Pekan pertama Ramadan kita habiskan untuk melihat ke dalam. Kita belajar mengecilkan ego, menghuni waktu, menjaga kejujuran di ruang-ruang yang tidak ada saksinya. Lalu kemarin, sambil berpuasa, kita mulai melihat ke luar—memeriksa lidah dan keberanian kita untuk mengatakan yang benar meskipun berduri.
Hari ini, masih ke luar, saya ingin berbagi sesuatu yang lebih personal. Sebuah refleksi dari dalam sistem itu sendiri—rangkuman diskusi-diskusi ringan dengan beberapa profesi yang dianggap penting oleh negara: dari pemuka agama, petinggi kepolisian, militer, jaksa, hingga wakil rakyat.
Belasan tahun silam, beberapa kali kami dipertemukan di restoran yang sama. Berbekal karung-karung kegelisahan masing-masing, jadilah semacam klub diskusi informal—“Grumpy Club”, klub diskusi para penggerutu.
Kami berbuka puasa bersama beberapa kali di sana. Dan saya kira, tanpa kami sadari, itu adalah salah satu Ramadan yang paling jujur dalam hidup saya—karena lapar kami bukan hanya soal perut, tapi soal sistem yang kami lihat runtuh dari dalam.
***
Bayangkan Anda duduk di kursi empuk di kantor ber-AC, dengan tanda jabatan yang membuat orang menaruh hormat. Di atas meja Anda menumpuk berkas-berkas yang di dalamnya terdapat nasib ribuan orang. Tapi bagi sebagian besar penghuni gedung-gedung tinggi itu, berkas tersebut bukan berisi manusia—ia hanyalah angka statistik yang perlu diolah demi target laporan dan indeks KIP.
Selama bertahun-tahun, saya hidup dalam sebuah pasar yang riuh—bukan pasar tradisional yang menjajakan sayuran, melainkan pasar hukum. Di sini, pasal-pasal memiliki label harga. Ada harga berupa materi, ada pula mata uang yang lebih licin: barter kasus, barter jatah, barter loyalitas politik.
Seorang kenalan lama, seorang petinggi yang akhirnya memilih pensiun dini, pernah berbisik sebelum ia tiada: “Saya tidak sanggup lagi melihat kebenaran dikemas dalam plastik kiloan, lalu ditimbang dengan koin emas.”
Ucapannya seketika membuat klub diskusi kami hening.
“Bapak tidak salah jika memilih mundur dengan pensiun dini,” ucap seorang kawan berhati-hati, menunggu mantan petinggi kenalan kami selesai menyeruput minumannya. Ia seorang perintis gerakan dakwah tablig, yang pernah dipenjara oleh ayahnya sendiri—seorang jaksa—di zaman orde baru, ketika semua gerakan dengan mudah diberi label kanan atau kiri.
“Setidaknya Bapak sudah berusaha mengubahnya. Mundur adalah pilihan sehat sebelum Bapak yang diubah sistem. Dan sedihnya, itu terjadi di hampir semua lini, termasuk keagamaan.”
“Negeri ini gamang berkepanjangan,” jawab sang petinggi, setelah diam cukup lama. “Para pendiri bangsa nekad memproklamirkan negara republik, negara kesatuan, sementara mental kita masih feodal—lengkap dengan mindset kasta di semua bidang dan profesi. Founding father optimistis bahwa mindset kita akan mengikuti visi mereka yang jauh ke depan. Nyatanya tidak.
Nota dinas dan katabelece yang saya terima dari banyak kasus menunjukkan itu. Kepala dinas punya anak dan istri. Kapolres, Dandim, Bupati, Rektor, Gubernur, anggota dewan sampai presiden. Hampir semua jabatan dipandang memiliki kerabat biologis—kita belum mampu memisahkan antara jabatan dan manusia yang sedang menjabat. Jabatan masih dianggap kelas atau kasta, bukan fungsi dan tanggung jawab. Karena itu, selain pasal, jabatan dan status juga ada pasarnya, ada harganya.”
Di Jakarta, sebatang pena bisa dengan mudah mencairkan dana miliaran. Di tempat-tempat yang jauh, pena yang sama terasa sangat berat hanya untuk sekadar memberikan hak pendidikan bagi anak-anak miskin. Inilah patologi birokrasi kita: sangat presisi dalam melakukan kesalahan, sangat efisien dalam menciptakan ketimpangan.
Bagi birokrasi, satu anak yang mati kelaparan hanyalah pengurangan angka desimal. Bagi ibu sang anak, itu adalah kiamat.
***
Saya melihat sesuatu yang ganjil namun indah dari balik jendela kantor saya—yang akan segera saya tinggalkan begitu pensiun dini saya disetujui.
Ramadan adalah momen di mana rakyat memutuskan untuk berhenti berharap terlalu banyak pada pena dan meja-meja kekuasaan, dan mulai menolong sesamanya sendiri. Dapur rakyat dinyalakan secara mandiri. Tetangga berbagi takjil tanpa menunggu instruksi dinas sosial. Mereka yang punya kelebihan diam-diam membayarkan utang warung mereka yang kekurangan—tanpa dokumentasi, tanpa validasi, tanpa anggaran yang perlu dipertanggungjawabkan ke atasan.
Inilah puasa yang paling murni: memberi tanpa menunggu siapa pun mengizinkan.
Dan gerakan sederhana ini, tanpa mereka sadari, adalah cermin yang sedang disodorkan tepat ke wajah kami para pengambil kebijakan.
Setiap bungkus nasi yang Anda berikan tanpa pamrih adalah tamparan bagi kami yang sering baru bergerak jika ada anggarannya. Setiap kedermawanan anonim di gang-gang sempit adalah kritik pedas bagi hukum yang punya pasar dan punya pembeli.
Puasa saya hari ini terasa berat bukan karena haus. Tapi karena malu.
Malu karena rakyat telah menjadi pelindung bagi sesamanya melalui solidaritas yang tulus, sementara sistem yang seharusnya melayani mereka sibuk berdagang.
Mungkin inilah perjumpaan yang sesungguhnya di bulan suci ini—bukan di atas sajadah yang eksklusif, melainkan di persimpangan antara nurani dan realitas. Bahwa jika negara gagal menjadi pelindung, solidaritas rakyat adalah benteng terakhir. Dan benteng itu, ternyata, tidak pernah benar-benar runtuh.
Hari ini, jika Anda memberi bantuan kepada sesama, ketahuilah bahwa Anda tidak hanya sedang mengejar pahala. Anda sedang menyalakan cahaya yang memaksa kami, para penghuni gedung tinggi, untuk menatap kembali bayangan retak di cermin kami sendiri.
Selamat menolong. Selamat memberikan refleksi.
























