Pemerintah Kota Makassar mengambil langkah tegas dalam membenahi sistem pengelolaan sampah yang selama ini menjadi tantangan. Komitmen ini bukan sekadar retorika, melainkan upaya transformatif untuk beralih dari pola lama menuju sistem yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.
- Transisi dari open dumping ke sanitary landfill sebagai Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang ideal.
- Fokus pada pemilahan sampah dari sumber (rumah tangga) untuk menekan volume limbah yang dibuang.
- Pemanfaatan teknologi modern seperti Pembangkit Sampah Energi Listrik (PSEL), RDF, gasifikasi, dan pirolisis.
- Penguatan edukasi dan peran aktif masyarakat melalui bank sampah.
Transformasi Menuju Sistem Pengelolaan Sampah Modern
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Makassar, Helmy Budiman, secara lugas menyampaikan perlunya menghentikan praktik open dumping yang dinilai tidak ramah lingkungan. Langkah krusial dalam transformasi ini adalah transisi menuju sistem sanitary landfill. Konsep ini mensyaratkan bahwa hanya residu sampah yang benar-benar tidak dapat diolah lebih lanjut yang akan dibuang ke TPA. Ini berarti, sebelum sampai ke TPA, sampah harus melalui serangkaian proses pengolahan dan pemilahan.
Kunci utama dari keberhasilan sistem sanitary landfill adalah pemilahan sampah yang dimulai dari sumbernya, yaitu di tingkat rumah tangga. Dengan pemilahan yang efektif, volume sampah yang akhirnya mencapai TPA dapat ditekan secara signifikan, menjadikan pengelolaan sampah lebih efisien dan mengurangi beban lingkungan.
Solusi Jangka Panjang dan Peran Teknologi
Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, Pemerintah Kota Makassar tidak hanya mengandalkan pemilahan. Rencana pembangunan fasilitas pengolahan sampah berskala besar, seperti Pembangkit Sampah Energi Listrik (PSEL) di kawasan Tamangapa dengan kapasitas sekitar 1.300 ton per hari, menunjukkan keseriusan dalam mengelola limbah menjadi sumber daya.
Lebih jauh lagi, pemanfaatan teknologi pengolahan sampah seperti Refuse Derived Fuel (RDF), gasifikasi, dan pirolisis terus didorong. Teknologi-teknologi ini memiliki potensi besar untuk mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif atau sumber energi lain, sehingga meningkatkan nilai guna sampah dan efisiensi pengelolaan secara keseluruhan.
Menghadapi Tantangan dan Menggugah Kesadaran Masyarakat
Keberhasilan dalam pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada partisipasi aktif masyarakat. Di beberapa wilayah, seperti Kecamatan Tallo, telah terlihat capaian positif. Integrasi program pengelolaan sampah dengan konsep urban farming berhasil mereduksi sekitar 50 ton dari total 89 ton sampah per hari. Ini menunjukkan bahwa kolaborasi dan inovasi di tingkat lokal dapat memberikan dampak nyata.
Namun, tantangan masih mengemuka. Masih ada persepsi di sebagian masyarakat bahwa pembayaran retribusi sampah sudah cukup sebagai kewajiban, tanpa menyadari pentingnya pemilahan dari sumber. Saat ini, timbulan sampah di Kota Makassar mencapai sekitar 1.034 ton per hari, namun ironisnya, lebih dari 900 ton di antaranya belum terkelola secara optimal. Angka ini menjadi pengingat betapa besar pekerjaan rumah yang masih menanti.
Penguatan Edukasi dan Vitalnya Peran Bank Sampah
Menyadari pentingnya perubahan perilaku, Pemerintah Kota Makassar sedang menyiapkan tenaga edukator persampahan. Mereka akan bertugas melakukan sosialisasi intensif dan mendorong perubahan pola pikir masyarakat secara berkelanjutan. Edukasi ini bukan sekadar memberikan informasi, tetapi juga menanamkan kesadaran akan pentingnya peran individu dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Ketua Dewan Lingkungan Hidup, Melinda Aksa, menekankan vitalnya pengembangan bank sampah. Bank sampah berfungsi sebagai garda terdepan dalam memfasilitasi pemilahan sampah dari rumah tangga. Sistem ini memberikan nilai ekonomis bagi sampah yang dipilah, sekaligus mendorong partisipasi aktif masyarakat. Keterlibatan seluruh elemen, mulai dari tingkat RT/RW hingga pemerintah kota, adalah kunci utama dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan. Dengan target ideal 300 unit bank sampah, pencapaian 100 unit yang aktif beroperasi saat ini menunjukkan bahwa masih ada ruang besar untuk pertumbuhan dan optimalisasi.
Kontributor: MA. Untung
Penyunting: H. Gunadi























