Peristiwa penembakan brutal di Bandara Korowai Batu, Papua Selatan, merenggut nyawa dua pilot maskapai PT Smart Cakrawala Aviation (Smart Air), Egon Erawan dan Baskoro Adi Anggoro. Insiden yang terjadi pada Selasa, 11 Februari, ini tidak hanya menimbulkan duka mendalam, tetapi juga membuka kembali luka lama terkait isu keamanan dan praktik ilegal di wilayah tersebut.
Insiden Penembakan di Bandara Korowai Batu
Kronologi kejadian bermula ketika pesawat Smart Air bernomor penerbangan PK-SNR mendarat di Bandara Korowai Batu sekitar pukul 11.05 WIT, membawa 13 penumpang. Setelah penumpang turun, sekelompok orang bersenjata yang diduga berasal dari Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) muncul dari semak-semak di tepi bandara. Pilot sempat berusaha melarikan diri ke arah hutan, namun berhasil ditangkap dan dibawa ke hanggar, di mana mereka kemudian ditembak mati.
TPNPB mengklaim bertanggung jawab atas aksi penembakan ini, dengan alasan bahwa maskapai Smart Aviation kerap digunakan untuk mengangkut pasukan keamanan Indonesia ke berbagai wilayah di Papua. Mereka juga menyatakan bahwa peringatan yang telah dikeluarkan sebelumnya tidak diindahkan oleh para pilot.
Dampak dan Reaksi Pasca-Penembakan
Situasi di Kampung Danowage, yang berdekatan dengan lokasi kejadian, seketika menjadi mencekam. Warga setempat mengungkapkan kekecewaan dan kemarahan mereka, menilai insiden ini tidak akan terjadi jika aparat keamanan bertindak tegas dalam memberantas praktik pendulangan emas ilegal yang telah lama berlangsung di kawasan tersebut.
Seorang pegiat pendidikan di Kampung Danowage yang enggan disebutkan namanya berpendapat bahwa isu tambang emas ilegal dan akses yang terbuka menjadi pemicu utama gangguan keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat lokal. Menanggapi situasi darurat ini, seorang penginjil asli Papua bernama Jimmy memimpin upaya evakuasi swadaya terhadap guru dan pekerja medis dari Sekolah Lentera Harapan dan Klinik Siloam yang mayoritas adalah pendatang. Evakuasi dilakukan menggunakan perahu kayu menyusuri sungai sejauh kurang lebih 30 kilometer menuju Bandara Yaniruma, sebelum diterbangkan ke Sentani menggunakan pesawat yayasan misionaris.
Menanggapi tragedi ini, Ikatan Pilot Indonesia (IPI) mengecam keras tindakan pembunuhan tersebut sebagai tindakan yang “memilukan” dan “tidak manusiawi”, yang jelas-jelas melanggar prinsip keamanan penerbangan internasional. IPI juga mendesak pemerintah untuk segera mengambil tindakan tegas dengan menutup sementara bandara yang memiliki risiko keamanan tinggi hingga jaminan keamanan yang memadai dapat terpenuhi.
Isu Tambang Emas Ilegal dan Keterlibatan Maskapai
Jimmy, penginjil di Danowage, menambahkan bahwa pesawat yang mendarat di Bandara Korowai Batu seringkali dimanfaatkan untuk mengangkut para pendulang emas ilegal. Ia berpandangan bahwa aktivitas ilegal inilah yang menjadi salah satu faktor krusial yang memicu penembakan terhadap pilot Smart Air. Sebuah laporan dari BBC News Indonesia pada tahun 2017 memang pernah mengungkap adanya praktik tambang ilegal di hutan hujan tropis yang hanya dapat diakses melalui jalur darat dari Danowage atau menggunakan helikopter.
Meskipun Juru Bicara Polda Papua mengklaim bahwa aktivitas pendulangan emas di dekat Danowage telah ditutup, Jimmy memberikan kesaksian bahwa aktivitas tersebut masih terus berjalan ramai. Ia juga menegaskan bahwa pesawat Smart Air kerap digunakan untuk membawa para pendulang emas ilegal masuk ke Korowai Batu, yang pada akhirnya berujung pada jatuhnya korban, termasuk para pilot yang tidak bersalah. Dampak dari aktivitas pendulangan emas ilegal ini dirasakan langsung oleh warga Kampung Danowage, mulai dari tercemarnya Sungai Deiram hingga ketidakberanian warga untuk mengonsumsi ikan atau udang dari sungai tersebut. Para pegiat pendidikan di distrik tersebut juga mengeluhkan rusaknya ekosistem dan hilangnya kesempatan anak-anak untuk berenang mencari ikan.
