Kamis, 2 April 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan

by A. Burhany
08/03/2026
in Opini
Reading Time: 4 mins read
A A
Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan - Featured

Pernahkah Anda merasa bahwa semakin keras Anda berdoa, semakin Anda tersesat dalam keinginan-keinginan Anda sendiri?

Saya pernah. Dan kerap masih. Dan saya rasa banyak dari kita pernah.


Doa sering kita bayangkan seperti garis lurus: dari mulut kita langsung menuju langit, membawa daftar permintaan yang mendesak. Dan tentu saja, dengan memperhatikan dan memenuhi sebanyak mungkin berbagai syarat dan ketentuan agar doa makbul dan dikabulkan.

Namun belakangan ini—di hari-hari yang tubuhnya mulai terasa lebih ringan dan pikirannya lebih sunyi—saya menyadari bahwa saya lebih sering mendikte ketimbang berdoa. Bahwa doa saya lebih menyerupai labirin daripada garis lurus.

Bukan jalan buntu ketika tidak terkabul, bukan jalan tol ketika terwujud. Labirin adalah jalan yang berliku menuju pusat. Di dalamnya, kita tidak sedang mencari jalan keluar; kita sedang mencari jalan ke dalam.


Di awal Ramadan, doa-doa saya masih riuh. Kesehatan, kelancaran rezeki, perubahan nasib bangsa—daftar panjang yang saya sodorkan ke langit dengan penuh keyakinan bahwa saya tahu apa yang saya butuhkan. Dan itu bukan hal yang salah. Harapan adalah mesin yang menggerakkan kita untuk terus mengetuk pintu.

Tapi mesin itu bisa membuat lelah jika kita tidak tahu kapan harus berhenti memompa.

Kita kecewa saat pesanan tak kunjung datang. Kita mulai mempertanyakan apakah doa kita didengar, atau apakah cara kita berdoa sudah benar, atau apakah kita layak untuk dikabulkan. Kita masuk lebih dalam ke labirin—dan di sanalah, diam-diam, sesuatu mulai bergeser.


Kepasrahan bukan menyerah kalah. Ia bukan sikap pasif seorang yang kehabisan cara. Kepasrahan adalah keberanian untuk berkata: “Inilah harapan saya, tapi Engkau tahu lebih baik dari saya tentang apa yang saya butuhkan.”

Perbedaannya halus tapi dalam. Harapan berkata, “Saya mau ini.” Kepasrahan berkata, “Saya percaya Engkau. Apa pun, selama itu mau-Mu, pasti lebih baik dari mauku.”

Katanya doa yang baik harus mendetil dan terperinci, lengkap 5W+1H-nya—semacam afirmasi, saya siap menerima atau menjadi seperti apa yang saya pinta. Walau belum tentu siap jika yang terjadi tidak harus sesuai keinginan.

Seiring waktu, perbedaan antara keinginan dan kebutuhan semakin jelas.


Dan di sanalah saya menemukan sesuatu yang tidak saya cari: bahwa doa bukan satu-satunya bahasa dalam percakapan ini.

Ada sebuah ungkapan yang baru belakangan ini saya pahami bukan sebagai kalimat motivasi, melainkan sebagai petunjuk arah yang sangat praktis: jika ingin berbicara kepada Tuhan, berdoalah. Jika ingin Tuhan berbicara kepadamu, mengajilah—bacalah Al-Quran.

Hari ini, 17 Ramadan, disepakati dalam banyak riwayat sebagai hari turunnya Al-Quran pertama kali. Sebuah momen di mana percakapan antara langit dan bumi dimulai—bukan dengan doa manusia yang naik ke atas, tapi dengan firman Tuhan yang turun ke bawah. Bukan manusia yang memulai. Tuhan yang memulai.

Selama bertahun-tahun, saya memperlakukan Al-Quran seperti saya memperlakukan doa: sebagai sesuatu yang saya baca untuk mendapatkan sesuatu—pahala, ketenangan, atau setidaknya perasaan bahwa saya sudah melakukan kewajiban. Saya berbicara, tapi tidak mendengar.

Baru belakangan ini saya mulai duduk dengan Al-Quran dengan cara yang berbeda—lebih lambat, lebih sering berhenti, lebih sering bertanya: apa yang sedang dikatakan kepada saya hari ini, bukan apa yang ingin saya dapatkan hari ini. Dan yang saya temukan mengejutkan: ayat yang sama yang sudah ratusan kali saya baca, tiba-tiba berbicara tentang sesuatu yang persis sedang saya hadapi. Seolah ia memang diturunkan hari itu, untuk saya, di titik hidup yang sedang saya jalani.

Mungkin itulah yang dimaksud dengan Tuhan yang berbicara: bukan suara dari langit, bukan mimpi yang dramatis—tapi satu ayat yang tiba-tiba terasa seperti nama kita disebut.

BACA JUGA:

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

Kementerian ESDM Pastikan Keandalan Pasokan Listrik Sulawesi Jelang Ramadan & Idul Fitri 1447 H

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

Ramadan 2026: Hari ini 17 Maret berapa Ramadan?

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati


Yang menarik, setelah mulai mendengar dengan cara itu, doa saya mulai berubah sendiri—tanpa saya rencanakan. Ia mulai memendek. Tidak lagi panjang lebar menjelaskan kepada Tuhan apa yang seharusnya Ia lakukan. Kadang doa saya kini hanya berupa bisikan pendek sebelum tidur, atau napas panjang di antara dua sujud yang tidak sempat saya terjemahkan menjadi kata-kata.

