Di meja kerja saya, beberapa jam sebelum hilal resmi diumumkan, tumpukan pekerjaan masih berserakan. Sejak kemarin, di luar, di jalanan kota Makassar—atau kota mana pun saat ini—banyak yang sedang sibuk berakrobat dengan persiapan menyambut Ramadan 2026. Ada suara sirine, denting notifikasi diskon sirup di ponsel, obrolan tentang harga beras yang mendaki, dan marbot-marbot masjid sibuk membenahi masjid agar siap menampung lonjakan jemaah selama bulan puasa.
Semua sedang bersiap, tapi benarkah kita sedang bersiap?
Seringkali, kita memasuki Ramadan seperti seorang turis yang terburu-buru masuk ke gerbong kereta. Kita tahu tujuannya adalah “Lebaran”, tapi kita lupa memeriksa peta di tangan. Kita memulai hari pertama dengan sebuah kalimat pendek yang diulang-ulang di musala atau di dalam hati setelah sahur: Nawaitu shauma ghadin… Saya berniat puasa esok hari.
Namun, mari kita jujur sejenak. Berapa banyak dari kita yang memperlakukan “niat” hanya sebagai tombol ‘on’ pada mesin? Sekadar prasyarat agar lapar kita dianggap sah, bukan dianggap sia-sia.
Bagi saya, makna niat puasa adalah sesuatu yang lebih megah dari itu.
Membangun Arsitektur Jiwa
Niat adalah sebuah titik hilang tempat semua garis-garis proyeksi yang membentuk sebuah perspektif utuh berasal.
Bayangkan kita sedang membangun sebuah rumah untuk menyambut tamu yang sangat dicintai. Tidak akan sekadar meletakkan batu bata secara acak. Kita akan memikirkan di mana cahaya matahari masuk, di mana sudut paling sunyi untuk bercakap-cakap, dan aroma kopi apa yang akan menyambutnya di pintu. Niat adalah desain awal dari jiwa kita sebelum tamu agung itu—kesadaran akan Tuhan—datang bertamu.
Dalam sebuah hadis yang sering kita dengar, Rasulullah SAW menyebutkan ada dua kegembiraan bagi orang yang berpuasa: saat berbuka puasa dan saat bertemu Tuhannya.
Selama bertahun-tahun, saya melihat kedua hal itu sebagai dua peristiwa yang terpisah jauh oleh jarak waktu dan dimensi—satu terjadi di meja makan pukul enam sore, satu lagi terjadi di keabadian setelah mati. Tapi tahun ini, saya ingin mengajak melihatnya dengan cara berbeda.
Bagaimana jika kegembiraan saat meneguk air di waktu Magrib ternyata adalah gladi bersih dari kegembiraan bertemu Tuhan?
Merindu Secara Presisi
Puasa yang benar adalah sebuah latihan merindu secara presisi. Kita sengaja mengosongkan perut agar kita menyadari bahwa ada “lapar” yang lain di dalam diri kita yang tidak bisa dikenyangkan oleh nasi atau es buah. Lapar itu adalah spiritualitas puasa; kerinduan untuk kembali ke asal, kerinduan untuk melampaui tubuh fisik kita yang rapuh.
Maka, di Hari ke-1 ini, mari kita tidak hanya berniat untuk “tidak makan dan minum”. Itu terlalu sederhana bagi makhluk semulia manusia.
Mari kita bangun arsitektur niat yang lebih dalam: Saya berniat untuk merindu. Saya berniat untuk merasakan setiap detik rasa haus ini sebagai bukti bahwa saya sedang berjalan pulang.
Niat di hari pertama ini adalah tentang menetapkan frekuensi. Jika esai Ramadan ini adalah sebuah lagu, maka niat adalah nada dasarnya. Jika Anda memulai dengan nada yang salah—niat yang sekadar formalitas—maka sisa hari-hari ke depan hanya akan menjadi melodi kelelahan yang hambar. Seperti semua perbuatan, semua akan berakhir di niat awal.
Namun, jika Anda memulai dengan kesadaran bahwa setiap detik rasa lapar adalah detak jantung kerinduan kepada Sang Pencipta, maka setiap sore saat bedug bertalu, Anda tidak sekadar “berbuka”. Anda sedang mengalami sebuah “perjumpaan kecil”.
Selamat datang di ruang tunggu yang suci ini. Mari, bersama belajar merindu kembali.























