Pagi ini, di sela-sela sahur, saya membaca berita yang membuat suapan terakhir saya terasa berat untuk ditelan.
Rudal-rudal sudah mulai bergerak. AS, Israel, Iran. Nama-nama yang sudah lama mengorbit dalam tegangan, kini akhirnya saling bertumbukan. Di luar jendela saya, langit masih gelap dan sunyi. Tapi di sana—di wilayah yang jaraknya ribuan kilometer namun terasa seperti di dada—langit sedang disobek oleh sesuatu yang manusia buat atas nama sesuatu yang lebih besar dari manusia.
Saya menutup ponsel. Melanjutkan sahur. Dan duduk dengan satu pertanyaan yang tidak mudah pergi: apa hubungan semua ini dengan puasa saya hari ini?
Sebelum menjawab pertanyaan itu, saya ingin mengajak kita mundur jauh—lebih jauh dari berita hari ini, lebih jauh dari agama mana pun, lebih jauh dari sejarah yang tercatat.
Sebelum ada kitab suci, sebelum ada nabi, sebelum manusia mengenal nama Tuhan dalam bahasa apa pun—konflik sudah ada. Manusia purba berkelahi bukan karena berbeda keyakinan. Mereka berkelahi karena lapar, karena takut, karena ingin bertahan hidup.
Naluri itu sederhana dan jujur: kumpulkan sebanyak mungkin, berserikat dengan yang berkepentingan sama, bangun identitas komunal, lalu—jika perlu—dominasi yang lain sebelum mereka mendominasi kita.
Ini bukan kejahatan. Ini adalah kondisi manusia yang paling purba. Dan agama lahir justru untuk menjawab kecemasan yang melahirkan nafsu itu—untuk mengingatkan bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari perut yang lapar dan ego yang takut.
Tapi kemudian terjadi sesuatu yang tidak sepenuhnya kita antisipasi.
Agama memberi darah baru pada nafsu yang lama.
Tiba-tiba, mendominasi bukan lagi sekadar naluri hewani—ia menjadi kewajiban ilahiah. Perang bukan lagi tentang tanah atau sumber daya semata—ia menjadi tentang takdir yang harus digenapi, nubuat yang harus terwujud, kebenaran yang harus dimenangkan atas nama langit.
Dan di sinilah sebuah ayat yang sudah ribuan tahun ditulis terasa seperti baru ditulis kemarin:
“Janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi.”
Mereka menjawab: “Kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan.”
Ketahuilah, merekalah sesungguhnya yang berbuat kerusakan—tapi mereka tidak menyadarinya.
Tidak ada perusak yang merasa dirinya perusak. Semua merasa sedang menjalankan misi suci. Semua pihak dalam konflik yang sedang merobek langit hari ini punya versi ilahiahnya masing-masing—tanah yang dijanjikan, musuh yang harus dilenyapkan, takdir yang harus digenapi. Semua merasa dijustifikasi. Tidak ada yang merasa sedang berbuat kerusakan.
Manusia begitu sibuk memaksakan takdir dan memonopoli kebenaran ilahiah, sementara selama takdir itu belum terwujud, nasib kemanusiaan ada di tangan manusia itu sendiri. Bom yang jatuh tidak diperintahkan langit. Ia diperintahkan oleh manusia yang mengklaim berbicara atas nama langit.
Di titik ini, saya bisa saja berhenti dan menulis esai yang nyaman tentang: mengutuk para pemimpin yang mengebom kota-kota, menyerukan perdamaian, lalu menutup dengan doa yang indah.
Tapi saya sudah berjanji pada diri sendiri—dan pada Anda, kawan seperjalanan yang sudah bersama saya dua belas hari ini—untuk tidak menulis esai yang nyaman.
Karena ada pertanyaan yang lebih mengganggu: di mana saya juga melakukan hal yang sama, dalam skala yang lebih kecil dan lebih sunyi?
Di mana saya juga merasa sedang “memperbaiki” sesuatu, padahal sedang merusaknya? Di mana saya juga mengklaim legitimasi—entah legitimasi jabatan, ijazah, atau kesalehan—untuk membenarkan sesuatu yang sebenarnya hanyalah nafsu purba yang sudah berganti kostum?
Kekerasan tidak selalu berbunyi seperti rudal. Kadang ia berbentuk kebijakan yang ditandatangani dengan senyum paling santun. Kadang ia berbentuk diam yang memilih tidak melihat. Kadang ia berbentuk kata-kata yang kita pilih dengan sangat hati-hati agar terdengar bijak, sementara tujuannya adalah memenangkan argumen, bukan menemukan kebenaran.
Kita—yang selama bertahun-tahun duduk di kursi empuk dengan berkas-berkas nasib ribuan orang di atas meja—tidak bisa mengutuk pemimpin yang mengebom Gaza atau Teheran sambil lupa bahwa kita sendiri pernah menandatangani kebijakan yang membombardir harapan rakyat di Ngada, dengan cara yang jauh lebih sunyi dan jauh lebih sopan.
Ada sebuah pepatah yang dulu terasa klise bagi saya, tapi kini terasa semakin berat maknanya:
Dulu saya merasa hebat, karena itu saya ingin mengubah dunia. Sekarang saya paham, mengapa dengan mengubah diri sendiri, kita sudah ikut mengubah dunia menjadi lebih baik.
Ini bukan kekalahan. Ini bukan pasrah pada ketidakadilan. Ini adalah perjalanan dari hubris ke kerendahan hati—perjalanan yang sudah kita bicarakan sejak hari pertama, dan yang ternyata jauh lebih panjang dan lebih berat dari yang kita bayangkan.
Orang yang benar-benar kecil di hadapan Yang Maha Besar tidak akan punya energi untuk merasa paling benar. Ia akan terlalu sibuk memeriksa dirinya sendiri. Dan mungkin—hanya mungkin—jika lebih banyak manusia melakukan perjalanan itu, tidak akan ada cukup bahan bakar untuk perang yang mengklaim langit sebagai sponsornya.
Kita tidak bisa menghentikan rudal yang sudah bergerak di sana. Ini adalah kenyataan yang menyakitkan dan harus kita terima dengan jujur.
Tapi hari ini, untuk beberapa jam lagi sebelum Magrib, kita bisa melakukan satu hal yang ternyata jauh lebih radikal dari yang kita kira: menahan diri. Menahan nafsu untuk merasa paling benar. Menahan keinginan untuk memaksakan takdir versi kita kepada orang lain. Menahan dorongan untuk mengklaim langit sebagai pembenar bagi ego kita yang sedang lapar.
Bukan karena kita lemah. Tapi karena kita sudah cukup paham bahwa nafsu yang tidak dikenali—nafsu purba yang sudah ada sebelum agama lahir, dan yang kadang bersembunyi di balik jubah agama itu sendiri—adalah awal dari semua kerusakan. Baik yang berbunyi seperti bom di langit malam, maupun yang sunyi seperti hati nurani yang perlahan berhenti berdesir.
Puasa, pada akhirnya, adalah latihan paling sederhana untuk perjalanan yang paling berat itu. Kita tidak mengubah dunia dengan mengerem nafsu makan selama beberapa jam. Tapi kita sedang berlatih untuk mengenal nafsu itu—mengenalinya, menatapnya, dan memilih untuk tidak menurutinya.
Dan pengenalan itu, saya percaya, adalah benih dari segalanya.
Selamat berpuasa dari nafsu yang paling berbahaya: nafsu untuk merasa paling benar.























