Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XXXIV Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2026 secara resmi dibuka di Makassar, menandai dimulainya kembali kompetisi akbar pembacaan Al-Qur’an di salah satu provinsi serumpun tradisi Islam di Indonesia.
- MTQ XXXIV Sulsel 2026 dibuka secara virtual, melibatkan 1.044 kafilah dari 24 kabupaten/kota.
- Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, berharap ajang ini menjadi kebangkitan prestasi MTQ di tingkat nasional.
- Sejarah panjang MTQ di Sulsel, termasuk menjadi tuan rumah MTQ Nasional pertama dan kedua, ditekankan.
- Dorongan peningkatan pembinaan qari dan qariah demi target masuk tiga besar atau juara pertama MTQ Nasional.
- Kajian kebijakan baru MTQ, termasuk peniadaan STQ dan fokus pada MTQ tahunan, disampaikan.
- Relevansi Al-Qur’an di era modern, sains, dan teknologi ditegaskan kembali.
- MTQ diposisikan sebagai ajang komprehensif, bukan sekadar lomba tilawah.
Pembukaan Virtual MTQ XXXIV Sulsel 2026: Cita-cita Kebangkitan Prestasi Nasional
Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan beserta jajaran Forkopimda secara langsung menyaksikan pembukaan acara akbar ini di Makassar, yang terhubung secara virtual dengan Menteri Agama Republik Indonesia, Bapak Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A. Beliau, yang tidak dapat hadir fisik karena kesibukan tugas di ibukota, menyampaikan pesan kuatnya melalui layar kaca. “Hati saya tetap bersama bapak-ibu sekalian di arena MTQ ini,” ujar beliau, menggarisbawahi kedekatan emosional dan spiritualnya dengan gelaran penting ini.
Sebanyak 1.044 kafilah, utusan terbaik dari 24 kabupaten dan kota se-Sulawesi Selatan, telah berkumpul dan siap berkompetisi. Angka ini mencerminkan antusiasme dan keseriusan Sulsel dalam membina generasi Qurani. Sebagai seorang pemerhati dan pegiat Al-Qur’an di tingkat nasional, saya melihat momentum seperti inilah yang krusial untuk terus membangkitkan semangat kompetisi yang sehat dan berprestasi.
Jejak Sejarah dan Ambisi Prestasi Sulsel di Arena MTQ
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengingatkan kembali warisan berharga Sulawesi Selatan dalam sejarah penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Quran di Indonesia. “MTQ Tingkat Nasional pertama kali digelar di Sulawesi Selatan pada tahun 1970. Bahkan, MTQ kedua juga masih berpusat di sini sebelum akhirnya bergilir ke provinsi-provinsi lain,” ungkapnya. Pengingat ini bukan sekadar nostalgia, melainkan penegasan bahwa Sulsel memiliki akar yang kuat dan rekam jejak gemilang dalam tradisi Qurani.
Dengan sejarah panjang tersebut, Nasaruddin Umar secara tegas mendorong peningkatan kualitas pembinaan qari dan qariah di Sulawesi Selatan. Tujuannya ambisius: agar Sulsel tidak hanya mampu bersaing, tetapi mendominasi panggung MTQ Tingkat Nasional, menargetkan masuk tiga besar, bahkan meraih predikat juara pertama. “Ini harus menjadi perhatian bersama agar kompetisi itu bisa ditingkatkan,” tegasnya. Sebagai insan yang memahami betul dinamika pembinaan atlet, fokus pada kualitas pelatih, kurikulum, dan sarana prasarana menjadi kunci utama.
Reformulasi Kebijakan MTQ dan Relevansi Al-Qur’an di Era Digital
Lebih lanjut, Menteri Agama memaparkan adanya kebijakan baru yang tengah dikaji oleh pemerintah terkait format penyelenggaraan MTQ. Rencananya, Seleksi Tilawatil Quran (STQ) akan ditiadakan. Fokus dan energi penyelenggaraan akan sepenuhnya dialihkan dan dikonsolidasikan pada MTQ yang kini akan digelar setiap tahun. “Energi penyelenggaraan STQ dan MTQ itu sama. Karena itu ke depan kita arahkan semua menjadi MTQ,” jelasnya. Langkah ini diharapkan dapat menyederhanakan sekaligus memperkuat ekosistem kompetisi Al-Qur’an.
Dalam orasinya yang sarat makna, Menag juga menyoroti bagaimana Al-Qur’an justru semakin relevan di tengah derasnya arus perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, termasuk di era kecerdasan buatan. Beliau menegaskan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan sains (ayatun sains) kini aktif dikaji di berbagai laboratorium ilmiah dan terbukti konsisten serta sejalan dengan temuan-temuan sains kontemporer. Ini menjadi bukti bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang senantiasa menawarkan kedalaman dan keluasan makna, relevan bagi segala zaman.
Penting untuk digarisbawahi, Menag mengingatkan bahwa MTQ bukanlah sekadar lomba membaca atau melantunkan ayat suci Al-Qur’an semata. Ia adalah sebuah ajang yang sangat luas dan komprehensif, mencakup berbagai cabang keilmuan dan keterampilan terkait Al-Qur’an. Mulai dari aspek tilawah yang indah, seni kaligrafi yang artistik, hingga diskusi ilmiah mendalam mengenai kandungan dan tafsir Al-Qur’an. Dengan pembukaan MTQ XXXIV Sulsel 2026 ini, harapan besar disematkan agar tradisi Qurani di Sulsel semakin kokoh dan melahirkan generasi juara yang membawa nama harum bangsa di kancah internasional.
Kontributor: M. Ridham
Penyunting: Budi Saktia























