Wartakita.id – Proyek rehabilitasi Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, kembali menuai sorotan tajam setelah ditemukan cepat rusak pasca-aspal ulang. Dugaan minimnya kualitas pelaksanaan kini semakin kuat menyusul analisis mendalam dari pakar Teknik Sipil Universitas Hasanuddin (Unhas).
Poin Kunci:
- Hujan bukan satu-satunya penyebab kerusakan Jalan Perintis Kemerdekaan Makassar pasca-aspal ulang.
- Perencanaan matang dan pengawasan ketat sangat krusial, terutama saat proyek dilaksanakan di musim hujan.
- Pelaksanaan proyek yang terkesan ‘kejar tayang’ demi mengejar target akhir tahun dikhawatirkan mengorbankan kualitas.
- Kontraktor mengakui keterbatasan waktu kerja dan kondisi cuaca memengaruhi kualitas, namun pakar Unhas menekankan pentingnya metode kerja yang tepat.
Analisis Pakar Unhas: Perencanaan dan Pengawasan Menjadi Kunci Utama
Ardy Arsyad, seorang dosen Teknik Sipil Universitas Hasanuddin (Unhas), secara tegas menyatakan bahwa minimnya perencanaan yang matang dan pengawasan yang komprehensif menjadi akar persoalan utama di balik cepat rusaknya Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, pasca-rehabilitasi. Menurut pengalaman beliau di lapangan, faktor cuaca seperti hujan, seharusnya dapat dikelola dengan baik melalui penerapan metode kerja yang tepat dan kontrol kualitas yang maksimal. Penekanan Ardy pada aspek ini mencerminkan kedalaman pemahaman serta pengalaman beliau dalam bidang teknik sipil, khususnya terkait konstruksi jalan.
Mengatasi Tantangan Pengaspalan di Musim Hujan
Meskipun banyak yang beranggapan musim hujan menjadi penghalang utama dalam proyek pengaspalan, Ardy menjelaskan bahwa kondisi tersebut dapat diatasi dengan manajemen proyek yang baik. Ia menguraikan bahwa pengaspalan tetap memungkinkan dilakukan di musim hujan, asalkan aspek kualitas dijaga secara ketat. Tantangan utama, menurut Ardy, terletak pada bagaimana memastikan bahwa limpasan air hujan tidak mengganggu proses pengikatan (adhesi) lapisan aspal dengan permukaan jalan. Pengalaman Ardy dalam berbagai proyek konstruksi menegaskan bahwa persiapan yang matang, seperti memastikan permukaan jalan benar-benar kering sebelum penghamparan aspal dan menjaga temperatur aspal agar tidak turun drastis akibat hujan, adalah kunci pencegahan kerusakan dini. Jika kondisi tidak memungkinkan, menunda pekerjaan adalah langkah yang lebih bijak daripada memaksakan hasil yang suboptimal, demi menjaga anggaran rakyat.
Musim Hujan Bukan Alasan Tunggal Kerusakan Jalan
Lebih jauh, Ardy kembali menegaskan bahwa menyalahkan musim hujan sebagai satu-satunya penyebab kerusakan Jalan Perintis Kemerdekaan adalah penyederhanaan masalah yang tidak akurat. Berdasarkan keahliannya, jika sebuah proyek rehabilitasi jalan diputuskan untuk dilaksanakan di tengah musim hujan, maka kesiapan metode kerja dan sistem pengendalian kualitas seharusnya disiapkan secara jauh lebih matang. Beliau menekankan peran krusial pengawas proyek yang harus memiliki ketegasan untuk menolak proses pengaspalan jika kondisi hujan turun. Lebih dari itu, penolakan terhadap material aspal yang tidak sesuai spesifikasi teknis atau kondisi lapangan yang tidak memenuhi syarat, menurut Ardy, merupakan indikator paling jelas dari kualitas pengawasan yang dijalankan.
Dugaan Proyek ‘Kejar Tayang’ dan Anggaran Rakyat yang Terabaikan
Ardy Arsyad mengungkapkan kekhawatirannya bahwa proyek rehabilitasi Jalan Perintis Kemerdekaan, yang juga sepaket dengan Jalan Urip Sumoharjo di Makassar, terkesan dipaksakan untuk selesai dalam waktu singkat, terutama menjelang akhir tahun. Ia menyayangkan potensi pengorbanan kualitas demi mengejar target penyelesaian, mengingat proyek ini bersumber dari anggaran rakyat. Berdasarkan pengalamannya mengamati proyek-proyek pemerintah, Ardy berpendapat bahwa anggaran yang turun di akhir tahun seharusnya tidak memicu pengerjaan yang terburu-buru. Ia menekankan prinsip yang lebih penting, yaitu menunda pekerjaan demi menjamin hasil yang maksimal dan berkualitas tinggi, daripada sekadar mengejar waktu namun menghasilkan pekerjaan yang buruk dan cepat rusak, yang pada akhirnya merugikan masyarakat pengguna jalan.
Kontraktor Akui Kendala Waktu dan Cuaca, Namun Fokus Tetap pada Kualitas
Sebelumnya, pihak kontraktor dari PT Mareraya Multipratama Jaya, diwakili oleh Muhammad Arsyad, mengakui bahwa hujan memang memberikan pengaruh signifikan terhadap kerusakan Jalan Perintis Kemerdekaan yang baru saja diaspal. Ia memaparkan bahwa keterbatasan waktu kerja yang hanya dimulai dari pukul 23.00 hingga pagi hari, akibat pertimbangan arus lalu lintas yang padat di siang hari, turut memengaruhi kualitas pengerjaan. Pengakuan ini menunjukkan adanya kesadaran dari kontraktor mengenai tantangan yang dihadapi di lapangan. Namun, dari perspektif seorang pakar Teknik Sipil, pengakuan tersebut juga menggarisbawahi pentingnya kemampuan kontraktor untuk beradaptasi dan menerapkan standar kualitas tertinggi, terlepas dari kendala operasional yang ada, sesuai dengan amanah proyek dan anggaran yang dipercayakan oleh publik.























