Harga emas dan perak mengalami penurunan signifikan ke level terendah mingguan, dipicu oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi dan meredam prospek penurunan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
- Emas dunia anjlok 3,13% pada Kamis (12 Februari 2026), mencapai US$4.919,69 per troy ons, terendah dalam sepekan.
- Perak juga terpukul keras, turun 10,55% ke US$75,16 per troy ons pada hari yang sama.
- Data ketenagakerjaan AS yang kuat memperkuat pandangan The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
- Investor kini menantikan data inflasi AS untuk petunjuk lebih lanjut mengenai kebijakan moneter bank sentral.
Emas dan Perak Terpuruk Akibat Data Ketenagakerjaan AS
Harga emas dunia dilaporkan mengalami pelemahan tajam, anjlok sebesar 3,13% pada perdagangan Kamis, 12 Februari 2026, ditutup pada level US$4.919,69 per troy ons. Angka ini menandai titik terendah emas dalam sepekan terakhir, menjauhkannya dari ambang psikologis US$5.000 per troy ons. Memasuki perdagangan Jumat, 13 Februari 2026, hingga pukul 06.45 WIB, harga emas di pasar spot terpantau kembali melemah tipis 0,20% ke posisi US$4.909,99 per troy ons.
Pelemahan drastis harga emas pada hari Kamis dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang menunjukkan kekuatan signifikan. Data tersebut berhasil meredam ekspektasi pasar mengenai potensi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat. Penembusan level US$5.000 per troy ons yang krusial semakin memperdalam kerugian akibat meningkatnya tekanan jual.
Fawad Razaqzada, analis pasar di City Index dan FOREX.com, menjelaskan bahwa volatilitas tinggi yang terjadi sebelumnya telah mendorong banyak investor untuk menempatkan perintah jual otomatis (*stop loss*) di bawah level US$5.000 atau di atas US$5.100 per troy ons. “Karena pergerakan harga ke bawah, *stop loss* tersebut telah terpicu di bawah level US$5.000 per troy ons, dan itu menyebabkan efek berantai, membuat harga anjlok dalam waktu singkat,” ungkap Razaqzada.
Data Ketenagakerjaan AS Menjadi Pemicu Utama
Data yang dirilis pada hari Rabu menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja Amerika Serikat memulai tahun 2026 dengan kinerja yang lebih baik dari perkiraan awal. Hal ini secara signifikan memperkuat pandangan bahwa para pembuat kebijakan moneter di AS mungkin akan mempertahankan suku bunga acuannya pada level tinggi untuk periode waktu yang lebih lama.
Secara rinci, data menunjukkan bahwa jumlah pekerjaan di sektor non-pertanian meningkat sebanyak 130.000 pada bulan Januari 2026, sebuah angka yang lebih baik dibandingkan revisi penurunan 48.000 pada bulan Desember 2025. Sementara itu, tingkat pengangguran dilaporkan sedikit mengalami penurunan menjadi 4,3%.
Selain itu, data klaim pengangguran awal juga melaporkan penurunan menjadi 227.000 pada minggu yang berakhir 7 Februari 2026, menurut data yang dirilis pada hari Kamis. Kondisi pasar tenaga kerja yang tangguh ini semakin memperkuat keyakinan The Fed terhadap fundamental perekonomian AS. Hal ini memberikan ruang bagi para pembuat kebijakan untuk mempertahankan suku bunga tinggi guna memastikan bahwa inflasi terus berada dalam tren penurunan. Emas batangan, sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (*non-yielding*), secara inheren cenderung tertekan oleh kebijakan suku bunga tinggi.
Investor Menanti Data Inflasi
Saat ini, perhatian investor tertuju pada data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan akan dirilis pada hari Jumat. Data ini diharapkan dapat memberikan petunjuk lebih lanjut yang krusial mengenai arah kebijakan moneter The Fed ke depan.
Peter Grant, wakil presiden dan ahli strategi logam senior di Zaner Metals, memperkirakan bahwa inflasi utama akan mengalami perlambatan, bergerak dari 2,7% menjadi 2,5%, bahkan mungkin menyentuh angka serendah 2,4%. “Hal itu dapat menghidupkan kembali beberapa spekulasi mengenai penurunan suku bunga dan kemungkinan akan menguntungkan pergerakan harga emas,” ucap Grant.
Perak Ikut Terpukul
Tidak hanya emas, harga perak juga dilaporkan mengalami penurunan tajam yang signifikan, bahkan menghapus seluruh penguatan yang sempat terjadi pada sesi perdagangan sebelumnya. Pada penutupan perdagangan Kamis, 12 Februari 2026, harga perak (XAG) di pasar spot anjlok 10,55% ke level US$75,16 per troy ons. Penurunan ini merupakan yang terburuk dalam sepekan terakhir.
Hingga Jumat, 13 Februari 2026, pukul 06.45 WIB, harga perak di pasar spot masih tercatat mengalami pelemahan lanjutan sebesar 0,84% di level US$74,54 per troy ons.























