Upaya memerangi Tuberkulosis (TBC) di Sulawesi Barat semakin diperkuat melalui sinergi erat antara Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) dan Polda Sulbar. Kolaborasi ini mengintegrasikan berbagai elemen masyarakat untuk pencapaian eliminasi TBC.
Kolaborasi Erat Dinkes P2KB dan Polda Sulbar dalam Pemberantasan TBC
Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Sulawesi Barat, bersama Polda Sulbar, telah menggelar asistensi Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) yang bertujuan memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan penularan Tuberkulosis (TBC) di wilayah tersebut. Kegiatan ini menegaskan pentingnya pendekatan lintas sektor dalam menangani tantangan kesehatan yang kompleks.
Pendekatan Pentahelix dan Inovasi Garatta TBC
Kepala Dinkes P2KB Provinsi Sulbar, dr. Nursyamsi Rahim, menyampaikan pandangannya bahwa TBC bukan sekadar masalah kesehatan, melainkan juga merupakan tantangan sosial yang menuntut partisipasi aktif dari seluruh komponen masyarakat. Keterlibatan kepolisian bersama tenaga kesehatan adalah manifestasi konkret dari penerapan pendekatan pentahelix, di mana sektor keamanan memegang peran krusial sebagai mitra strategis dalam pembangunan kesehatan masyarakat.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat terus berinovasi dalam mengembangkan model kolaborasi lintas sektor melalui program unggulan, yaitu Gerakan Aktif Masyarakat dan Tenaga Kesehatan Terpadu Atasi TBC (Garatta TBC). Inovasi ini dirancang untuk menyatukan peran pemerintah, tenaga kesehatan, aparat keamanan, pemerintah desa, kader kesehatan, hingga partisipasi aktif masyarakat demi percepatan eliminasi TBC di Sulawesi Barat.
“Kami sangat optimis, dengan penguatan kolaborasi yang berkelanjutan antara pemerintah daerah, kepolisian, tenaga kesehatan, dan seluruh elemen masyarakat, upaya penanggulangan TBC akan menunjukkan efektivitas yang jauh lebih baik. Bersama-sama, kita akan mewujudkan Sulawesi Barat yang sehat dan bebas dari TBC,” ujar dr. Nursyamsi Rahim, memancarkan keyakinan.
Peran Kepolisian dan Bhabinkamtibmas
Direktur Pembinaan Masyarakat (Dirbinmas) Polda Sulbar, Komisaris Besar Polisi Prasetya Sejati, secara tegas menyatakan bahwa keterlibatan institusi kepolisian melalui Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) merupakan bentuk dukungan nyata terhadap program prioritas pemerintah di sektor kesehatan. Penguatan kapasitas Bhabinkamtibmas diharapkan dapat secara signifikan meningkatkan efektivitas penyebaran informasi kesehatan dan kualitas pendampingan masyarakat hingga ke pelosok desa.
Pentingnya Kepatuhan Pengobatan TBC
Pengelola Program TBC Dinkes P2KB Provinsi Sulbar, Harsalim, menekankan betapa vitalnya kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan TBC secara teratur hingga tuntas sebagai kunci keberhasilan pengendalian penyakit ini. Pengobatan TBC memiliki standar waktu minimal enam bulan yang wajib dijalani:
- Tahap Awal (2 bulan): Fase ini krusial untuk membunuh sebagian besar kuman TBC, meredakan gejala klinis, dan secara signifikan menurunkan risiko penularan kepada orang lain.
- Tahap Lanjutan (4 bulan): Bertujuan untuk membasmi sisa-sisa kuman yang mungkin masih ada, mencegah terjadinya kekambuhan penyakit, dan memastikan tercapainya kesembuhan total bagi pasien.
Harsalim mengingatkan dengan tegas bahwa pasien tidak diperbolehkan menghentikan pengobatan sebelum seluruh rangkaian terapi selesai, sekalipun kondisi fisik mereka sudah menunjukkan perbaikan. Pengobatan yang terputus dapat mengakibatkan kuman TBC belum sepenuhnya musnah, meningkatkan risiko penularan kembali, memicu kekambuhan penyakit, dan lebih jauh lagi berpotensi menimbulkan Tuberkulosis Resisten Obat (TB RO) yang merupakan kondisi sangat sulit ditangani.
Sinergi Bhabinkamtibmas dan Tenaga Kesehatan
Dalam upaya memastikan pasien tetap patuh menjalani pengobatan, Harsalim menyoroti peran strategis Bhabinkamtibmas sebagai mitra tak terpisahkan bagi tenaga kesehatan di lini terdepan. Kedekatan Bhabinkamtibmas dengan komunitas di tingkat akar rumput dinilai sangat efektif dalam memberikan motivasi, edukasi kesehatan, serta pendampingan intensif kepada pasien agar senantiasa disiplin dalam meminum obat. Kolaborasi sinergis ini menjadi kekuatan pendorong utama dalam menjamin kepatuhan pasien minum obat sekaligus berupaya mengurangi stigma negatif yang kerap melekat pada penderita TBC di tengah masyarakat.
Kontributor: M. Ridham
Penyunting: Budi S.
Add wartakita.id as a preferred source on Google























