Sebuah laporan investigasi yang dirilis oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengungkap temuan mengejutkan mengenai pola serangan militer Israel di Gaza, yang mengindikasikan adanya penargetan sadar terhadap anak-anak dan bayi. Temuan ini memunculkan dugaan kuat tentang upaya pemusnahan massal yang memerlukan akuntabilitas hukum.
- Investigasi PBB menyoroti pola serangan yang diduga menargetkan bayi dan anak-anak di Gaza.
- Bukti forensik dan medis menunjukkan bayi menjadi sasaran tembak di kepala dan leher.
- Penggunaan drone canggih dan amunisi khusus dilaporkan untuk mengeksekusi serangan ini.
- PBB menolak dalih militer Israel terkait keberadaan Hamas di fasilitas sipil.
- Tindakan ini diduga merupakan bagian dari elemen genosida yang menargetkan kesehatan reproduksi dan pencegahan kelahiran.
Analisis Mendalam PBB: Bayi dan Anak-anak Menjadi Target Khusus dalam Serangan Israel di Gaza
Ketua Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB untuk Wilayah Pendudukan Palestina, Hakim S. Muralidhar, seorang tokoh terkemuka dengan latar belakang hukum yang kuat sebagai mantan hakim agung di India, telah memaparkan bukti-bukti forensik dan medis yang mengerikan. Laporan tersebut, yang dikutip oleh Russia Today, menunjukkan adanya perlakuan brutal terhadap bayi-bayi Palestina. Menurut temuan tersebut, bayi-bayi ini sengaja ditembak di bagian kepala dan leher, sebuah taktik yang dirancang untuk menimbulkan kerusakan maksimal.
Dalam analisisnya, Hakim Muralidhar mengungkapkan bahwa pasukan Israel dilaporkan memanfaatkan drone quadcopter yang dilengkapi dengan teknologi pencitraan termal canggih. Teknologi ini memungkinkan identifikasi target yang jelas, membedakan antara anak-anak dan orang dewasa. Amunisi yang digunakan disebut berupa pelet kubus kecil, yang dilaporkan memiliki efek serupa dengan amunisi klaster, mampu menyebabkan kerusakan internal yang parah pada bayi.
“Ketika Anda menembak kepala bayi berusia 10 hari yang sedang menyusu pada ibunya, Anda sama sekali tidak bisa melabeli bayi tersebut sebagai musuh Negara Israel dan membenarkan serangan semacam ini,” tegas Hakim S. Muralidhar dalam sebuah wawancara eksklusif dengan RT India, menekankan betapa tidak proporsional dan tidak dapat dibenarkan tindakan tersebut.
Pengakuan Mengejutkan dari Tentara Israel dan Penolakan Dalih Militer
Hakim Muralidhar juga membagikan pengakuan yang mengejutkan dari sejumlah tentara Israel yang disiarkan di televisi. Mereka dilaporkan mengakui adanya penargetan terhadap anak-anak menggunakan quadcopter, bahkan menerima pujian dari komandan mereka. “Jadi menjadi sangat jelas… bahwa bayi adalah target spesial,” ujar Muralidhar, yang menunjukkan adanya pola yang disengaja dalam tindakan tersebut.
Lebih lanjut, PBB, melalui pernyataan Hakim Muralidhar, secara tegas menolak argumen yang seringkali diajukan oleh militer Israel. Argumen tersebut, yang menjadikan keberadaan Hamas di rumah sakit dan sekolah sebagai dalih untuk melegitimasi operasi militer mereka, dianggap tidak berdasar. Muralidhar menjelaskan, “Alasan bahwa Hamas mungkin menggunakan rumah sakit dan sekolah sebagai pangkalan untuk melancarkan serangannya tidak akan membenarkan penghancuran total terhadap 97% dari seluruh sekolah di Gaza.” Penekanan pada kehancuran fasilitas pendidikan yang masif ini menyoroti dampak luas yang melampaui klaim keamanan.
Konteks Konflik, Dampak Kemanusiaan, dan Dugaan Genosida
Konflik yang tengah berlangsung di Gaza berakar dari serangan Hamas ke Israel selatan pada 7 Oktober 2023, yang mengakibatkan kematian sekitar 1.200 orang dan penyanderaan lebih dari 250 orang. Sebagai respons, operasi balasan militer Israel telah menimbulkan kehancuran luas di Gaza. Data dari otoritas kesehatan setempat mencatat lebih dari 73.000 warga Palestina tewas dan lebih dari 173.000 lainnya terluka.
Dalam analisisnya yang mendalam, Hakim Muralidhar memaparkan bahwa salah satu elemen genosida yang paling terlihat adalah upaya sistematis untuk mencegah kelahiran anak. Ia mengungkapkan bahwa ibu-ibu hamil dilaporkan menjadi sasaran dan dibiarkan menderita kekurangan gizi. Peralatan medis di rumah sakit dihancurkan sementara pasien masih berada di dalamnya, dan militer Israel dituduh melarang masuknya obat-obatan darurat serta pasokan alat medis baru.
“Jadi seseorang dapat melihat dengan jelas sebuah pola bahwa kesehatan reproduksi sedang ditargetkan. Bayi yang baru lahir ditargetkan,” tegasnya. Ia juga menambahkan bahwa panti asuhan juga menjadi sasaran serangan, yang mengakibatkan lebih dari 58.000 anak menjadi yatim piatu dalam dua tahun terakhir, sebuah statistik yang menggambarkan kedalaman krisis kemanusiaan yang terjadi.
Add wartakita.id as a preferred source on Google























