Saya tidak menyangka akan merasa seperti ini.
Dua puluh tujuh hari lalu, saya menghitung hari-hari puasa yang masih tersisa dengan perasaan yang jujurnya campur aduk—semangat, tapi juga sedikit berat membayangkan perjalanan panjang di depan.
Kini, dengan hanya beberapa hari tersisa, saya justru menghitung ke arah yang berlawanan. Dan ada sesuatu di dada yang tidak sepenuhnya bisa saya namai.
Bukan kesedihan biasa.
Secara logika, seharusnya kita bersorak. Tenggorokan tidak akan lagi terasa seperti gurun. Meja makan akan kembali riuh di siang hari. Beban itu akan diangkat.
Tapi mengapa justru ada air mata yang jatuh?
Saya pikir—dan ini baru saya sadari benar-benar malam ini—kita menangis bukan karena tidak puas beribadah. Kita menangis karena kita baru menyadari betapa buruknya kita sebagai tuan rumah.
Ramadan datang sebagai tamu. Tapi ia tidak meminta dilayani. Ia justru yang datang membawa oleh-oleh—pengampunan, ketenangan, kejernihan yang tidak bisa kita beli sendiri.
Ia masuk ke rumah kita yang berantakan oleh ambisi dan keserakahan dan dosa-dosa yang kita normalisasi, lalu ia menyapu lantainya, membersihkan jendelanya, menyalakan lampu di sudut-sudut yang sudah lama gelap.
Sang Tamu yang memuliakan tuan rumah. Bukan sebaliknya.
Di antara semua oleh-oleh yang ia bawa, ada satu yang paling misterius dan paling dicari: malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Lailatulkadar.
Kita sudah membicarakannya—tentang malam-malam ganjil, tentang peluang yang menjadi dua kali lipat karena perbedaan hisab dan rukyat, tentang embun di ujung daun yang enggan jatuh hingga matahari terbit. Tapi di malam ke-27 ini, saya ingin melihatnya dari sudut yang berbeda.
Lailatulkadar bukan hanya tentang mendapatkan malam yang tepat. Ia tentang menjadi orang yang layak menerimanya—orang yang sudah cukup dikosongkan oleh lapar, cukup digosok oleh muhasabah, cukup dilembutkan oleh perjumpaan dengan wajah-wajah asing dan guru honorer dan percakapan yang jujur. Orang yang tidak lagi datang dengan daftar permintaan, tapi dengan tangan yang terbuka.
Dapat atau tidak, dengan tanda alam atau tanpa tanda—mereka yang benar-benar bertemu dengan malam itu tidak pulang dengan piala. Mereka pulang dengan ketenangan. Ketenangan orang yang sudah berhenti berdebat dengan takdirnya sendiri.
Dan sekarang Sang Tamu sudah berdiri di ambang pintu. Sudah mengenakan sepatunya.
Saya teringat perjalanan dua puluh tujuh hari ini—warung sari laut di kota kecil yang asing, guru honorer yang menunggu azan dengan wajah tenang, percakapan dengan anak yang belum lahir di tahun 2009, loket zakat dan kalkulator yang dibuka tutup berkali-kali.
Semua itu terjadi karena ada tamu di rumah yang memaksa saya untuk tidak bisa berpura-pura seperti biasa.
Tanpa “gangguan” fisik dari puasa, saya tahu saya berisiko kembali menjadi manusia mekanis. Kembali menjadi tuhan kecil yang merasa memiliki segalanya. Kembali sibuk dengan gawai dan pasar dan margin keuntungan—tanpa ada lapar yang mengetuk pintu dan mengingatkan saya bahwa saya hanya manusia.
Itulah yang saya takutkan kehilangan. Bukan puasanya.
Tapi mungkin itulah justru pesan terakhir Sang Tamu sebelum ia menghilang di balik tikungan waktu:
“Aku pergi agar kau bisa mempraktikkan apa yang telah kuajarkan. Kemuliaan yang kuberikan padamu, jangan lepaskan bersama perpisahan ini.”
Malam ini, biarkan air mata itu mengalir jika ia mau mengalir. Biarkan ia menjadi bilasan terakhir bagi sisa-sisa kotoran di pakaian jiwa yang sudah kita cuci bersama selama dua puluh tujuh hari ini.
Jika Anda merasa rindu, itu tanda bahwa Anda sudah benar-benar bertemu. Jika Anda merasa kehilangan, itu tanda bahwa Sang Tamu berhasil meninggalkan jejak di hati Anda—dan jejak itu tidak ikut pergi bersamanya.
Yang kita anggap beban selama ini, ternyata adalah sayap.
Selamat bersiap berpisah dengan Sang Tamu yang Agung. Semoga kita adalah tuan rumah yang layak untuk dirindukan kembali olehnya di tahun depan.























