Empat belas hari ini kita telah banyak menunjuk ke luar—ke pasar hukum, ke birokrasi yang gagal, ke berhala ijazah, ke jurang antara sajadah dan integritas. Kritik-kritik itu perlu. Tapi hari ini, di titik tengah Ramadan, saya ingin mengarahkan telunjuk itu ke dalam.
Karena ada bahaya yang diam-diam mengintai di balik keriuhan kritik sosial: kesombongan spiritual. Sangat mudah bagi kita—manusia yang merasa telah “tercerahkan”—untuk menunjuk hidung para pejabat dan birokrat, sambil lupa bahwa di dalam diri kita sendiri pun terdapat kantor birokrasi yang tak kalah korupnya.
Kita sering mencari Tuhan di tempat-tempat yang nyaman: di dalam keheningan masjid yang ber-AC, di dalam barisan ayat yang kita hafal, di dalam diskusi intelektual yang memuaskan logika.
Tapi bagaimana jika Tuhan sebenarnya lebih sering hadir di tempat yang paling ingin kita hindari? Bagaimana jika Tuhan sedang menatap kita melalui wajah asing yang kita jumpai di trotoar, di balik kemudi ojek daring, atau di mata petugas kebersihan yang kita abaikan saat masuk ke gedung kantor? Bagaimana jika ternyata seeing is believing adalah bentuk kesombongan manusia?
Seorang filsuf pernah berkata bahwa wajah adalah sebuah etika. Saat kita menatap wajah orang lain, kita tidak sedang melihat objek fisik—kita sedang menerima perintah untuk tidak membunuh martabatnya. Bagaimana pun wajahnya dan wajah kita.
Di sinilah muhasabah saya bermula.
Sebagai praktisi infrastruktur IT yang terbiasa dengan efisiensi sistem, saya sering memperlakukan manusia sebagai tiket gangguan yang harus segera diselesaikan, atau data yang harus diolah. Saya menuntut integritas dari para pengambil kebijakan, namun apakah saya sudah memiliki integritas saat menatap mata seorang pengemis di perempatan? Apakah saya melihatnya sebagai manusia yang sedang menguji ketulusan saya—atau hanya sebagai gangguan statistik yang merusak pemandangan?
Ada sebuah ayat yang selama ini saya pahami terlalu sempit: “Ke mana pun kamu menghadap, di situ ada wajah Allah.”
Saya dulu membacanya sebagai pernyataan tentang kiblat—bahwa Tuhan tidak terikat pada satu arah geografis. Tapi di titik tengah Ramadan ini, saya membacanya dengan cara yang berbeda: bahwa Tuhan hadir di setiap arah yang kita hadapi. Termasuk arah yang paling jarang kita pilih—arah ke dalam.
Ke mana pun kamu menghadap, di situ ada wajah Allah. Termasuk saat kamu menghadap cermin.
Tapi wajah apa yang kita temukan di sana? Apakah wajah yang kita lihat adalah wajah seseorang yang sudah cukup lembut untuk menerima kehadiran Tuhan—atau wajah seseorang yang masih terlalu sibuk menghakimi dunia di luar sana untuk sempat melihat ke dalam?
Saya pernah menatap pantulan wajah saya sendiri di saat penuh amarah—dan untuk sesaat, saya tidak mengenalinya. Bukan karena wajahnya berubah secara fisik, tapi karena ekspresi yang ada di sana adalah ekspresi yang tidak ingin saya akui sebagai milik saya. Ekspresi seseorang yang merasa benar secara mutlak. Seseorang yang sedang membangun tembok, bukan jembatan.
Di wajah itulah, justru, Tuhan sedang menunggu untuk ditemukan—bukan untuk dipuja, tapi untuk diakui: bahwa kita masih jauh, bahwa kita masih perlu dibersihkan, bahwa kesombongan spiritual yang kita bicarakan di awal esai ini bukan hanya ada pada orang lain.
Ia ada di wajah yang kita lihat setiap pagi di cermin.
Kita merindukan perjumpaan dengan Tuhan di kehidupan setelah mati. Namun kita sering membuang muka saat Tuhan menjumpai kita dalam wujud orang-orang asing yang membutuhkan perhatian, keadilan, atau sekadar sapaan manusiawi. Dan kita juga membuang muka saat Tuhan menjumpai kita dalam wajah kita sendiri—wajah yang penuh dengan hal-hal yang belum selesai kita bereskan.
Hari ini kita berada tepat di titik tengah—pintu antara fase Maghfirah yang baru kita lewati dan sepuluh hari terakhir yang akan kita masuki. Di sana, kita akan bicara tentang pembebasan. Tapi bagaimana mungkin kita bisa dibebaskan dari api, jika di dalam diri kita masih tersimpan api kebencian, api penghakiman, dan api rasa lebih baik dari sesama?
Lapar di hari ke-15 ini seharusnya tidak hanya mengosongkan perut. Ia juga harus mengosongkan kursi hakim di dalam kepala kita—kursi yang terlalu lama kita duduki dengan nyaman.
Mencari wajah Tuhan dalam wajah asing berarti mengakui bahwa kesalehan kita tidak ada artinya jika ia tidak membuat kita lebih lembut pada manusia lain. Salat kita hambar jika ia tidak membuat kita mampu merasakan getaran penderitaan orang yang bahkan tidak kita kenal namanya.
Setiap orang yang kita temui hari ini adalah pesan dari Tuhan. Jika kita gagal membacanya karena terlalu sibuk dengan ego sendiri—terlalu sibuk mengkritik sistem di luar sana—maka seberapa pun banyak rakaat yang kita tegakkan, kita sebenarnya sedang menjauh dari perjumpaan yang sesungguhnya.
Dan setiap kali kita menghadap cermin—dan memilih untuk benar-benar melihat, bukan sekadar merapikan penampilan—kita juga sedang membaca pesan yang sama.
Hari ini, mari kita berhenti sejenak dari kebisingan kritik. Mari kita berlatih untuk benar-benar melihat—ke luar, pada wajah-wajah asing yang menunggu untuk diakui kemanusiaannya. Dan ke dalam, pada wajah kita sendiri yang menunggu untuk jujur diakui kekurangannya.
Selamat memulai perjalanan ke dalam. Mari kita temukan Tuhan di tempat yang paling tidak terduga: dalam ketulusan kita mencintai orang-orang yang tak punya arti apa-apa bagi kepentingan kita—dan dalam keberanian kita menatap wajah kita sendiri tanpa berpaling.























