JAKARTA, Wartakita.id – Gelombang demonstrasi masif yang menyapu hampir seluruh kota besar di Indonesia pada akhir Agustus 2025, termasuk yang memuncak di Makassar, bukanlah sekadar reaksi sesaat. Ini adalah akumulasi frustrasi publik yang mendalam, dipicu oleh dua sumbu kemarahan berbeda namun saling menguatkan: rencana kenaikan gaji dan tunjangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI di tengah kesulitan ekonomi, dan insiden tragis kematian seorang pengemudi ojek online (ojol) akibat tindakan represif aparat. Peristiwa ini dengan cepat mengikis kepercayaan terhadap institusi negara dan menyulut solidaritas nasional yang melintasi sekat sosial.
Gejolak dimulai sejak Senin, 25 Agustus 2025, ketika isu kenaikan tunjangan DPR mulai mendominasi perbincangan publik dan media sosial. Namun, api kemarahan mencapai puncaknya setelah pada Kamis, 28 Agustus, seorang pengemudi ojol bernama Affan Kurniawan, 32 tahun, tewas terlindas kendaraan taktis Brimob saat kericuhan pecah di Jakarta. Insiden yang terekam jelas dan viral di jagat maya ini, tidak hanya memicu protes terhadap legislatif, tetapi juga mengubahnya menjadi tuntutan keadilan atas kebrutalan aparat, menyatukan berbagai elemen masyarakat dari mahasiswa, buruh, hingga komunitas ojol dalam satu suara protes yang membakar emosi di seluruh penjuru negeri.
Kenaikan Tunjangan DPR: Pemicu Api Ketidakpercayaan
Wacana kenaikan gaji dan tunjangan anggota DPR RI, yang diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah, muncul di tengah kondisi ekonomi makro Indonesia yang penuh tantangan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal 2025 menunjukkan laju inflasi yang persisten di atas target pemerintah, diikuti oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi dan kenaikan angka pengangguran di sektor formal. Bagi mayoritas masyarakat Indonesia, kenaikan ini terasa seperti tamparan keras di saat daya beli terus menurun dan beban hidup semakin berat.
Disparitas Ekonomi dan Retaknya Kontrak Sosial
Keputusan untuk menaikkan fasilitas bagi para legislator, yang gaji dan tunjangan mereka sudah jauh di atas rata-rata pendapatan masyarakat, dianggap menunjukkan ketidakpekaan dan abai terhadap realitas pahit yang dihadapi rakyat. Analisis sosiologis menunjukkan bahwa isu semacam ini seringkali menjadi katalisator bagi retaknya kontrak sosial—kesepakatan tak tertulis antara pemerintah dan rakyat, di mana legitimasi kekuasaan dipertukarkan dengan janji kesejahteraan dan keadilan. Ketika janji itu dianggap dilanggar, terutama oleh elit politik yang tampak menikmati privilese, maka ketidakpercayaan publik akan memuncak.
Kenaikan tunjangan ini juga mengemuka di tengah sorotan tajam terhadap kinerja legislatif. Publik menyoroti lambatnya pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) vital seperti RUU Perampasan Aset, yang digadang-gadang dapat memperkuat pemberantasan korupsi. Kontrasnya, pembahasan kebijakan yang berpihak pada kepentingan elit justru berjalan cepat. Fenomena ini memperkuat persepsi publik bahwa DPR lebih berpihak pada dirinya sendiri daripada pada kepentingan rakyat yang diwakilinya.
Tragedi Affan Kurniawan: Membakar Emosi dan Mengubah Arah Protes
Jika isu tunjangan DPR adalah percikan api, maka kematian Affan Kurniawan adalah bensin yang menyulutnya menjadi kobaran besar. Pada Kamis, 28 Agustus, di tengah unjuk rasa damai di depan Gedung DPR RI, Jakarta, kericuhan pecah. Dalam suasana kacau, sebuah kendaraan taktis Brimob bergerak dan melindas Affan. Video amatir yang merekam insiden mengerikan ini, dengan cepat menyebar dan menjadi viral di seluruh platform media sosial.
Kekuatan Viral dan Solidaritas Digital-Lokal
Dalam hitungan jam, tagar #JusticeForAffan dan #KitaSemuaAffan mendominasi lini masa, memicu gelombang kemarahan yang melampaui isu tunjangan DPR. Fokus protes bergeser secara dramatis dari kritik terhadap kebijakan legislatif menjadi kecaman terhadap kebrutalan aparat keamanan dan tuntutan keadilan. Kejadian ini menjadi simbol penindasan negara terhadap rakyat kecil, memperkuat narasi bahwa rakyat sipil rentan terhadap tindakan represif. Kasus Affan Kurniawan bukan hanya menjadi berita nasional; di tingkat lokal, khususnya di komunitas ojol, kematiannya memicu duka mendalam dan rasa solidaritas yang luar biasa, mengubah mereka menjadi garda terdepan dalam aksi protes.
Peristiwa ini mengingatkan kembali pada berbagai insiden kekerasan aparat yang kerap terjadi di Indonesia, memicu perdebatan panjang mengenai akuntabilitas dan reformasi institusi keamanan. Kematian Affan, yang merupakan tulang punggung keluarga di tengah kerasnya ekonomi, menambah dimensi kemanusiaan yang mendalam pada gelombang protes, mengubahnya menjadi gerakan yang digerakkan oleh empati dan kemarahan kolektif terhadap ketidakadilan.
