Di tengah lanskap indah Sulawesi Selatan, sebuah sinyal harapan muncul dari Desa Tellumpanua, Kabupaten Barru. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan 78 UIN Alauddin Makassar, bersama semangat juang warga setempat, tak tinggal diam melihat potensi wisata yang terancam terkendala.
- Aksi gotong royong digagas oleh mahasiswa KKN UIN Alauddin Makassar dan warga Desa Tellumpanua, Barru.
- Fokus utama kegiatan adalah perbaikan dan pembersihan akses jalan menuju objek wisata Bukit Paralayang.
- Kondisi jalan yang memprihatinkan menjadi kendala utama pengembangan pariwisata di area tersebut.
- Bukit Paralayang memiliki potensi besar untuk olahraga paralayang dan objek wisata alam lainnya.
- Kurangnya perhatian pemerintah daerah disoroti sebagai hambatan signifikan bagi kemajuan pariwisata lokal.
- Harapan besar disematkan pada kolaborasi ini untuk membangkitkan kembali geliat pariwisata dan mendorong perhatian pemerintah.
Sinergi untuk Mengatasi Kendala Akses Bukit Paralayang
Keterbatasan akses jalan menuju objek wisata Bukit Paralayang di Barru, Sulawesi Selatan, telah lama menjadi momok bagi pengembangan pariwisata daerah. Namun, semangat kolaborasi yang membara antara mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan 78 UIN Alauddin Makassar dari Desa Tellumpanua dan warga setempat membuktikan bahwa kepedulian dapat menjadi motor penggerak perubahan.
Sabtu (18/4/2026) menjadi saksi bisu aksi nyata mereka. Dengan peralatan seadanya namun penuh dedikasi, tim gabungan ini bahu-membahu membersihkan dan memperbaiki titik-titik akses yang rusak. Bukan sekadar program KKN, kegiatan ini adalah cerminan rasa memiliki terhadap potensi alam dan ekonomi yang ada di lingkungan mereka.
Potensi Tersembunyi dan Sejarah Singkat Bukit Paralayang
Bukit Paralayang, yang mulai dikenal sebagai arena menantang bagi para pecinta olahraga dirgantara sejak 2017, menyimpan pesona luar biasa. Kisah awal penemuannya oleh seorang pelatih paralayang dari TNI AU asal Makassar, yang terkesima dengan keindahan dan kontur alamnya, menjadi bukti awal daya tarik kawasan ini.
“Bukit Paralayang terbentuknya tahun 2017. Yang pertama lihat ini bukit itu orang dari Makassar, orang TNI AU, itu pelatih paralayang. Dia tanya-tanya warga di sini bahwa bisakah itu ditempati untuk main paralayang? Dan Alhamdulillah sampai sekarang masih aktif,” ungkap Tahir, salah seorang warga Dusun Maddo yang juga merupakan pegiat paralayang aktif. Keaktifannya dalam komunitas ini memberinya perspektif langsung mengenai potensi dan tantangan yang dihadapi.
Lebih dari sekadar spot paralayang, kawasan ini juga menawarkan keindahan Bukit Maddo dan Bukit Pali-pali yang tak kalah memikat. Selama ini, pengelolaan kawasan wisata ini sepenuhnya ditopang oleh Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Dusun Maddo dan masyarakat sekitar melalui upaya swadaya. Pengalaman saya sendiri saat mengunjungi beberapa destinasi wisata di Sulawesi Selatan, seringkali menemukan bahwa pengelolaan swadaya seperti ini memiliki potensi besar jika mendapatkan dukungan yang memadai.
Sorotan Minimnya Perhatian Pemerintah dan Janji yang Belum Terwujud
Ironisnya, potensi besar yang dimiliki Bukit Paralayang seolah berjalan sendiri tanpa dukungan infrastruktur yang memadai dari pemerintah daerah. Tahir menyuarakan kekecewaannya, “Seandainya ada kerja sama dari pemerintah setempat ya alhamdulillah mungkin bisa berkembang di sini, Kalau kita kendalanya di sini di paralayang, itu akses, akses jalan naik ke paralayang.” Keluhannya ini bukanlah tanpa dasar.
Kondisi jalan yang buruk terbukti meredam antusiasme wisatawan. Padahal, periode 2019-2023 menjadi masa keemasan bagi Bukit Paralayang, ketika pengunjung berdatangan dari berbagai penjuru seperti Makassar, Maros, Pinrang, hingga Toraja, baik untuk rekreasi maupun kegiatan paralayang profesional. Bahkan, kunjungan Bupati Barru pada periode tersebut, Suwardi Saleh, yang menyertai janji perbaikan akses jalan, kini hanya tinggal kenangan yang belum terealisasi.
Harapan Baru untuk Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan
Aksi gotong royong yang diprakarsai oleh mahasiswa KKN UIN Alauddin Makassar dan warga Desa Tellumpanua ini menjadi secercah harapan baru. Ini bukan hanya sekadar perbaikan fisik, tetapi juga sebuah pesan kuat tentang keseriusan masyarakat dalam mengembangkan pariwisata lokal.
“Harapan saya itu pemerintah di sini harus diperhatikan itu wilayahnya. Apa, misalnya di Maddo ini kan tempat wisatanya ini menonjol, jadi harapan saya itu kita harus kembangkan itu wisatanya,” ujar Tahir, menegaskan aspirasinya.
Koordinator Desa KKN UIN Alauddin Makassar Desa Tellumpanua, Fasly Ramdhani, turut menggarisbawahi esensi kolaborasi ini. “Bisa kita lihat sinergitas mahasiswa KKN dan warga sekitar semangat dan sangat peduli, oleh karena itu peran pemerintah penting untuk lebih andil dalam pengelolaan pariwisata,” tegasnya. Peran aktif pemerintah dalam memberikan dukungan infrastruktur, promosi, dan kebijakan yang berpihak sangat krusial untuk membuka potensi penuh Bukit Paralayang dan menjadikan Barru destinasi pariwisata yang lebih kompetitif di kancah nasional maupun internasional.
Kontributor: A. Untung
Penyunting: Budi Saktia























