MAKASSAR, Wartakita.id — Tulisan terbaru di Kompas tentang kehancuran Venezuela adalah sebuah tamparan keras.
Membaca bagaimana negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia itu jatuh miskin, mencetak uang sampai inflasi 1.000.000%, dan ditinggalkan 7 juta warganya, rasanya seperti menonton film horor.
Namun, ada satu sudut pandang yang sering luput saat kita memaki Maduro atau Chavez. Kita sibuk menunjuk “Pemimpin Gila”, tapi lupa menunjuk cermin.
Cermin Retak di Dinding Kita
Siapa yang menaikkan Hugo Chavez ke panggung sejarah pada 1998? Siapa yang bersorak ketika Chavez memecat 18.000 teknisi profesional minyak dan menggantinya dengan loyalis partai? Siapa yang terlena ketika harga bensin disubsidi sampai lebih murah dari air mineral? Dan pertanyaan paling menohok: Siapa Maduro dan Chavez dulunya sebelum dipilih untuk berkuasa?
Jawabannya: Rakyat. Mereka adalah kita.
Pemimpin tidak jatuh dari langit. Mereka tidak diimpor dari planet lain. Rakyat pula yang melahirkan pemimpin-pemimpin baik dan buruk hari ini. Chavez dan Maduro lahir dari rahim masyarakat yang memuja jalan pintas.
Masyarakat yang memilih pemimpin berdasarkan siapa yang memberi “ikan” paling banyak hari ini, bukan siapa yang memberi “kail” untuk masa depan, akan melahirkan “Pemimpin Sinterklas”.
Sebaliknya, masyarakat yang tangguh, rasional, dan melek literasi (Baca: ‘Why Nations Fail’) akan melahirkan “Pemimpin Arsitek”. Di luar masalah kompleks dan tangan-tangan tak terlihat yang bekerja, mengapa kita (baca: rakyat) belum berhasil melahirkan pemimpin arif dan bijaksana?
Ini senada dengan adagium lama: “Sebagaimana keadaan kalian, begitulah pemimpin kalian akan dijadikan.” (pemimpin adalah cerminan rakyatnya).
Kita tidak bisa menyalahkan “monster” (Chavez/Maduro) jika kita sendiri adalah “laboratorium” yang menciptakan monster tersebut. Venezuela hancur karena rakyatnya terkena Diabetes Politik: Ketagihan janji manis.
Jebakan “Sinterklas Politik”
Rakyat Venezuela di era awal 2000-an, seperti banyak dari kita hari ini, menyukai pemimpin yang memanjakan.
- Subsidi dan bantuan tunai gila-gilaan? Pilih!
- Barang impor murah membanjiri pasar (mematikan petani lokal)? Dukung!
- Bantuan tunai tanpa syarat produktivitas? Lanjutkan!
Kita sering lupa kaidah ekonomi paling dasar: “There is no such thing as a free lunch.” Tidak ada makan siang gratis.
Mari kita realistis. Butuh waktu untuk menilai sebuah kebijakan. Sedikitnya butuh 10 tahun untuk mengetahui manfaat susu murni gratis tiap pagi dari kelas 1 sampai kelas 3 SD yang kami alami di tahun 1980-an silam. Apakah itu investasi gizi yang brilian atau sekadar pemanis sesaat? Sejarah yang akan menilai. Namun poinnya adalah: setiap kebijakan “gratis” pasti ada ongkosnya.
Ketika pemerintah memberi subsidi harga barang di bawah biaya produksi, seseorang harus membayarnya. Jika bukan dari pajak, maka dari utang. Jika bukan dari utang, maka dari masa depan anak cucu kita.
Chavez dan Maduro hanyalah supplier. Mereka menyuplai apa yang diminta pasar (rakyat). Pasarnya minta “kemudahan instan”, maka pemimpinnya memberi “kebijakan populis”.
Demokrasi: Karpet Merah bagi Kaum Narsistik
Mari kita bicara lebih jujur lagi. Ada satu hard truth yang mungkin membuat perut kita mulas, tapi harus ditelan: Sistem demokrasi di tengah masyarakat yang belum matang adalah inkubator sempurna bagi koruptor ulung.
Demokrasi (tanpa literasi) adalah “panggung ideal” bagi narsistik, dan rakyat yang lapar adalah “bahan bakar”-nya. Sistem yang memang merangsang kegilaan.
Sistem one man one vote, di mana pemenang ditentukan semata-mata oleh kuantitas suara, mau diakui atau tidak, seringkali berfungsi sebagai Glory Gates (Gerbang Kejayaan) bagi para pengidap NPD (Narcissistic Personality Disorder) dan calon pemimpin “gila” lainnya.
Mengapa? Karena kaum narsistik sangat ahli dalam satu hal: Memikat.
Mereka tahu persis apa yang ingin didengar oleh telinga yang lapar. Mereka menjajakan janji manis (populisme) bukan karena empati, tapi karena itu adalah tiket untuk mendapatkan kekuasaan yang mereka butuhkan untuk memuaskan ego.