Gelombang Solidaritas: Dari Buruh, Mahasiswa, hingga Komunitas Ojol
Gabungan dua sumber kemarahan—ketidakadilan ekonomi yang direpresentasikan oleh tunjangan DPR, dan kebrutalan aparat yang disimbolkan oleh kematian Affan—terbukti menjadi formula yang sangat efektif untuk mobilisasi massa. Gerakan protes yang awalnya mungkin terkotak-kotak, kini menemukan titik temu dan narasi pemersatu.
Aliansi Lintas Sektor dan Tuntutan Bersama
Mahasiswa, yang secara historis menjadi penggerak perubahan di Indonesia, kembali turun ke jalan dengan tuntutan reformasi birokrasi, penolakan kebijakan populis yang merugikan rakyat, serta desakan pengesahan RUU yang pro-rakyat. Di sisi lain, kelompok buruh, yang diwakili oleh gerakan HOSTUM (Hapus Outsourcing, Tolak Upah Murah), dengan sigap bergabung, membawa serta isu-isu kesejahteraan pekerja yang sudah lama terabaikan. Mereka melihat kenaikan tunjangan DPR sebagai ironi besar di tengah perjuangan mereka menuntut upah layak dan jaminan kerja.
Namun, kekuatan pendorong terbesar dalam eskalasi ini datang dari komunitas pengemudi ojol. Dengan jumlah anggota yang besar dan jaringan komunikasi yang solid, mereka mampu memobilisasi diri dengan cepat dan efektif. Solidaritas dan duka atas kematian Affan menjadi perekat yang kuat. Dari Jakarta hingga Makassar, Surabaya, Medan, dan kota-kota lainnya, ribuan pengemudi ojol yang biasanya sibuk di jalanan, kini membanjiri jalan-jalan utama, menuntut keadilan bagi rekan mereka dan menolak kebijakan yang dianggap tidak adil.
Konteks Nasional dan Implikasi Jangka Panjang bagi Indonesia
Gejolak Agustus 2025 ini harus dilihat dalam konteks lanskap sosial dan politik Indonesia yang lebih luas. Tingginya angka ketimpangan ekonomi (Gini Ratio yang cenderung stagnan) dan persepsi korupsi yang masih merajalela, telah menciptakan jurang antara “elit” dan “rakyat biasa”. Dalam situasi demikian, setiap kebijakan yang dianggap menguntungkan elit dan merugikan rakyat akan dengan mudah memicu reaksi keras. Bagi kelompok masyarakat rentan, seperti pekerja informal atau buruh dengan upah minimum, kenaikan tunjangan DPR menjadi simbol konkret dari ketidakadilan struktural yang mereka hadapi setiap hari.
Pentingnya Respons Pemerintah yang Empati dan Akuntabel
Insiden seperti kematian Affan Kurniawan secara spesifik menyoroti kebutuhan mendesak akan reformasi kepolisian dan penegakan hukum yang akuntabel. Di Indonesia, isu kekerasan aparat seringkali menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja, terutama ketika kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum mulai terkikis. Respons pemerintah yang cepat, transparan, dan berempati menjadi krusial untuk meredakan ketegangan dan mengembalikan kepercayaan publik.
Dampak jangka panjang dari gejolak ini sangat signifikan. Pertama, ini merupakan peringatan keras bagi para pembuat kebijakan mengenai pentingnya empati dan kepekaan terhadap kondisi riil masyarakat. Kedua, ia menegaskan kembali peran krusial media sosial sebagai arena mobilisasi dan penyebaran informasi yang tidak dapat diremehkan. Ketiga, ini mendorong pertanyaan tentang masa depan demokrasi Indonesia: apakah institusi-institusi demokrasi mampu merepresentasikan suara rakyat secara efektif, ataukah jurang pemisah antara pemerintah dan yang diperintah akan semakin melebar?
Peristiwa ini juga memunculkan urgensi untuk lebih serius dalam membahas RUU Perampasan Aset dan RUU lain yang relevan dengan peningkatan kesejahteraan rakyat, serta evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan outsourcing dan standar upah minimum. Kegagalan untuk menanggapi tuntutan ini secara serius dapat menyebabkan siklus ketidakpuasan yang berulang, membahayakan stabilitas sosial dan politik negara.
Kesimpulan Redaksi
Gelombang protes Agustus 2025 adalah manifestasi dari krisis kepercayaan yang kompleks, berakar pada ketidakadilan ekonomi dan penyalahgunaan kekuasaan. Kenaikan tunjangan DPR dan tragedi kematian Affan Kurniawan bukan hanya pemicu insiden, melainkan simptom dari masalah struktural yang lebih dalam. Peristiwa ini telah menyatukan berbagai lapisan masyarakat Indonesia dalam satu tuntutan fundamental: keadilan, akuntabilitas, dan tata kelola negara yang berpihak pada rakyat. Bagi para pembuat kebijakan di Istana maupun Senayan, ini adalah momen kritis untuk berefleksi dan bertindak dengan kebijaksanaan, sebelum retakan di tatanan sosial semakin melebar tak terkendali.