Pernyataan Pihak Terkait dan Tindakan Keamanan
Manajer Eksekutif Smart Air, Lerry Janurengers, menyatakan bahwa fokus utama perusahaan saat ini adalah pada proses pemulangan jenazah korban, memberikan waktu bagi keluarga untuk berduka, dan menunggu informasi resmi dari pihak berwenang. Oleh karena itu, perusahaan belum dapat memberikan keterangan lebih lanjut.
Pengurus Ikatan Pilot Indonesia, Rama Noya, menegaskan bahwa tidak ada pilot dalam organisasi mereka yang bertindak sebagai mata-mata bagi aparat keamanan. Ia juga menekankan bahwa pilot sipil seharusnya tidak menjadi sasaran dalam konflik bersenjata. Sementara itu, Polda Papua melalui Kabid Humas Kombes Cahyo Sukarnito membantah keras klaim penutupan tambang emas ilegal. Di sisi lain, Kepala Operasi Satgas Cartenz, Brigjen Faizal Ramadhani, mengkonfirmasi bahwa sebanyak 20 personel polisi dan 12 tentara Angkatan Udara telah dikirim untuk menjaga Bandara Korowai Batu dan memastikan situasi tetap kondusif. Personel keamanan juga ditugaskan untuk menjamin keselamatan 39 warga Danowage yang telah mengungsi. Kepolisian berencana untuk menggelar operasi penindakan terhadap pimpinan TPNPB yang diduga terlibat.
Latar Belakang Ancaman TPNPB
TPNPB, yang diklaim dipimpin oleh Elkius Kobak dan Kopitua Heluka, tercatat telah berulang kali melancarkan ancaman dan serangan terhadap pesawat yang mereka curigai mengangkut polisi dan tentara. Ancaman serupa juga datang dari jaringan TPNPB di wilayah lain, seperti milisi yang dipimpin Apeni Kobagao di Bandara Sugapa, Intan Jaya.
Dalam beberapa publikasi, maskapai Smart Air memang tercatat pernah dilibatkan dalam operasional kepolisian dan militer, termasuk untuk misi evakuasi warga pendatang dan pengangkutan anggota satuan tugas. Pesawat Smart Air juga pernah dilaporkan ditembaki oleh milisi TPNPB di beberapa lokasi seperti Bandara Pogapa, Bandara Bilorai, dan Bandara Sinak, menunjukkan pola serangan yang berulang.
Kronologi Detil Peristiwa Penembakan
Pesawat Smart Air jenis Cessna Grand Caravan PK-SNR berangkat dari Bandara Tanah Merah, Boven Digoel, pada pukul 10.38 WIT, membawa total 13 penumpang, termasuk satu bayi. Pesawat tersebut kemudian mendarat di Bandara Korowai Batu sekitar pukul 11.05 WIT. Saat pesawat mendarat, sekitar 15 warga Danowage terlihat berada di dekat landasan. Setelah para penumpang keluar, sekelompok orang bersenjata muncul secara tiba-tiba dari balik pepohonan di sisi bandara. Dalam kepanikan, warga dan penumpang berlarian mencari perlindungan di bangunan bandara, sementara kedua pilot memutuskan untuk melarikan diri ke arah hutan. Sayangnya, mereka tertangkap dan dibawa ke hanggar, di mana mereka kemudian dieksekusi oleh milisi TPNPB. Menurut kesaksian Jimmy, warga setempat tidak mengenali para penyerang tersebut, namun ia menduga mereka adalah milisi yang kerap beroperasi di wilayah Yahukimo. Jimmy dan warga setempat dilaporkan berusaha keras melindungi guru serta pekerja medis agar tidak terlihat oleh para penyerang.