- Populis: Mereka bicara apa saja asal terdengar hebat.
- Electable: Karena terdengar hebat, mereka dipilih banyak orang.
- Validasi: Ketika terpilih, mereka tidak merasa memikul beban amanah. Sebaliknya, kemenangan itu mereka anggap sebagai validasi mutlak bahwa mereka memang hebat, agung, dan tak tersentuh.
Di sinilah lingkaran setan itu berputar.
Di satu sisi, ada calon pemimpin narsistik yang butuh tepuk tangan dan validasi kekuasaan. Di sisi lain, ada kita—rakyat—yang berubah menjadi masyarakat oportunistik lima tahunan.
Kita tidak lagi melihat pemilu sebagai momen sakral memilih pemimpin, melainkan momen transaksional. “Wani piro?” (Berani bayar berapa?). Kita menukar kedaulatan kita dengan serangan fajar, sembako, atau janji subsidi instan.
Sistem ini mempertemukan “Penipu yang butuh panggung” dengan “Korban yang minta disuap”.
Akibatnya? Korupsi bukan lagi kecelakaan, melainkan konsekuensi logis. Pemimpin narsistik akan menganggap uang negara adalah “upeti” atas kehebatan mereka, sementara rakyat oportunis akan terus menagih “jatah preman” dalam bentuk kebijakan populis yang mematikan nalar.
Selama kita masih menjadi pemilih yang transaksional, demokrasi hanyalah kontes pencarian bakat bagi para psikopat berdasi.
Kita dan “Orang Dalam”
Poin paling mengerikan dari kisah Venezuela adalah saat 18.000 profesional di PDVSA (Pertamina-nya Venezuela) dipecat dan diganti oleh “Tim Sukses”. Di Indonesia, kita menyebutnya fenomena “Titipan” atau “Ordal” (Orang Dalam).
Tapi tanyakan lagi pada diri kita: Bukankah kita juga yang sering melanggengkan budaya ini? Kita sering memaklumi ketidakjujuran kecil, koneksi “belakang”, dan jalan pintas dalam keseharian.
Ingat, negara tidak hancur karena niat jahat semata. Negara hancur karena niat baik yang dikelola oleh orang yang tidak kompeten. Dan orang tidak kompeten itu naik ke panggung karena kita yang memberi tiketnya.
Orang tidak kompeten itu, dahulunya adalah seorang anak dari sebuah keluarga, seorang siswa yang sedang duduk di ruang kelas Bapak Ibu Guru dan Dosen, seorang bintara dan tamtama yang menghindari peluru sambil tiarap saat pendidikan militer dasar, seorang rakyat yang meminta dijadikan wakil kita, dahulu mereka semua rakyat jelata seperti kita.
Surat Terbuka untuk Jari Kelingking Anda
Artikel ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk mengingatkan jari kelingking Anda yang bertinta ungu setiap lima tahun sekali. Indonesia sedang di fase “Mabuk Nikel & Batubara”. Angka pertumbuhan kita terlihat cantik. Tapi, apakah fondasi kita kuat?
Berhentilah menyalahkan pemimpin jika nanti negara ini salah arah. Jika belum mampu mendidik calon pemimpin di dalam rumah masing-masing, mari, mulailah dari bilik suara.
- Jangan pilih calon yang berjanji “Semua Gratis”, tapi tidak bisa menjelaskan dari mana uangnya.
- Jangan pilih calon yang hanya bisa bagi-bagi sembako, tapi tidak punya visi industrialisasi.
Memilih pemimpin yang mengajak kita “berkeringat” (meningkatkan produktivitas) memang tidak enak. Rasanya pahit, seperti menelan biji kedondong. Tapi, pemimpin yang berani memberikan “obat pahit” itulah yang biasanya menyelamatkan nyawa bangsa.
Negara gagal bukan takdir. Negara gagal adalah hasil akumulasi dari pilihan-pilihan bodoh sebuah bangsa yang enggan dewasa.
Tulisan ini bukan mengajak pembaca untuk membenci pemimpin yang sekarang atau nanti. Kebencian adalah alat pemecah belah yang ampuh. Pemilu 2029 masih lama, kita masih punya 3 tahun lebih untuk mendukung pemerintahan sekarang dalam menyejahterakan rakyat serta menegakkan hukum dan keadilan. Tidak ada gading yang tak retak, karena kita adalah mereka.
Sudah seharusnya, walau dengan serba keterbatasan sebagai rakyat jelata, mari bantu pemerintah wujudkan cita-cita luhur bangsa, agar kelak lahir pemimpin arif lagi bijaksana dari rahim kita, rahim rakyat jelata.
Penulis: A. Burhany
Disadur dan dikembangkan dari analisis Ren Muhammad di Kompas: “Belajar dari Venezuela”

























