Kamis, 2 April 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa

by A. Burhany
08/03/2026
in Opini
Reading Time: 4 mins read
A A
Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured

Jelang paruh ketiga, rasa haus bukan lagi tamu asing yang mengejutkan—ia sudah menjadi penghuni tetap di tenggorokan kita sejak fajar hingga senja. Kita sudah hafal bentuknya, sudah tahu kapan ia paling keras mengetuk.

Tapi ada sesuatu yang menarik yang terjadi di balik rasa tidak nyaman itu. Sesuatu yang diam-diam sedang bekerja di dalam tubuh kita tanpa kita minta.


Beberapa tahun terakhir, setiap Ramadan saya lebih banyak menghabiskannya dengan tidur di rumah. Bangun hanya di waktu salat, lalu kembali tidur. Sedapat mungkin, menghindari aktivitas luar ruang sebelum berbuka puasa.

Saya tidak akan berdalih dengan dalil yang sanadnya lemah: “Tidurnya orang puasa adalah ibadah.” Saya juga tidak akan menggunakan tugas terjaga sepanjang malam menemani Ayah yang sedang bed-rest sebagai pembenaran.

Saya melakukannya dengan sadar, karena berhutang jam istirahat yang cukup bagi tubuh, jiwa, dan pikiran di bulan-bulan selain Ramadan—dengan ber-hibernasi. Seperti beruang di musim dingin.

Saya melakukan ini dengan kesadaran penuh bahwa ia adalah kemewahan yang tidak akan selamanya tersedia. Belum ada yang menunggu sahur saya siapkan. Belum ada anak yang demam di tengah malam puasa. Belum ada tanggung jawab yang membuat tidur siang menjadi sesuatu yang harus diminta izin.

Maka saya tidur—dengan rasa syukur yang aneh, karena tahu bahwa fase hidup ini tidak akan terulang. Dan dalam tidur yang panjang itu, tanpa saya rencanakan, tubuh saya sedang bekerja.


Sains modern menyebutnya autofagi.

Dalam kondisi kelaparan yang terkendali, tubuh kita tidak menyerah—ia justru semakin cerdas. Sel-sel kita mulai mengidentifikasi sel-sel yang rusak, protein yang cacat, bahkan bakal sel kanker yang selama ini menumpang hidup secara cuma-cuma—lalu menjadikannya sumber energi. Tubuh kita, secara harfiah, sedang memakan penyakitnya sendiri untuk mempertahankan kehidupan yang sehat.

Saya selalu menemukan sesuatu yang mengharukan dalam fakta ini. Bahwa di momen kita merasa paling lemah—perut kosong, tenggorokan kering—tubuh kita justru sedang melakukan salah satu pekerjaan paling canggih yang bisa ia lakukan.

Dan saya bertanya-tanya: apakah jiwa kita bekerja dengan cara yang sama?


Jika tubuh melakukan autofagi terhadap sel kanker, mungkin jiwa yang berpuasa pun sedang melakukan sesuatu yang serupa—perlahan melahap sel-sel ego yang telah lama menjadi parasit.

Rasa haus akan validasi yang tidak pernah terpuaskan. Dendam yang mengakar dan ikut makan dari dalam. Syahwat untuk selalu menang sendiri.

Tapi berbeda dengan autofagi fisik yang bekerja tanpa kita sadari, autofagi jiwa membutuhkan satu syarat: kita harus berhenti memberi makan sel-sel parasit itu.

Sel kanker ego tumbuh subur dari satu sumber: perhatian. Setiap kali kita memeriksa berapa orang yang menyukai pendapat kita, kita sedang menyuapi sel itu. Setiap kali kita memutar ulang percakapan yang menyakitkan dan membayangkan respons yang lebih menang, kita sedang memperpanjang umurnya. Setiap kali kita membandingkan pencapaian kita dengan orang lain—ke atas dengan iri, ke bawah dengan lega—kita sedang memberinya makan.

Puasa, dalam konteks jiwa, adalah keputusan untuk berhenti menyuapi. Bukan dengan cara heroik yang dramatis—tapi dengan cara yang paling sederhana: membiarkan rasa lapar itu ada tanpa langsung mengisi, membiarkan kekosongan itu duduk tanpa langsung melarikan diri.

Dan dalam kekosongan yang cukup panjang itu, jiwa mulai bekerja seperti tubuh: mencari sumber energi dari dalam. Memakan yang tidak lagi berguna. Memurnikan yang tersisa.


Saat tenaga fisik melemah, ada sesuatu yang justru menguat di dalam—sebuah kejernihan yang hanya bisa muncul ketika kebisingan sudah cukup sunyi.

BACA JUGA:

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

Kementerian ESDM Pastikan Keandalan Pasokan Listrik Sulawesi Jelang Ramadan & Idul Fitri 1447 H

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

Ramadan 2026: Hari ini 17 Maret berapa Ramadan?

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

Ini mungkin sebabnya haus adalah ibadah, bukan sekadar ujian.

Haus adalah proses pengosongan. Dan ruang yang kosong, secara hukum alam, akan selalu menarik sesuatu untuk mengisinya. Jika kita mengosongkan diri dari makanan dan minuman, kita sedang menciptakan ruang—dan apa yang masuk mengisi ruang itu tergantung pada ke mana kita mengarahkan kerinduan kita.

