Di tengah dinamika masyarakat yang kian kompleks, Depok kembali menyajikan potret harmonis antarumat beragama. Pelaksanaan salat Idul Adha di Lapangan Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) di Pancoran Mas, yang didominasi oleh warga non-Muslim, membuktikan kedalaman toleransi yang telah terjalin puluhan tahun.
Depok: 30 Tahun Bukti Nyata Kerukunan Umat Beragama
Selasa (27/5), Lapangan YLCC di Jalan Kamboja, Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat, menjadi saksi bisu keindahan toleransi. Umat Muslim melaksanakan salat Idul Adha di kompleks yang mayoritas dihuni oleh warga non-Muslim. Fenomena ini bukanlah hal baru, melainkan sebuah tradisi yang telah mengakar kuat selama 30 tahun.
Menurut Diki Wahyu, salah satu penyelenggara, kegiatan salat Id di lokasi tersebut telah berlangsung sejak tahun 1996. “Ya, sudah 96 (sudah sejak tahun 1996). Dari tahun 96, berarti sudah 30 tahun,” ungkapnya kepada kumparan di lokasi.
Peran Serta Berbagai Elemen dalam Kelancaran Acara
Penyelenggaraan salat Idul Adha di Lapangan YLCC ini merupakan inisiatif dari Pramuka Satuan Komunitas Sekawan Persada Nusantara atau Sako SPN. Mereka secara konsisten berkoordinasi dengan Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein selaku pemilik lapangan, memastikan kelancaran dan legalitas kegiatan.
Lebih lanjut, semangat kolaborasi antarumat beragama terlihat nyata dalam dukungan yang diberikan oleh umat Kristiani. Mereka turut serta membantu dalam penyediaan tempat parkir bagi para jemaah salat Id.
“Terus kemudian juga kita kerja sama untuk parkiran ke Gereja Bethel Indonesia. Terus kemudian juga dengan RT RW tentunya, RT 01 RW 07. Untuk keamanannya kita dengan teman-teman Senkom Mitra Polri,” jelas Diki Wahyu.
Toleransi di Tengah Konflik: Kisah Mengharukan dari Tahun 1999
Diki Wahyu mengenang sebuah peristiwa penting yang semakin mengukuhkan makna toleransi di lingkungan YLCC. Pada tahun 1999, ketika terjadi konflik yang melibatkan isu agama, justru warga non-Muslim lah yang berperan aktif menjaga pelaksanaan salat Id.
“Di sini kita salat yang jagain justru adalah warga non-Muslim,” ungkap Diki dengan nada haru. Pengalaman ini menjadi bukti nyata betapa kuatnya ikatan kekeluargaan dan rasa saling menghormati di antara warga di kompleks tersebut.
Kerja sama dan toleransi yang ditunjukkan oleh umat beragama di lingkungan YLCC tidak hanya sekadar peristiwa sesaat, melainkan telah menjadi contoh kerukunan yang patut diapresiasi di Kota Depok. Sebuah narasi indah tentang bagaimana perbedaan dapat dirajut menjadi kekuatan persatuan.