Mungkin itu bukan kemunduran. Mungkin itulah yang dimaksud dengan semakin dalam.


Tuhan tidak selalu mengubah keadaan kita. Tapi Ia sering mengubah cara kita melihat keadaan itu. Dan perubahan kedua itu, saya temukan, jauh lebih bertahan lama.

Di pusat labirin ini, harapan dan kepasrahan tidak lagi saling bertarung. Keduanya melebur menjadi sesuatu yang lebih sederhana: keyakinan bahwa kita sedang ditemani—dalam keadaan apa pun, di tikungan mana pun.


Jangan takut tersesat di dalam labirin batin Anda sendiri.

Di ujungnya, Anda tidak akan menemukan dunia yang baru. Anda akan menemukan diri Anda yang baru—yang lebih tenang, lebih jujur, dan sudah tidak terlalu sibuk mengurus daftar permintaannya sendiri.

Selamat merayakan kesunyian di dalam labirin. Dan selamat mendengarkan—karena mungkin Tuhan sudah berbicara sejak lama, kita yang belum cukup diam untuk mendengarnya.

Tags: Al-Quran dan doabatin seperti labirinberbuka puasaesai Ramadanevolusi doamakna doa harapan kepasrahan ramadanmakna niat puasamendengarkan Tuhanniat puasa RamadanNuzulul Quran hari ke-17RamadanRamadan 2026spiritualitas puasatawakal total
Share12Tweet8Send
Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger

ARTIKEL TERKAIT

Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan - Featured

Selamat Jalan, Pak Umar

23/03/2026
Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan - Featured

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

19/03/2026
Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan - Featured

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

18/03/2026
Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan - Featured

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

17/03/2026
Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan - Featured

Esai Ramadan #27: Jelang Perpisahan dengan Tamu yang Memuliakan

16/03/2026
Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan - Featured

Esai Ramadan #26: Zakat yang Melampaui Angka

14/03/2026
Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan - Featured

Esai Ramadan #25: Pulang ke Fitrah dan Laundry Pakaian Jiwa

14/03/2026
Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan - Featured

Esai Ramadan #24: Oase di Tengah Gurun dan Rahasia Rasa Cukup

13/03/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Pembangunan Wisma Negara di Kawasan CPI Makassar - Arsip

    Pembangunan Wisma Negara di Kawasan CPI Makassar

    38 shares
    Share 15 Tweet 10
  • Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

    109 shares
    Share 44 Tweet 27
  • Trump Klaim Perubahan Rezim Iran, Kesepakatan Bisa Segera Tercapai di Tengah Ketegangan Regional

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • Sungai Rongkong Meluap, Merendam Dua Kecamatan Di Luwu Utara

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Gugatan Anggaran Pendidikan: Mahasiswa & Guru Pertanyakan Alokasi Program Makan Bergizi Gratis di APBN 2026

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Reshuffle Jabatan dan Reformasi Pasar Modal Indonesia: Respons Atas Penilaian MSCI yang Mengguncang IHSG

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Kota Makassar Memasuki Musim Penghujan

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Jutaan Rakyat AS Protes Kebijakan Trump: Otoriterisme dan Perang di Iran Picu Gelombang Demonstrasi Ketiga

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Prabowo dan PM Anwar Sepakat Jaga Jalur Perdagangan Global di Tengah Konflik Asia Barat

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Kode CMD Untuk Mempercepat Kinerja Laptop

    554 shares
    Share 222 Tweet 139
Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan - Featured

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan - Featured
Gaya Hidup

Jeda di Tengah Badai: Tiga Kompas Batin untuk Mengarungi Gelombang Hidup

20/11/2025
Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan - Featured
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kulit Glowing di Rumah: Spa Mandiri & Perawatan Diri untuk Beauty Besties

23/11/2025
Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan - Featured
Gaya Hidup

Aroma yang Tak Terlupakan: Rahasia Kepercayaan Diri Pria Modern

02/12/2025
Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan - Featured
Gaya Hidup

Keseimbangan Hidup Optimal: Menjaga Kesehatan dari Dalam dan Luar

24/11/2025
Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan - Featured
Fashion & Kecantikan

Ingin Dihormati di Kantor? Ini 4 “Power Scent” Pria & Wanita yang Bikin Aura Anda Seperti CEO

29/11/2025
Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan - Featured
Gadget

7 Gadget Traveling Wajib Bawa Buat Liburan Nataru (Anti Lowbat)

25/12/2025
img 1764471350 26f1c112a772ad44.jpg
Fashion & Kecantikan

Azzaro The Most Wanted: Parfum Pria yang Memikat dengan Aroma Melenakan

14/12/2025
Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan - Featured
Otomotif

Update Harga OTR & Simulasi Kredit Vespa Matic 2025: Dari LX 125 hingga GTS 300 Super Tech

29/11/2025
Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan - Featured
Otomotif

Bukan Sekadar Skuter: Panduan Memilih Vespa Impian Anda di Tahun 2026

23/11/2025
Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan - Featured
Gaya Hidup

Aroma Kopi Pagi Anda, Tetap Hangat Sempurna Hingga Siang

06/12/2025
skincare kulit kering 2 e1766181785188.jpg
Fashion & Kecantikan

7 Jurus Pilih Pelembap Bikin Glowing Sehat

20/12/2025
Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan - Featured
Fashion & Kecantikan

Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

14/11/2025
Esai Ramadan #17: Doa, antara Harapan dan Kepasrahan - Featured
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.