Kerinduan adalah anatomi pencarian. Kita merasa haus karena kita sedang diingatkan bahwa kita tidak lengkap—dan ketidaklengkapan itu, ternyata, adalah pintu yang paling jujur.


Hari ini, saat lidah terasa kelu dan perut mulai melilit, saya tidak ingin mengajak kita untuk mengeluh atau untuk bersabar dengan cara yang heroik. Saya hanya ingin kita duduk sebentar dengan rasa haus itu—tanpa langsung mengalihkannya ke layar ponsel, tanpa langsung membunuhnya dengan kesibukan.

Rasakan saja ia sebentar. Biarkan ia bicara.

Karena mungkin itulah yang sedang ia coba katakan: bahwa kita masih memiliki kapasitas untuk berubah. Bahwa kita masih bisa didesain ulang. Bahwa rasa tidak lengkap ini bukan tanda kelemahan—ia adalah tanda bahwa kita masih hidup dan masih bergerak menuju sesuatu.

Selamat menikmati proses penyembuhan ini. Biarkan lapar kita menjadi doa, dan biarkan haus kita menjadi jalan pulang.

Tags: berbuka puasaesai Ramadanfilosofi tidur saat puasaintrospeksi diri pertengahan puasamakna lapar dan haus puasamakna niat puasameruntuhkan ego ramadanniat puasa Ramadanpenyembuhan spiritual puasaRamadanRamadan 2026spiritualitas puasa
Share11Tweet7Send
Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger

ARTIKEL TERKAIT

Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured

Selamat Jalan, Pak Umar

23/03/2026
Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

19/03/2026
Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

18/03/2026
Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

17/03/2026
Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured

Esai Ramadan #27: Jelang Perpisahan dengan Tamu yang Memuliakan

16/03/2026
Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured

Esai Ramadan #26: Zakat yang Melampaui Angka

14/03/2026
Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured

Esai Ramadan #25: Pulang ke Fitrah dan Laundry Pakaian Jiwa

14/03/2026
Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured

Esai Ramadan #24: Oase di Tengah Gurun dan Rahasia Rasa Cukup

13/03/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Pembangunan Wisma Negara di Kawasan CPI Makassar - Arsip

    Pembangunan Wisma Negara di Kawasan CPI Makassar

    38 shares
    Share 15 Tweet 10
  • Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

    109 shares
    Share 44 Tweet 27
  • Sungai Rongkong Meluap, Merendam Dua Kecamatan Di Luwu Utara

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Trump Klaim Perubahan Rezim Iran, Kesepakatan Bisa Segera Tercapai di Tengah Ketegangan Regional

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • Sulawesi Selatan Berhasil Tembus 2 Juta Orang Vaksinasi Sehari

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • Gempa M7,6 Guncang Sulut-Malut, Peringatan Dini Tsunami Berakhir, Tsunami Kecil Terdeteksi

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Gugatan Anggaran Pendidikan: Mahasiswa & Guru Pertanyakan Alokasi Program Makan Bergizi Gratis di APBN 2026

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Reshuffle Jabatan dan Reformasi Pasar Modal Indonesia: Respons Atas Penilaian MSCI yang Mengguncang IHSG

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Kota Makassar Memasuki Musim Penghujan

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Jutaan Rakyat AS Protes Kebijakan Trump: Otoriterisme dan Perang di Iran Picu Gelombang Demonstrasi Ketiga

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kilau Rambut Jisoo Bukan Cuma Alat Mahal! 4 “Serum Ajaib” Wajib Punya untuk Lindungi Rambut dari Panas

29/11/2025
img 1764471350 26f1c112a772ad44.jpg
Fashion & Kecantikan

Azzaro The Most Wanted: Parfum Pria yang Memikat dengan Aroma Melenakan

14/12/2025
Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured
Gadget

Hacker Gunakan AI Claude Code untuk Serangan Otonomus

14/11/2025
Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured
Fashion & Kecantikan

Smoothing vs Rebonding vs Keratin: Mana yang Terbaik untuk Rambutmu?

16/11/2025
Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured
Otomotif

Ancaman Mogok Akibat Aki Lemah di Musim Hujan: Kenapa Perawatan Mandiri Mobil LCGC Jadi Krusial?

16/11/2025
Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured
Fashion & Kecantikan

Parfum Mahal Tapi Cepat Hilang Kena Keringat? 4 Rekomendasi Parfum “Anti-Gerah” Tahan Lama di Cuaca Indonesia

30/11/2025
Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured
Gaya Hidup

Rambut Rontok Parah? Kenali Penyebab dan Solusi Alami

24/11/2025
Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured
Fashion & Kecantikan

Ingin Rambut ‘Badai’ ala Jisoo Tapi Budget Terbatas? Ini 3 Alternatif Hair Styler Canggih Mulai 300 Ribuan!

29/11/2025
Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured
Fashion & Kecantikan

Kenapa Parfum Anda Tidak Meninggalkan Kesan? (Dan Cara Mengatasinya)

16/11/2025
Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured
Fashion & Kecantikan

Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

14/11/2025
skincare kulit kering 2 e1766181785188.jpg
Fashion & Kecantikan

7 Jurus Pilih Pelembap Bikin Glowing Sehat

20/12/2025
Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured
Otomotif

Seni Merawat Vespa Matic: Bebaskan Gredek, Nikmati Perjalanan Halus

06/12/2025
Esai Ramadan #16: Autofagi Jiwa - Featured
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.