MAKASSAR, WARTAKITA.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk sebagian besar wilayah Sulawesi Selatan yang berlaku efektif pada Senin, 10 November 2025. Peringatan ini mencakup potensi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat, disertai angin kencang yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor. Wilayah Luwu Raya (Luwu, Luwu Timur, Luwu Utara), Bone, Sinjai, dan Bulukumba diidentifikasi sebagai area dengan tingkat risiko tertinggi.
Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar merinci bahwa curah hujan yang diperkirakan dapat mencapai 50 hingga 100 milimeter per hari. Puncak intensitas hujan diprediksi terjadi pada siang hingga sore hari. Peringatan ini disampaikan menyusul analisis data satelit dan radar cuaca yang menunjukkan adanya fenomena konvergensi angin monsun yang diperkuat oleh anomali La Niña lemah. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa, namun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Selatan telah mengeluarkan imbauan evakuasi mandiri bagi warga yang tinggal di bantaran sungai dan lereng curam.
Analisis Ilmiah dan Faktor Pemicu
Peringatan dini ini bukan tanpa dasar ilmiah yang kuat. Analisis BMKG menunjukkan adanya peningkatan curah hujan kumulatif sebesar 25% sepanjang periode Oktober hingga awal November 2025 dibandingkan rata-rata klimatologisnya. Fenomena ini merupakan kombinasi dari beberapa faktor meteorologi yang kompleks.
Kombinasi La Niña dan Konvergensi Angin
Kepala Stasiun Klimatologi Makassar menjelaskan bahwa La Niña dengan intensitas lemah saat ini berkontribusi pada peningkatan suplai uap air di atmosfer Indonesia bagian tengah. “Ketika suplai uap air ini bertemu dengan zona konvergensi atau pertemuan massa udara di atas Sulawesi Selatan, potensi pembentukan awan-awan konvektif penghasil hujan lebat menjadi sangat signifikan,” ujarnya dalam rilis resmi yang diterima Wartakita.id.
Pemantauan melalui citra satelit Himawari dan radar Doppler menunjukkan pergerakan massa awan dari Laut Flores menuju daratan Sulawesi Selatan, membawa serta kelembaban tinggi yang mencapai 85-95%. Suhu permukaan laut yang masih hangat juga menjadi bahan bakar tambahan bagi pertumbuhan awan hujan.
Dampak Degradasi Lingkungan
Selain faktor cuaca, para ahli juga menyoroti peran faktor antropogenik atau aktivitas manusia dalam memperparah risiko bencana. Di wilayah seperti Luwu Raya, praktik deforestasi akibat alih fungsi lahan dan aktivitas pertambangan telah mengurangi daya dukung lingkungan. Tanah yang kehilangan vegetasi penutup menjadi lebih rentan terhadap erosi dan longsor saat diguyur hujan dengan intensitas tinggi, serta mempercepat aliran air permukaan yang dapat menyebabkan banjir bandang di area hilir.
Langkah Mitigasi dan Kesiapsiagaan Pemerintah
Menanggapi peringatan dari BMKG, BPBD Provinsi Sulawesi Selatan di bawah koordinasi Pj. Gubernur Bahtiar Baharuddin telah mengaktifkan status siaga bencana. Sebanyak 50 tim reaksi cepat (TRC) telah disiagakan di titik-titik rawan bencana di seluruh provinsi.
Kepala Pelaksana BPBD Sulsel menyatakan bahwa langkah-langkah preventif telah dilakukan, termasuk distribusi karung pasir untuk tanggul darurat dan pembersihan saluran drainase utama. “Kami juga menggencarkan edukasi dan penyebaran informasi melalui berbagai kanal, termasuk pengeras suara di masjid, grup WhatsApp komunitas, dan media sosial resmi pemerintah,” jelasnya. Koordinasi lintas sektor dengan TNI, Polri, dan relawan kebencanaan juga telah diperkuat untuk memastikan respons yang cepat dan terorganisir jika terjadi kondisi darurat.
Imbauan untuk Keselamatan Masyarakat
Pemerintah dan BMKG secara serentak mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Warga diminta untuk sementara waktu menghindari aktivitas di luar ruangan yang tidak mendesak, terutama di area terbuka, perbukitan, dan dekat aliran sungai. Para nelayan di pesisir selatan diimbau untuk tidak melaut hingga kondisi cuaca kembali membaik. Petani di daerah dataran rendah juga disarankan untuk mengambil langkah antisipasi, seperti membuat saluran air sementara di sekitar lahan pertanian untuk mencegah gagal panen akibat genangan air.
Kesimpulan
Peringatan dini cuaca ekstrem yang dikeluarkan BMKG untuk Sulawesi Selatan pada 10 November 2025 adalah sebuah situasi serius yang menuntut kewaspadaan kolektif. Kombinasi faktor alam dan dampak aktivitas manusia meningkatkan potensi risiko banjir dan longsor secara signifikan, khususnya di wilayah Luwu Raya dan sekitarnya. Respons cepat dari pemerintah melalui BPBD menunjukkan adanya kesiapsiagaan, namun partisipasi aktif masyarakat dalam mematuhi imbauan keselamatan menjadi kunci utama untuk meminimalisir dampak buruk. BMKG akan terus memperbarui informasi cuaca setiap tiga jam, dan masyarakat diimbau untuk selalu memantau perkembangan melalui kanal resmi.























