Esai ke-11 kita bicara tentang ampunan yang memiliki syarat mutlak—bahwa tobat yang sejati menuntut pengakuan, perbaikan, dan keberanian menatap cermin. Lalu kemarin, di hari ke-12 yang bersamaan dengan pecahnya konflik terbuka AS-Israel-Iran, kita belajar berpuasa dari nafsu yang paling berbahaya: nafsu merasa paling benar, dan keinginan memaksakan kebenaran versi masing-masing.
Rasa lapar dan haus siang tadi memperpanjang percakapan itu ke sebuah pertanyaan yang tidak mau pergi:
Jika solusi dari lapar dan haus selesai di saat berbuka dengan makan sepiring dan minum segelas—mengapa kita begitu sering memaksakan solusi lain untuk masalah-masalah yang sebenarnya tidak lebih rumit dari itu?
Di era AI yang makin cerdas, dengan pengetahuan yang semakin komprehensif, rasanya tidak ada lagi masalah teknis yang tidak punya solusi teknis.
Kita bisa menghitung distribusi pangan yang optimal. Kita bisa memodelkan kebijakan yang paling adil. Kita bisa merancang sistem yang meminimalkan kebocoran anggaran hingga beberapa desimal.
Tapi satu-satunya masalah yang belum—dan sepertinya tidak mau—dipecahkan bukan masalah teknis. Ia adalah masalah yang jawabannya sudah ada, sudah diketahui, sudah diucapkan berkali-kali dalam doa dan pidato dan kitab suci.
Masalah yang solusinya tidak membutuhkan kecerdasan buatan, tidak membutuhkan konsultan asing, tidak membutuhkan seminar internasional.
Ia hanya membutuhkan satu hal: keberanian untuk tidak memaksakan solusi versi kita sendiri.
Karena jika kita jujur, kita sebenarnya sudah tahu solusi dari hampir semua masalah besar yang kita hadapi.
Kita tahu bahwa korupsi selesai jika orang berhenti mengambil yang bukan haknya. Kita tahu bahwa konflik mereda jika pihak-pihak yang bertikai berhenti menyerang. Kita tahu bahwa ketimpangan berkurang jika mereka yang berlebih berhenti menumpuk. Kita tahu bahwa keadilan tegak jika hakim berhenti menjual pasal.
Solusinya sederhana. Bukan mudah—tapi sederhana.
Dan di sinilah ego kita masuk dan memperumit segalanya.
Ternyata, ego kita tidak suka solusi yang sederhana.
Solusi yang sederhana tidak membutuhkan kita. Ia tidak membutuhkan keahlian kita, jabatan kita, ijazah kita—berhala-berhala yang sudah kita bicarakan beberapa hari lalu—atau klaim langit kita. Dan manusia yang sudah terlanjur merasa penting, yang sudah membangun identitas di atas kompleksitas masalah yang ia kelola, sangat sulit menerima bahwa jawaban yang dicari ternyata tidak memerlukannya sama sekali.
Maka kita memperumit. Kita menambah lapisan. Kita menciptakan prosedur, membentuk panitia, menggelar rapat koordinasi lintas kementerian. Bukan karena masalahnya memang kompleks—tapi karena kesederhanaan solusinya mengancam eksistensi kita sebagai orang yang dibutuhkan.
Lapar diselesaikan dengan makan. Tapi kita membangun industri diet, suplemen, aplikasi kalori, dan program detoks seharga jutaan rupiah—bukan karena lapar itu kompleks, tapi karena kita tidak tahan dengan jawaban yang terlalu sederhana untuk diberi label harga yang pantas.
Konflik diselesaikan dengan berhenti menyerang. Tapi kita membangun industri senjata, think tank geopolitik, dan teologi perang yang rumit—bukan karena konflik itu tidak bisa diselesaikan, tapi karena perdamaian tidak menghasilkan margin keuntungan yang cukup menarik bagi mereka yang hidup dari kompleksitas masalah orang lain.
Saya bicara ini sebagai seseorang yang pernah bertahun-tahun hidup di dalam mesin yang sama—mesin yang nafkahnya bergantung pada masalah yang tidak kunjung selesai, agar anggaran maintenance infrastruktur IT terasa tidak mubazir.
Saya tahu persis bagaimana rasanya duduk di rapat musrembang yang membahas kemiskinan, menghasilkan rekomendasi yang tebal dan berwibawa, lalu pulang ke rumah yang nyaman dengan honor konsultasi yang cukup untuk membayar liburan akhir tahun.
Solusinya sudah kita tahu. Tapi kita memilih untuk terus membicarakannya daripada melakukannya—karena melakukannya tidak membutuhkan kita, sementara membicarakannya membuat kita merasa penting.
Dan di sinilah puasa hari ke-13 ini berbicara dengan cara yang paling langsung dan paling tidak bisa saya hindari.
Selama beberapa jam tadi, solusi dari lapar saya adalah menunggu Magrib. Tidak ada yang lebih canggih dari itu. Tidak ada strategi, tidak ada negosiasi, tidak ada konsultan yang perlu dibayar. Hanya menunggu—dan mempercayai bahwa waktunya akan tiba.
Dan ketika azan berkumandang, saya makan sepiring. Minum segelas. Selesai.
Kesederhanaan itu, ternyata, adalah bentuk kerendahan hati yang paling jujur. Menerima bahwa tidak semua solusi membutuhkan kita untuk menjadi pahlawannya. Bahwa kadang tugas kita bukan merancang solusi—tapi cukup berhenti menjadi bagian dari masalahnya.
Besok kita menutup fase Maghfirah. Dan pertanyaan yang akan kita bawa ke sana adalah pertanyaan yang paling dekat, paling personal, paling tidak bisa dihindari dengan teori mana pun:
Jika solusinya sesederhana itu—jika kita sudah tahu jawabannya, jika kita bahkan sudah mengucapkannya dalam doa lima kali sehari—mengapa jarak antara siapa kita di atas sajadah dan siapa kita setelah salam masih selebar itu?
Selamat berbuka. Selamat menerima bahwa terkadang, makan sepiring dan minum segelas sudah cukup.
























