Makassar, Sulawesi Selatan, kini menjadi sorotan internasional sebagai tuan rumah lokakarya APEC yang didedikasikan untuk meningkatkan kesehatan anak. Acara bergengsi ini mengumpulkan para ahli dan pemangku kepentingan dari seluruh kawasan Asia Pasifik dengan tujuan yang jelas: merumuskan solusi nyata.
Makassar: Pusat Inisiatif Kesehatan Anak APEC
Pemerintah Kota Makassar mengambil inisiatif strategis dengan menjadi tuan rumah lokakarya bertajuk “Managing Child Health for Healthcare Workforce” yang diselenggarakan oleh Asia Pacific Economic Cooperation (APEC). Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini bukan sekadar forum diskusi, melainkan sebuah platform untuk menghasilkan rekomendasi aplikatif yang diharapkan dapat memberikan dampak langsung pada peningkatan kualitas layanan kesehatan anak di kota ini.
Harapan Wali Kota dan Visi APEC
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan harapannya agar lokakarya ini melampaui tataran teoritis. “Kami berharap workshop ini tidak hanya berhenti pada diskusi, tetapi dapat melahirkan rekomendasi yang aplikatif dan berdampak langsung bagi pengembangan layanan kesehatan, khususnya kesehatan anak,” ujar beliau. Harapan ini sejalan dengan visi APEC 2040 dan Rencana Strategis APEC Health Working Group (HWG) 2021–2025, yang memprioritaskan pembangunan sumber daya manusia kesehatan sebagai pilar pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut.
Tantangan Kritis Kesehatan Anak di Kawasan APEC
Wakil Menteri Kesehatan RI, Benyamin Paulus Octavianus, dalam pembukaan lokakarya, menggarisbawahi krusialnya investasi berkelanjutan pada tenaga kesehatan, mengingat kesehatan anak adalah fondasi pengembangan sumber daya manusia masa depan. Ia mengakui bahwa kesehatan anak masih menjadi tantangan signifikan di banyak negara berkembang anggota APEC, termasuk Indonesia.
Kesenjangan Kualitas Layanan Kesehatan Anak
Perbedaan capaian kesehatan anak antarnegara di kawasan APEC masih mengkhawatirkan. Data dari World Population Review menunjukkan jurang pemisah yang lebar dalam Angka Kematian Bayi (AKB) atau Infant Mortality Rate (IMR):
- Negara maju seperti Singapura dan Hong Kong memiliki AKB berkisar 1,5–6,2 per 1.000 kelahiran hidup.
- Indonesia mencatat angka 18,9 per 1.000 kelahiran hidup.
- Papua Nugini menghadapi angka tertinggi, mencapai 32 per 1.000 kelahiran hidup.
Kesenjangan ini tidak hanya memengaruhi kualitas hidup anak-anak secara langsung, tetapi juga berimplikasi besar terhadap pembangunan sosial dan ekonomi jangka panjang di seluruh kawasan Asia Pasifik. Lokakarya di Makassar ini diharapkan menjadi langkah awal yang solid untuk menjembatani kesenjangan tersebut melalui kolaborasi dan rekomendasi yang terarah.























