangan ini adalah dunia di mana sistem yang paling stabil adalah sistem yang berjalan otomatis tanpa interupsi. Uptime adalah dewa. Gangguan adalah musuh.
Masalahnya, saya pernah mulai memperlakukan hidup saya dengan logika yang sama. Menjawab “kabar baik” tanpa benar-benar merasakannya. Bekerja tanpa tahu untuk apa. Beribadah tanpa tahu pada siapa. Hidup saya menjadi skrip yang berjalan sendiri—stabil, efisien, dan hampa.
Ramadan adalah interupsi yang tidak saya jadwalkan. Dan ternyata, itulah yang saya butuhkan.
Di hari ini, saat kelelahan fisik mulai mencapai puncaknya, saya tidak akan pura-pura bahwa Tarawih selalu terasa mudah. Ada malam-malam di mana kaki terasa berat sejak rakaat ketiga. Ada malam-malam di mana pikiran terus melayang ke daftar pekerjaan besok, atau ke percakapan yang belum selesai, atau ke tidak ada tempat tertentu—hanya mengambang.
Tapi ada juga momen-momen kecil di antara itu semua. Saat lantunan ayat tertentu tiba-tiba menghantam sesuatu di dalam dada. Saat ruku’ terasa seperti benar-benar merunduk, bukan sekadar membungkuk. Saat sujud berlangsung satu detik lebih lama dari biasanya—bukan karena apa-apa, hanya karena saya tidak ingin buru-buru bangkit.
Momen-momen kecil itulah yang membuat saya ingin kembali menghidupkan malam berikutnya.
Dan Iktikaf—berdiam diri di masjid, memilih keheningan di saat dunia sedang bersiap untuk bising—adalah sesuatu yang dulu terasa asing bagi saya. Bagaimana mungkin tidak melakukan apa-apa bisa menjadi sesuatu yang produktif?
Tapi mungkin itulah tepatnya yang salah dari cara saya bertanya. Iktikaf bukan tentang tidak melakukan apa-apa. Ia tentang berhenti berlari cukup lama untuk menyadari ke mana sebenarnya kaki ini sedang membawa kita.
Besok kita memasuki sepuluh hari terakhir.
Saya tidak tahu bagaimana Anda merasakannya. Tapi bagi saya, ada perasaan ganjil yang mulai muncul—campuran antara kelelahan dan sesuatu yang menyerupai enggan untuk segera selesai. Seperti buku yang bagus di halaman-halaman terakhirnya.
Malam ini, di manapun Anda berdiri atau duduk atau berbaring setelah seharian penuh—coba cari satu momen interupsi untuk diri sendiri. Tidak harus panjang. Tidak harus di masjid. Bisa hanya lima menit di mana Anda mematikan semua layar dan membiarkan keheningan masuk.
Biarkan ia menyelinap. Biarkan ia bicara.
Selamat menjemput malam-malam terakhir yang tidak akan terulang.























