Tragedi kembali menyelimuti dunia pendakian Indonesia. Maliya Finda (51), seorang pendaki asal Surabaya, beserta pemandu lokalnya, Irfan Nasrul Laili (35), ditemukan meninggal dunia di dasar jurang sedalam 470 meter di Gunung Piramid, Bondowoso, Jawa Timur, setelah dilaporkan hilang sejak Minggu (2/8/2026).
Kronologi Mengharukan Penemuan Jenazah Pendaki dan Pemandu
Maliya Finda, akrab disapa Hj Finda, seorang nenek dengan satu cucu, memulai pendakiannya ke Gunung Piramid pada Minggu pagi (2/8/2026) didampingi pemandu lokal Irfan Nasrul Laili. Rencananya, pendakian ini hanya bersifat singkat, berangkat pagi dan kembali pada sore hari yang sama. Namun, harapan keluarga dan kerabat Finda untuk melihatnya kembali dengan selamat pupus ketika kontak komunikasi terputus sejak Minggu sore.
Menurut keterangan Wawan, kerabat Finda, Hj Finda berangkat dari Surabaya menuju Bondowoso pada Sabtu (1/8/2026) pagi. Selama perjalanan dan di awal pendakian, beliau masih sempat berkomunikasi dengan anaknya yang berada di Bali. Namun, memasuki hari Senin (3/8/2026), tidak ada lagi kabar yang diterima dari Finda, baik melalui pesan singkat maupun panggilan telepon. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan keluarga.
Proses Evakuasi yang Menantang
Penemuan jenazah Hj Finda dan Irfan terjadi pada Selasa (4/8/2026) pagi, di dasar jurang yang sangat dalam, diperkirakan mencapai 470 meter. Kedalaman jurang ini menghadirkan tantangan signifikan bagi tim SAR gabungan yang berjuang untuk melakukan proses evakuasi. Panjang tali yang tersedia dilaporkan kurang memadai, membutuhkan improvisasi dan alat bantu tambahan untuk mengangkat kedua jenazah dari kedalaman tersebut.
“Kami menunggu proses evakuasi, kedalamannya itu sekitar 470 meter. Jurang dalam. Jadi ada tali 300 meter kurang panjang, kabar kerabat kami di sana, katanya lagi kesulitan dengan alat. Masih proses, semoga bisa dievakuasi secepatnya,” ujar Wawan, kerabat Finda, saat ditemui di teras rumah duka di Surabaya.
Sosok Maliya Finda: Semangat Petualangan di Usia Senja
Maliya Finda dikenal sebagai pribadi yang baik, ramah, dan periang di kalangan keluarga dan tetangganya. Meskipun telah memasuki usia 51 tahun dan telah menjadi seorang nenek, semangatnya untuk menjelajahi alam, khususnya mendaki gunung, tidak pernah surut. Hobi mendaki ini baru digeluti Finda dalam dua hingga tiga tahun terakhir, namun beliau telah berhasil menaklukkan beberapa gunung populer seperti Rinjani dan Lawu.
Selain mendaki, Finda juga memiliki hobi bersepeda (gowes) yang sudah ditekuni lebih lama, bahkan hampir setiap hari, terutama saat akhir pekan. Wawan, keponakannya, kerap ikut serta dalam komunitas gowes bersama tantenya tersebut.
Meskipun keluarganya mengetahui rencana pendakian tersebut, mereka tidak menyadari bahwa Gunung Piramid memiliki larangan pendakian. Riris, istri Wawan yang terakhir berkomunikasi dengan Finda beberapa hari sebelum pendakian, menyatakan bahwa tantenya hanya menyebutkan rencana mendaki dengan pemandu pribadi.
Dugaan Penyebab dan Rencana Pemakaman
Dugaan awal dari pihak keluarga, berdasarkan keterangan yang diterima, adalah bahwa Maliya Finda mengalami kecelakaan terpeleset yang berujung pada jatuhnya beliau ke dalam jurang. Namun, kepastian penyebab pasti akan menunggu hasil visum resmi dari pihak kepolisian.
Jenazah Maliya Finda rencananya akan disemayamkan di rumah duka di Surabaya untuk proses penyucian, pemandian, dan salat jenazah, sebelum akhirnya dimakamkan di kompleks pemakaman umum Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar yang kehilangan sosok yang aktif dan penuh semangat di usia yang seharusnya digunakan untuk beristirahat.
Add wartakita.id as a preferred source on Google























