Mulai Mei-Juni 2026, wajah transportasi laut Makassar akan berubah. Inisiatif ‘Pete-pete’ laut, armada transportasi laut baru, siap mengarungi perairan, menjanjikan peningkatan konektivitas dan aksesibilitas bagi puluhan ribu warga kepulauan.
- Armada baru ‘Pete-pete’ laut akan beroperasi penuh pada Mei-Juni 2026.
- Fokus utama adalah meningkatkan akses dan kelancaran aktivitas warga kepulauan Makassar.
- Rute mencakup Pulau Barrang Lompo, Barrang Caddi, hingga Pulau Lanjukang, menampung puluhan penumpang per perjalanan.
- Merupakan bagian dari program visi-misi Pemerintah Kota Makassar untuk kesejahteraan warga pulau.
- Mengintegrasikan sistem transportasi laut untuk mobilitas, ekonomi, dan pemerataan pembangunan.
- Menjawab keterbatasan akses transportasi yang selama ini dirasakan masyarakat kepulauan.
- Menjadi bukti komitmen nyata pemerintah dalam pembangunan di wilayah kepulauan, termasuk layanan administrasi dan penerangan.
Pete-pete Laut: Jembatan Baru Menuju Kesejahteraan Warga Kepulauan
Pemerintah Kota Makassar mengumumkan kesiapan peluncuran armada transportasi laut baru yang dikenal sebagai ‘Pete-pete’ laut. Moda transportasi inovatif ini dijadwalkan mulai beroperasi pada Mei atau Juni 2026, menandai babak baru dalam upaya meningkatkan aksesibilitas dan memperlancar aktivitas keseharian masyarakat yang mendiami wilayah kepulauan.
Kehadiran Pete-pete laut ini bukan sekadar penambahan armada transportasi. Ini adalah manifestasi konkret dari visi-misi Pemerintahan Mulia (Munafri-Aliyah) yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan warga pulau. Armada ini dirancang untuk melayani puluhan penumpang dalam sekali pelayaran, menghubungkan daratan Kota Makassar dengan pulau-pulau strategis seperti Pulau Barrang Lompo, Pulau Barrang Caddi, dan Pulau Lanjukang.
Integrasi Sistem Transportasi Laut untuk Ekonomi dan Pembangunan
Gagasan ini telah digaungkan sejak awal oleh Bapak Munafri, yang secara proaktif mendiskusikan pentingnya sistem transportasi laut terintegrasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk dengan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Perhubungan RI. Penekanan kuat diberikan pada bagaimana sistem transportasi laut yang solid dapat menjadi tulang punggung mobilitas warga kepulauan, mendorong denyut ekonomi lokal, serta mewujudkan pemerataan pembangunan yang adil hingga ke pelosok pulau.
“Selama ini, akses transportasi menjadi tantangan utama bagi saudara-saudara kita di pulau,” ujar seorang pemerhati transportasi lokal yang enggan disebutkan namanya, seringkali menyaksikan kesulitan warga saat berurusan di daratan. “Dengan adanya Pete-pete laut ini, saya optimistis kesenjangan akses akan berkurang drastis. Ini bukan hanya soal pindah dari satu titik ke titik lain, tapi tentang membuka peluang ekonomi dan sosial.”
Solusi Nyata Atas Keterbatasan Akses dan Layanan Publik
Rencana pembukaan rute kapal antarpulau ini diharapkan menjadi jawaban atas berbagai keterbatasan akses transportasi yang selama ini dihadapi oleh masyarakat kepulauan. Lebih dari sekadar konektivitas fisik, langkah ini juga bertujuan untuk memperkuat jalinan komunikasi dan mempererat hubungan antara daratan Kota Makassar dengan gugusan pulau di sekitarnya.
Apresiasi datang dari berbagai pihak, termasuk dari Camat Kepulauan Sangkarrang, Andi Asdhar, yang senantiasa menjadi corong aspirasi warga kepulauan. Ia menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas perhatian serius Pemerintah Kota Makassar yang telah dirasakan langsung dampaknya oleh masyarakat. “Bukan hanya soal transportasi, tapi juga kemudahan layanan administrasi kependudukan. Dulu, mengurus KTP, KK, atau akta kelahiran butuh perjalanan berhari-hari ke kantor kecamatan atau Disdukcapil. Sekarang, semua bisa diurus di kelurahan masing-masing,” jelas Andi Asdhar.
Lebih lanjut, Andi Asdhar menyoroti program penerangan jalan yang kini telah menjangkau wilayah kepulauan sebagai bukti nyata komitmen pemerintah dalam menghadirkan pemerataan pembangunan. Ia menambahkan bahwa masih banyak lagi program lain yang manfaatnya telah dirasakan secara langsung dan positif oleh masyarakat kepulauan, menciptakan rasa keadilan dan kepedulian yang kuat.
Kontributor: Budi Saktia
Penyunting: M. Ridham























